Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts

Thursday, 6 October 2016

Sadar Informasi demi Kemajuan

 

Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda tetap satu jua, merupakan semboyan Indonesia yang memiliki beribu-ribu pulau dengan beragam budaya. Keanekaragaman yang ada merupakan kekayaan tak ternilai. Aset yang demikian berharga sudah seharusnya dijaga dan dikembangkan sebagai modal pembangunan. Salah satu sarana dan prasarana untuk membangun bangsa yang bermodalkan budaya adalah Teknologi Informasi.


Teknologi Informasi dapat mendekatkan berbagai suku bangsa sehingga diharapkan dapat terjadi saling pengertian yang berujung pada persatuan dan kesatuan yang kokoh. Persatuan dan kesatuan juga dapat terjalin antara pemerintah dan rakyat melalui Teknologi Informasi. Transparansi dan akuntabilitas kebijakan pemerintah dapat segera diketahui oleh segenap rakyat. Teknologi informasi pula dapat dijadikan sebagai media promosi perencanaan pembangunan, proses pembangunan, dan kemajuan pembangunan yang telah dicapai.


dsc04630


Teknologi Informasi yang semakin maju juga menuntut kemajuan bangsa dalam menyaring segala informasi. Era keterbukaan informasi yang ada perlu diimbangi dengan peran pemerintah dalam membimbing rakyat untuk memilah dan memilih informasi. Hal itu salah satu cara mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejuta domain yang diberikan pemerintah adalah salah satu cara pemerintah agar rakyat semakin mengenal teknologi informasi. Teknologi informasi yang ada benar-benar digunakan untuk tujuan pembangunan. Apresiasi pemerintah juga diberikan kepada daerah yang memiliki akses teknologi informasi terbaik, salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi.


Perhatian pemerintah pada teknologi informasi sudah seharusnya diimbangi oleh segenap elemen bangsa untuk semakin mengenalkan budaya Indonesia pada dunia. Berbagai hasil budaya seperti kerajinan, kesenian, dan pesona wisata budaya yang lain merupakan bahan promosi wisata. Promosi wisata dapat dilakukan secara sederhana melalui teknologi informasi. Media sosial, web, blog, dan berbagai akses melalui teknologi informasi dapat digunakan.


Tak dapat dipungkiri kemajuan teknologi informasi dapat digunakan sebagai sarana pembangunan Indonesia. Namun semua itu tergantung pada manusia yang menggunakannya. Man behind the gun. Kemajuan teknologi informasi dapat juga dijadikan sarana penghancuran suatu bangsa. Berbagai berita negatif, provokasi yang bersifat merusak, dan lainnya dapat tersebar dengan cepat melalui teknologi informasi. Maka dari itu, sudah seharusnya kita dan pemerintah bersinergi untuk menyebarluaskan sadar informasi. Sadar akan ada informasi, sada akan akan crosschek informasi, sadar akan kebenaran informasi, dan sadar untuk menyebarluaskan informasi.


Mari gunakan kemajuan teknologi informasi secara bijak demi pembangunan, persatuan dan kesatuan, serta memperkenalkan Indonesia pada dunia.


Thursday, 14 April 2016

Ayo Jalan-jalan ke Flores


Flores merupakan pulau yang secara administratif masuk wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur.  Flores terbagi menjadi 8 (delapan) kabupaten yaitu Manggarai Barat dengan ibukota Labuan Bajo, Manggarai dengan ibukota Ruteng, Manggarai Timur dengan ibukota Borong, Ngada dengan ibukota Bajawa, Nagekeo dengan ibukota Mbay, Ende dengan ibukota Ende, Sikka dengan ibukota Maumere, Flores Timur dengan ibukota Larantuka. dan kabupaten Lembata dengan ibukota Lewoleba. Flores memiliki destinasi wisata yang luar biasa menarik dan merata baik secara jenis wisata maupun secara daerah. Wisata religi, wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata kuliner terdapat dihampir semua daerah. Persyaratan pariwisata yang berupa something to see (sesuatu yang dilihat), something to do (sesuatu yang dapat dilakukan), dan something to buy(sesuatu yang dapat dibeli) terpenuhi pada semua destinasi.

Monday, 23 November 2015

Dwarapala Singosari

Arca dwarapala yang cukup besar berada tidak jauh dari candi Singosari. Penulis, dan banyak pihak, menginterpretasikan bahwa arca dwarapala tersebut merupakan pintu gerbang menuju kraton Singosari. Penafsiran tersebut wajar karena menuju suatu istana/pusat pemerintahan tentu dibuat semegah mungkin.


[gallery ids="703,704" type="rectangular"]

Candi Singosari

Candi yang terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, ini merupakan candi Hindu dengan badan candi berada di bagian kaki candi.


[gallery ids="691,692,693,694,695,696" type="rectangular"]

Thursday, 19 November 2015

Candi Sumur

Berlokasi di tempat yang tidak jauh dari Candi Pari (hanya sekitar 50 m, masih didesa yang sama). Bagian-bagian candi masih tampak meskipun banyak kerusakan dan bagian yang hilang. Nama Sumur berasal dari sumuran yang ada diruang utama candi. Pendirian candi sumur diperkirakan sejaman dengan Candi Pari.Ragam hias yang ada hampir tidak ada.


[gallery ids="682,683,684,685" type="rectangular"]

Wednesday, 18 November 2015

Candi Pari

Candi yang berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur ini bernafaskan agama Hindu. Candi Pari diperkirakan berasal dari masa Majapahit, melihat struktur batu bata sebagai bahan pembuat candi dan angka diatas pintu gerbang ruang utama 1293 saka (ditambah 78 tahun sehingga diperoleh 1371 M). Nama candi Pari diambil dari nama tempat candi tersebut berada.

Patirtan Watugede

Satekanira Ken Dedes ring Tumapel rinowang sapaturon denira Tunggul ametung, tan sipi sihira Tunggul ametung, wahu ngidam sira ken Dedes, dadi sira Tunggul ametung akasukan, acangkrama somahan maring taman Boboji, sira Ken Dedes anunggang gilingan. Satekanira ring taman sira Ken Dedes tumurun saking padati, katuwon pagawening widhi, kengis wetisira, kengkab tekeng rahasyanira, neher katon murub denira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal, pituwi dening hayunira anulus, tan hanamadani ring listu-hayunira, kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahanira (Pararaton).

Friday, 13 November 2015

Candi Kidal

Anusapati dhinarma ring Kidal


Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi yang dalam  Pararaton disebutkan sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati sebenarnya merupakan kompleks percandian, namun kini yang tertinggal hanya candi utama saja. Candi utama yang ada juga dengan ruang utama yang kosong tanpa arca perwujudan. Perlu diketahui, sejak masa Singosari, raja yang meninggal dibuatkan arca dengan disesuaikan agama saat raja yang hidup. Arca yang dibuat selain sesuai dengan atribut agama/dewa yang dianut, juga disesuaikan dengan wajah yang bersangkutan. Disamping itu, relief yang tergambar pada candi menggambarkan profil raja, namun disesuaikan dengan cerita yang ada dalam ajaran agama.

Candi Jawi (Jajawa)

Sang Bhatara Civa Budha dhinarma ring Jajawa



Candi Jawi terletak di kaki G. Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Candi yang berada ditepi jalan menuju Tretes dari Pasuruan, memiliki suasana sejuk, khas pegunungan. Akses transportasi cukup mudah. Candi yang berlatar Hindu Siwa dan Budha, terlihat jelas di puncak yang berbentuk stupa (lambang Budha) dan ruang utama yang bersisi yoni (seharusnya dilengkapi lingga sebagai lambang Siwa.

Candi Gunung Gangsir

Candi Gunung Gangsir berlokasi di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. candi ini  berada ditengah pemukiman warga, agak susah mencarinya jika tidak disertai dengan tanya sana-tanya sini.Hehehe. Maklum papan petunjuk minimalis.

Tuesday, 10 November 2015

Candi (Patirtan) Belahan dan Filosofinya

Lokasi Candi Belahan

Candi Belahan sebenarnya merupakan patirtan, tempat pemandian, yang berada di lereng gunung Penanggungan. Secara administratif Candi Belahan berada di dusun Belahan, desa Wonosonyo, kecamatan Gempol, kabupaten Pasuruan. Candi yang berada di lereng sebelah timur Gunung Penanggungan menawarkan kesejukan udara yang mengobati kepenatan selama perjalanan menuju candi tersebut. Lokasi patirtan cukup terjal. Jalan yang ada sudah beraspal dengan kanan kiri berupa jurang mengharuskan pengunjung untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam mengendarai kendaraan yang digunakannya. Disamping kesejukan udara, Patirtan Belahan juga menyediakan pemandangan cukup indah khas pegunungan, ditambah dengan kesegaran air dari patirtan.


Jalan dengan jurang di kanan kiriJalan dengan jurang dikanan-kiri


Wednesday, 22 January 2014

Sungai Brantas dari Masa ke Masa (Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)

Sungai Brantas dari Masa ke Masa


(Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)


Disusun oleh Dwi Hatmoko


Gambaran Umum

Sungai Brantas adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu dan bermuara di propinsi yang sama ini melewati beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Pekerjaan Umum didapatkan bahwa Sungai Brantas secara total memiliki panjang 12.000 km2 dengan anak sungai sebanyak 485 buah (www.pu.go.id/satminkal). Aliran Sungai Brantas melintasi 9 yaitu kabupaten Malang, Blitas, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Sidoarjo, sedangkan kota ada 6 yaitu Surabaya, Batu, Mojokerto, Kediri, Blitar, dan Malang. Begitu panjang dan besarnya Sungai Brantas ternyata memberi dampak bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di DAS Brantas. Sungai Brantas begitu berperan bagi masyarakat dari masa ke masa.




  • Masa Pra Kolonial Barat


Catatan paling tua mengenai sungai Brantas adalah Prasasti Harinjing (921 M). Prasasti dimasa Mpu Sindok ini menerangkan bahwa ada perbaikan “dawuhan” yang telah dibuat dari masa sebelumnya (804 M). Prasasti Harinjing ditemukan di hulu Sungai Konto (anak Sungai Brantas).

Sunday, 8 January 2012

Penghargaan bagi anak negeri

Sesuai dengan judulnya, sebenarnya hal ini merupakan masukan (kalau nggak mau dibilang kritik) bagi pihak-pihak yang memiliki power dalam menentukan kebijakan dinegeri ini. Jujur sebagai seorang yang berprofesi sebagai pendidik sekaligus penyemangat generasi muda untuk selalu berkarya, pasti akan terbentur bila muncul pertanyaan, "kenapa mereka yang berprestasi ada hidupnya merana/susah ?". Tentunya sebagai pendidik dan motivator bagi anak ddiknya harus bisa memberi jawaban yang memuaskan dan tetap mampu menyalakan api semangat mereka.

Thursday, 27 October 2011

Sumpah Pemuda yang hilang semangatnya

Saya yakin sumpah pemuda siapapun yang mengaku bangsa Indonesia pasti tahu, namun bila ditanya apa isinya (meskipun hanya inti saja), tentu belum semua tau. Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928, disaat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, memiliki 3 makna persatuan, yaitu persatuan tanah air, satu suku bangsa, dan bahasa. Bila direfleksikan dengan keadaan sekarang ini, masihkah 3 makna tersebut masih dipegang dan diamalkan oleh Pemuda Indonesia, pada khususnya, dan seluruh bangsa Indonesia (termasuk rakyat-pemimpin), pada umumnya.

Saturday, 22 October 2011

Lomba Blog bukan sekedar Lomba

Judul diatas sebenarnya bisa saja berlaku untuk semua perlombaan. Adapun arti bukan sekedar lomba, maksudnya adalah bahwasanya memang benar dalam perlombaan iklim kompetisi sangat terasa, tetapi hendaknya hal tersebut tidak mengurangi "acara" silaturahim dan saling mengenal diantara peserta lomba. Lebih jauh lagi, "sharing" alias berbagi dengan sesama peserta,  yang kemudian dapat dilanjutkan dengan membentuk suatu komunitas.

Saturday, 30 July 2011

Keceriaan anak-anak

Kemarin, saya merasakan ada hal lain saat saya berada di tempat kerja, tempat saya berbagi pengetahuan.  Hal tersebut adalah saat saya melihat keceriaan yang ditunjukkan anak-anak didik, seolah mereka begitu menikmati kegiatan yang mereka jalani saat itu. Begitu lepas, bebas, dan tanpa beban. Persoalan yang mereka hadapi (bila ada) Sungguh bahagia melihat hal tersebut. Hati saya bergetar menyaksikan keadaan itu. Pada dasarnya anak-anak adalah lembaran putih, kitalah (para orang dewasa) yang memberi warna pada mereka. Warna pelangi, warna kusam, atau pun warna cerah dan gelap, kesemuanya para orang dewasa yang membentuknya.


Anak-anak yang nakal, bolos sekolah, dan lain sebagainya, hakikatnya bukan karena mereka saja, namun lingkungan disekitar mereka (masyarakat, keluarga, sekolah, media, dan lainnya) yang membentuk mereka menjadi seperti itu. Bila dirunut, anak-anak "bermasalah" seringkali memiliki latar belakang keluarga, teman sepermainan, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan bermain, yang tidak memberi perhatian yang cukup tepat baginya. Namun demikian seiring dengan perkembangan sekolah, kiranya anak-anak (menurut anggapan penulis) sudah cukup mampu membedakan benar dan salah. Akan tetapi mereka belum mampu menolak secara tegas suatu ajakan yang negatif. Disinilah peran setiap orang dewasa, siapapun mereka, untuk tetap menjaga anak-anak agar tetap berada dalam jalur yang semestinya. Di tangan anak-anak itulah masa depan bangsa ini akan dibawa.


Dari keceriaan mereka inilah menyebar energi positif, yang menyebabkan siapapun yang berhubungan dengan mereka akan terbawa energi positif tersebut. Suatu contoh nyata adalah para guru, pengasuh anak, dan lainnya, mereka bila dilihat selalu menyiratkan wajah yang segar, ceria, cerah, dan terkesan awet muda. Hal ini tentunya bila semua dilakukan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridho-Nya dan fokus pada kemajuan anak itu sendiri.


Monday, 9 May 2011

Siapkah menjadi orang tua?

Beberapa hari terakhir ini saya dicemaskan dengan kesehatan anak saya. Perubahan cuaca yang ekstrim tetapi tidak diikuti dengan ketahanan tubuh, benar-benar membuat tubuh cepat merasakan efeknya, yaitu sakit. Bila anak sakit kecemasan muncul, maklum anak kecil belum bisa mengatakan bagian mana saja yang sakit, ditambah dengan susahnya minum obat. Kejadian yang berturut-turut saya rasakan, karena saya baru pulih dari sakit, anak sudah menyusul sakit. Memang perlu kesabaran ekstra dalam merawat. Disinilah saya merasa, Allah masih menyayangi keluarga saya, karena saya yakin ujian datang karena Dia sayang kepada kita dan akan meningkatkan derajat kita (entah dengan mengampuni dosa dan salah kita ataukah yang lainnya, itukan rahasia-Nya). Syukur terus dipanjatkan kepada-Nya, karena saya sudah dipercaya-Nya menjadi orang tua dan dipercaya untuk menjaga amanah-Nya berupa anak keturunan.


Dalam diam saya merenung, untuk menjadi orang tua itu tidak mudah, karena banyak kriteria yang (menurut saya) saya belum kuasai sepenuhnya (atau memang tidak akan bisa dikuasai sepenuhnya, hanya bisa ditingkatkan kualitasnya?) diantaranya :




  1. Sikap saya terhadap orang tua/orang yang dituakan : sudahkah menghormatinya, mendoakannya, patuh dan taat, kasih sayang, sabar dan lain sebagainya.

  2. Sikap saya terhadap yang lebih muda : menyayanginya, menjadi tauladan yang baik, membimbing, mendoakan, dan lainnya.

  3. Sikap terhadap lingkungan sosial sekitar : simpati dan empati, kepekaan sosial, menjaga kerukunan

  4. Sikap terhadap sesama mahluk ciptaan-Nya

  5. Sikap kepada Allah : kewajiban dan larangan untuk dijalankan sepenuh hati

  6. Membersihkan rejeki, hati, dan sikap dari yang buruk dan tidak halal.


Ternyata saya belum ada apa-apanya.........masih jauh dari baik. Semoga Allah terus mengampuni dosa dan menerima ibadah saya serta menjadikan diri saya dan keluarga menjadi lebih baik lagi. Amien


Manusia memang biasanya ingat pada yang menciptakannya saat dia mendapat kesusahan atau dilanda kecemasan. Ampuni ya Allah.

Wednesday, 13 April 2011

Transparansi di Indonesia

Kata TRANSPARAN setelah era Orde Baru menjadi hal yang sering dibicarakan dan sering diungkit-ungkit (apa lagi jika menyangkut dana). Dewasa ini segala aspek kehidupan dituntut akan adanya transparansi. Namun agaknya transparansi di Indonesia agak berbeda dibandingkan dengan di luar negeri. Transparansi di Indonesia yang membuat berbeda dengan dan Luar negeri antara lain :




  • Transparansi Korupsi


Indonesia benar-benar hebat dalam hal korupsi. Bagaimana tidak, korupsi dilakukan secara transparan (atau malah terang-terangan?) dan bersama pula (gila!!).




  • Tranparansi Kegiatan


Kegiatan apapun dilakukan secara transparan, baik penyimpangan atau pun tidak.....hahahahha.  Kujungan kerja, studi banding, perlombaan , atau apapun bentuknya juga transparan. Hal ini mengingatkan saya akan keluhan beberapa teman, mereka mengeluh tentang tranparansi dalam lomba (maksudnya tranparan sekali akan kecurangannya).




  • Transparansi Mode Pakaian


Nah....ini yang juga banyak dilakukan di Indonesia. Pakaian transparan juga, bahkan diminati dan ditampilkan di televisi. Para "public figure" mengenakannya, dengan dalih mode dan hak asasi manusia. Waduh. Membingungkan ternyata. Seharusnya yang jadi "figure" mereka yang baik, istilahnya yang terkenal dan yang tercemar semakin tipis batasnya, karena sama-sama populer. Artis yang tersangkut kriminal akan semakin terkenal, karena kontroversinya. Istilahnya semakin kontroversial maka semakin populer.


Indonesia......Indonesia......tanah airku....berjayalah selamanya meskipun dengan berbagi kekurangan. Mereka yang menjadi "leader" jadilah panutan (padahal setiap manusia adalah "leader" karena pasti ada pihak lain yang mencontohnya) yang benar-benar patut dianut.

Thursday, 25 November 2010

Babad Tanah Jawi (Jawa) dan Kontroversi tentangnya

Babad Tanah Jawi merupakan suatu karya sejarah yang ditulis diabad 18. Terdapat dua versi Babad Tanah Jawa, yaitu versi yang ditulis Carik Braja atas perintah "tuannya", yaitu Sunan Pakubuwono III, dan versi yang lain yaitu dari Pangeran Adilangu II. Terlepas dari perbedaan diantara keduanya, saya hanya ingin menyoroti berbagai kontroversi yang melingkupi penafsiran tentang babad tersebut. Adapun kontroversi yang saya ulas antara lain :




  • Saratnya unsur mistis Babad Tanah Jawi (hal diluar akal)


Generasi pada masa kini bila membaca Babad Tanah Jawi (Jawa) tentunya akan bertanya tentang keaslian isinya, bahkan yang lebih ekstrim lagi menganggapnya hanya sebuah karangan fiksi di masa itu. Keadaan ini dapat terus terjadi jika tidak ada hasil penelitian tentang latar belakang sosial kemasyarakatan masa itu termasuk pula dalam bidang religi dan kepercayaan.  Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dengan unsur mistis/gaib, bahkan agama yang ada dimasa sekarang ini pun mengakui tentang hal gaib.


Begitu pula masyarakat Jawa, dari masa dulu hingga sekarang masih percaya tentang hal gaib, karena memang begitu pula yang diajarkan baik dalam filosofi budayanya maupun agama yang dianutnya. Sehingga jika dalam Babad Tanah Jawi (Jawa) dimuat berbagai hal yang sifatnya gaib/mistis maka haruslah dilihat sebagai deskripsi/gambaran masyarakat masa itu yang begitu kuat dalam hal kepercayaan. Disamping sebagai penggambaran tentang kuatnya kepercayaan yang dianut, sebaiknya juga dilihat sebagai upaya "simbolisasi" tentang kejadian nyata yang (mungkin) tabu untuk diceritakan secara utuh, mengingat filosofi Jawa "mikul duwur mendhem jero". Artinya, kebenaran memang haruslah ditegakkan tetapi jangan sampai merendahkan orang salah yang dimaksud, walaupun dalam kenyataan bisa dibalik pemaknaannya. Dibalik pemaknaannya berarti benar-benar menjatuhkan, bila tidak pintar memaknainya. Sama seperti didalam bahasa Indonesia, dikenal adanya majas, baik yang berupa hiperbola, ironi, sinisme, ameliorasi, maupun peyorasi, begitu pula didalam Babad Tanah Jawi. Jadi untuk memahaminya perlu mencari  makna sesungguhnya dari "simbol" yang berupa kejadian diluar akal manusia tersebut dengan kejadian yang mungkin terjadi atau bahkan kejadian sebaliknya dari kejadian tersebut.




  • Geneokologi Raja Mataram yang begitu lengkap (diawali dari nabi Adam A.s )


Daftar silsilah raja Mataram yang dimuat dalam amatlah lengkap, diawali dari Nabi Adam A.s, kemudian mencapai garis keturunan Pandawa, sampai dengan kepada raja Mataram sendiri. Geneokologi yang begitu "menakjubkan" (bagi saya mendekati mustahil) hanya akan menampilkan sesuatu yang hendak disembunyikan (atau hendak ditutup-tutupi?). Pemunculan daftar silsilah, sering dimaksudkan sebagai legitimasi akan sesuatu. Legitimasi ini dimaksudkan agar rakyat yang diperintah merasa percaya bahwa raja yang ada adalah sah, dimata hukum manusia dan hukum Yang Maha Kuasa.


Beberapa raja yang sengaja menampilkan daftar silsilah biasanya bukan penguasa sah yang sengaja mencari pengesahan atas dirinya sendiri. Raja-raja tersebut diantaranya Sri Maharaja Dyah Balitung (raja Mataram Kuno yang ternyata menjadi raja dari hasil perkawinan), Balaputradewa (raja Sriwijaya yang menghubungkan dengan Dinasti Syailendra yang waktu itu merupakan penguasa nusantara), dan masih banyak lagi. Hal ini sengaja dilakukan agar tidak ada pemberontakan dikemudian hari yang disebabkan adanya "perasaan tidak sah menjadi raja" diantara pengikut dan rakyatnya. Hal ini terjadi saat adanya "pemberontakan" Trunojoyo kepada Mataram, yang menyebutkan bahwa pendiri Mataram hanyalah keturunan petani (jika ini benar maka makna "panembahan kuwi dudu ratu nanging kuasane koyo ratu" agaknya mendekati kebenaran).




  • Pencitraan buruk terhadap proses Islamisasi (khususnya era Demak)


Dalam Babad Tanah Jawi (Jawa) era Demak dicitrakan begitu jelek. Dalam diri saya bertanya, ada apa dibalik semua itu. Ternyata bila ditelusur lebih jauh, dimasa Mataram muncul ketakutan akan kembalinya hegemoni kekuatan maritim nusantara dibawah Demak, yang memang merupakan garis sah kekuasaan jika dilihat dari hierarki Majapahit. Untuk meredam "new emerging force" maka perlu pencitraan jelek (bahasa sekarang ini adalah kampanye hitam alias "black campaign") disamping penyiapan secara militer. Pencitraan jelek yang ada antara lain durhakanya pendiri Demak karena menyerang ayahnya sendiri, padahal kenyataannya Demak berusaha mengamankan haknya karena sesuai dengan hasil musyawarah Dewan Sapta Prabu karena kekosongan kekuasaan dan usaha kudeta oleh Girindrawardhana. Sisi pengamanan hak ini sengaja tidak diungkapkan oleh Babad Tanah Jawi (Jawa) karena akan mengurangi (atau bahkan menghilangkan) legitimasinya. Dimasa Demak juga masih menganut sistem pemerintahan Majapahit meskipun dengan citarasa Islam. Penggunaan sistem Majapahit ini selain untuk memperkuat legitimasinya juga untuk menjaga keutuhan wilayah yang diwarisi dari Majapahit, berupa sistem federal dan lain sebagainya. Dibuktikan bila Majapahit menggunakan Dewan Sapta Prabu sebagai Dewan Penasihat Raja, maka dimasa Demak, Dewan Penasihat Raja diwakili oleh Dewan Wali. Kontras sekali dengan keadaan Mataram yang menunjukkan "estat is moi" karena tanpa adanya Dewan Pertimbangan/dewan penasihat, karena begitu besarnya kekuasaan panembahan.

Tuesday, 2 November 2010

Bersikap Lokal Berwawasan Global

Bersikap lokal berwawasan global agaknya harus benar-benar diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Dalam artian bukan hanya diatas kertas dalam bentuk KTSP, namun berusaha mengangkat potensi yang ada di dalam diri siswa. Penulis teringat akan semboyan Ki Hajar Dewantara, "ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Bila diterapkan benar, Insya Allah, siswa dapat berhasil dalam hidup, karena ukuran kepuasan dalam diri seorang pendidik adalah bila melihat siswa didiknya berhasil dalam hidupnya kelak. Praktisnya setiap pendidik haruslah mampu menggali kemauan, kemampuan, dan ketekunan dari peserta didiknya.


Apabila dihubungkan dengan sikap lokal wawasan global maka akan diperoleh peserta didik yang tidak hanya memegang teguh nilai-nilai tradisi tetapi tidak akan ketinggalan dalam modernisasi. Modernisasi yang merupakan transformasi ke arah kemajuan diharapkan dapat diterapkan dengan nuansa lokal. Keadaan tersebut merupakan senjata dalam menyaring budaya asing yang masuk secara terbuka akibat globalisasi. Misalnya, ada seorang anak yang memiliki hobi memelihara burung, maka diarahkan untuk tidak hanya memelihara tetapi untuk menangkarkannya sehingga memiliki nilai lebih dan mendorongnya untuk belajar lebih banyak lagi tentang hobinya tersebut, baik dari media cetak maupun dari internet atau bahkan lebih jauh lagi mendorong munculnya komunitas pecinta burung di internet. Contoh lain adalah anak yang begitu hobi dengan situs jejaring sosial, dapat diarahkan untuk menampilkan hasil karyanya di jejaring sosial tersebut, sehingga diharapkan dia mendapatkan sisi positif dari kegiatannya itu. Hasil karya yang berupa benda maupun seni (misalnya musik, suara, maupun nyanyi).


Menampilkan hasil karya di media internet merupakan usaha mempromosikan ke dunia luar seiring dengan globalisasi yang tidak mungkin untuk dihindari. Globalisasi merupakan sesuatu hal yang pasti, tinggal kita dalam menyikapi dan memanfaatkannya. Sikap lokal yang arif tetapi berwawasan global diharapkan membawa kemajuan dan memberi bekal kepada anak didik dikemudian hari. Majulah anak-anak bangsa, raih sukses di berbagai bidang. Amien


 

Disqus Shortname

Comments system