Showing posts with label Mitos. Show all posts
Showing posts with label Mitos. Show all posts

Tuesday, 7 September 2010

Kisah Walisongo dalam Ilmu Modern

Dalam budaya Jawa, bahkan didalam Studi Sejarah di Indonesia, khususnya tentang Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, dalam hal ini Jawa, maka tidak terpisahkan tentang kisah Walisongo. Walisongo merupakan salah satu penyebar dan pengembang agama Islam di Jawa. Bila dalam film dan  "folklore" (cerita rakyat), seringkali digambarkan dengan berbagai macam kesaktian dan unsur mistis yang kuat. Unsur mistis yang kuat nampaknya tidak bisa dipisahkan dari alam pemikiran masyarakat masa lalu yang memang kental dengan suasana rohani yang kuat, disamping masih terbawa budaya masa sebelumnya.


Seiring dengan perkembangan zaman, maka hendaknya dalam memunculkan kisah Walisongo ke bentuk film atau pun lainnya sebaiknya diikuti dengan logika-logika penalaran dan hasil penelitian ilmiah. Hal ini penting karena, generasi muda sekarang berpikir lebih kritis, sehingga diharapkan film atau pun kisah lainnya tentang Walisongo bukan dianggap sebagai alat penghibur saja, melainkan mendapatkan nilai-nilai ilmiah yang dapat dimengerti secara logis empiris. Selama ini yang dimunculkan dalam kisah Walisongo, yang di film kan atau karya yang lain,  (sepertinya) hanya didasarkan pada folklore (cerita rakyat)  semata.


Kesimpulan ini saya ambil setelah melihat berbagai versi film atau karya lain tentang Walisongo. Berikut adegan yang terasa "agak" janggal :




  1. Terjadi pertemuan antar anggota Walisongo dalam satu waktu dan tempat. Padahal dari anggota Walisongo ke-1 hingga ke-9, tidak hidup dalam satu masa, hanya beberapa yang hidup dalam satu masa.

  2. Penggunaan semacam alat (tasbih, dsb)  yang kemudian menjadi "semacam pusaka". Hal ini sangat bertentangan dengan Islam, sehingga tidak mungkin mereka mengingkari ajaran yang mereka sebarkan sendiri.

  3. Penggunaan semacam "magic" dalam menampilkan sesuatu. Misalnya dalam pembangunan sesuatu.Alangkah baiknya bila ditelaah dengan keilmuan modern, karena Islam tidak pernah bertentangan dengan ilmu ilmiah modern.

  4. Cerita yang sepertinya melebih-lebihkan, dapat membahayakan karena dianggap sakti sehingga dikhawatirkan muncul semacam kultus.


Berdasarkan kesimpulan tersebut, saya jadi sedikit membandingkan dengan kisah dalam Pararaton (Katutunira Ken Arok). Kisah tersebut memang mengandung kebenaran, namun unsur mistis dan hal diluar logika sangat kental. Hanya saja bila diteliti lebih lanjut maka akan tersusun suatu kisah sejarah yang bila di hadapkan dengan bukti sejarah lainnya (di "cross chek") maka ada kebenarannya.


Berangkat dari hal tersebut, agaknya sangat bagus untuk menampilkan kisah Walisongo yang sudah disesuaikan dengan penelitian ilmiah. Saya kira banyak peneliti, baik dari Indonesia maupun luar negeri, yang meneliti perkembangan Islam, termasuk tentang aspek Kesejarahan Walisongo. Saya salut dengan penelitian (alm) Slamet Muljana tentang Walisongo. Beliau berani mengangkat tentang peran etnis Tionghoa dan campuran Tionghoa-Jawa dalam Walisongo, yang mungkin bila diangkat kedalam film atau pun karya yang lain, akan membuat kehebohan (tentang hal ini perlu penelitian lebih lanjut). Meskipun ada juga pendapat lain dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa Babad atau Epos yang banyak sekali uraian di luar akal sehat seharusnya dilihat sebagai "lambang atau perlambang", sehingga dapat dilihat dengan jelas ada apa dibalik pengisahan yang demikian itu. Hal ini mengingat orang Jawa sangat kental dengan "lambang atau simbol" tertentu. Didalam kehidupan orang Jawa, tidak pernah lepas dari "simbol" yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adalah hal-hal tertentu yang dianggap tabu (Jawa = ora ilok, tidak boleh ; Sunda = pamali) tetapi tetap harus disampaikan meskipun dengan "simbol atau lambang" tertentu. Kiranya sumber sejarah (baik Babad, Epos, atau Hikayat) yang dipakai dalam karya sejarah atau film berlatar sejarah lebih baik bila sudah diteliti secara kritis terlebih dahulu, mengingat pemakaian "simbol atau lambang" oleh orang Jawa masa lalu, bahkan sampai sekarang, kadang menyesatkan jika hanya diterima secara mentah-mentah.


Selanjutnya, penggunaan unsur "magic" dalam adegan film atau karya lain, lebih baik dikurangi atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan sesuatu yang masuk akal. Misalnya, pembuatan Masjid Agung Demak, dengan "soko tatal", harusnya disesuaikan dengan budaya maritim Indonesia, bahwa tiang kapal dengan menggunakan kayu kecil yang disatukan lebih kuat dari kayu utuh. Apabila dilihat dari "simbol atau lambang" yang dimaksud diatas, kiranya  bisa diinterpretasikan sebagai simbol persatuan dimasa awal-awal Islam atau juga sebagai upaya gotong royong dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian diharapkan kisah Walisongo akan diterima bukan hanya sebagai cerita rakyat semata, tetapi terbukti dalam segi ilmiah.


Semoga dapat menambah informasi bagi semua. Amien


 


 

Saturday, 9 January 2010

Candi Gunung Wukir



Candi Gunung Wukir merupakan candi tempat ditemukan prasasti tertua yang ditemukan di Jawa dan menyebutkan tentang pulau Jawa (Yawadwipa). Prasati tersebut dikeluarkan oleh raja Sanjaya yang memerintah di Mataram Kuno. Prasasti yang dimaksud adalah Prasasti Canggal.
Candi tersebut merupakan tempat pemujaan Siwa, terlihat adanya Yoni yang berukuran besar yang berada ditengah ruang utama (perkiraan karena candi sudah rusak) yang didepannya masih terdapat arca Nandi yang merupakan kendaraan Siwa.
Lokasi candi berada di puncak sebuah bukit, didaerah Salam, Magelang-Jateng. Pada saat penulis berkunjung kesana, jalan menuju candi masih berupa jalan setapak, dan dikelilingi perkebunan yang cukup lebat dan masih banyak terdapat hewan liar (kera).


Sunday, 12 July 2009

Tokoh Sejarah



Tokoh dalam sejarah, entah itu sebagai tokoh utama atau hanya sekilas sangatlah penting untuk kelanjutan sejarah dikemudian hari. Hal ini dapat dilihat dalam tokoh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Sebagian besar khalayak ramai mengatakan bahwa beliau adalah tokoh sentral dalam peristiwa tersebut, meski secara bukti empiris belum dapat ditampilkan. Menurut pendapat saya, baik Sri Sultan Hamengkubuwono IX maupun Jendral Soeharto (waktu itu masih Letkol) sama-sama memiliki peran penting. Disatu pihak berperan dalam ide sedang yang lain berperan dalam komando lapangan.
Kemudian lebih jauh lagi, tentang penokohan Ken Arok, yang dianggap kontroversial, jika kita hanya berpedoman pada kitab Pararaton saja, karena dalam kitab tersebut menyatakan bahwa Ken Arok adalah anak dewa Brahma. Kita sebagai manusia modern, menurut versi kita (karena dimasa depan kita hanyalah manusia masa lalu), akan mengatakan itu hanya dongeng belaka, padahal dimasa itu, yang ada hanyalah manusia yang berpikir secara keagamaan dan memiliki sifat tertutup yang tinggi terhadap hal-hal yang dianggap tabu, apalagi menyangkut tentang tokoh besar. Jika kita arif dan bijaksana serta memiliki rasa nasionalisme, maka kita akan berpikir bahwa Ken Arok memang nyata ada yang menjadi raja, hanya saja berasal dari golongan rakyat biasa, dimana masa itu yang dipandang hanyalah kaum bangsawan atau yang berhubungan langsung dengan istana (raja), sehingga perlu dicari "pembenaran" tentang sahnya Ken Arok menjadi raja, maka diambillah keturunan "Dewa Brahma". Pertanyaan pun muncul, kenapa yang dipakai untuk mensahkan dari "dewa" bukannya "dewi"?jangan lupa, kultur Jawa adalah patrimonial atau garis ayah/laki-laki.Sifat patrimonial ini sampai sekarang masih terasa jelas.Orang Jawa akan sangat merasa bangga jika mendapatkan keturunan laki-laki, begitu pula dalam hal waris, "wong lanang sepikulan, wong wadon segendhongan", yang berarti anak lelaki akan mendapat bagian dua kali lebih banyak daripada wanita.

Demikian semoga berguna bagi siapa saja...........

Dwi Hatmoko, S.Pd

Disqus Shortname

Comments system