Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Thursday, 15 September 2016

Wisata Keren di Jawa Tengah

 

candi-borobudur-1


Kegiatan wisata merupakan bukan lagi menjadi gaya hidup, tetapi suatu kebutuhan hidup. Wisatawan, orang yang melakukan wisata, dapat memetik berbagai manfaat dari berwisata. Manfaat berwisata diantaranya adalah mendapatkan kesegaran dalam pemikiran akibat stress pekerjaan, menambah wawasan, menambah ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Ketercapaian manfaat yang maksimal juga didukung oleh tempat wisata yang akan dituju. Pemilihan tempat wisata yang mencakup 3 S (something to do, something to see, and something to buy) akan menghasilkan kemanfaatan yang besar.


Jawa tengah dengan berbagai potensi wisata menawarkan berbagai tempat wisata keren, menyenangkan, nyaman, dan tak terlupakan. Wisata sejarah, wisata alam, wisata pendidikan, wisata kuliner, sampai dengan wisata budaya dan wisata petualangan tersajikan secara komplit.


Wisata sejarah

Tempat wisata sejarah di Jawa tengah yang berkategori sejarah mencakup dari masa prasejarah sampai dengan masa kemerdekaan. Peninggalan punden berundak masa megalitikum hingga perbentengan masa kolonial. Punden berundak, menhir, dan dolmen bahkan perbagai sisa “industri” perhiasan batu masa purba ada Purbalingga.


Pamujan 1
Menhir di Dukuh Pamujan-Purbalingga

Sumber: https://cahyanitarahardjo.wordpress.com/2013/07/02/tempat-pemujaan-di-situs-pamujan/


Monday, 23 November 2015

Dwarapala Singosari

Arca dwarapala yang cukup besar berada tidak jauh dari candi Singosari. Penulis, dan banyak pihak, menginterpretasikan bahwa arca dwarapala tersebut merupakan pintu gerbang menuju kraton Singosari. Penafsiran tersebut wajar karena menuju suatu istana/pusat pemerintahan tentu dibuat semegah mungkin.


[gallery ids="703,704" type="rectangular"]

Candi Singosari

Candi yang terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, ini merupakan candi Hindu dengan badan candi berada di bagian kaki candi.


[gallery ids="691,692,693,694,695,696" type="rectangular"]

Thursday, 19 November 2015

Candi Sumur

Berlokasi di tempat yang tidak jauh dari Candi Pari (hanya sekitar 50 m, masih didesa yang sama). Bagian-bagian candi masih tampak meskipun banyak kerusakan dan bagian yang hilang. Nama Sumur berasal dari sumuran yang ada diruang utama candi. Pendirian candi sumur diperkirakan sejaman dengan Candi Pari.Ragam hias yang ada hampir tidak ada.


[gallery ids="682,683,684,685" type="rectangular"]

Wednesday, 18 November 2015

Candi Pari

Candi yang berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur ini bernafaskan agama Hindu. Candi Pari diperkirakan berasal dari masa Majapahit, melihat struktur batu bata sebagai bahan pembuat candi dan angka diatas pintu gerbang ruang utama 1293 saka (ditambah 78 tahun sehingga diperoleh 1371 M). Nama candi Pari diambil dari nama tempat candi tersebut berada.

Patirtan Watugede

Satekanira Ken Dedes ring Tumapel rinowang sapaturon denira Tunggul ametung, tan sipi sihira Tunggul ametung, wahu ngidam sira ken Dedes, dadi sira Tunggul ametung akasukan, acangkrama somahan maring taman Boboji, sira Ken Dedes anunggang gilingan. Satekanira ring taman sira Ken Dedes tumurun saking padati, katuwon pagawening widhi, kengis wetisira, kengkab tekeng rahasyanira, neher katon murub denira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal, pituwi dening hayunira anulus, tan hanamadani ring listu-hayunira, kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahanira (Pararaton).

Friday, 13 November 2015

Candi Gunung Gangsir

Candi Gunung Gangsir berlokasi di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. candi ini  berada ditengah pemukiman warga, agak susah mencarinya jika tidak disertai dengan tanya sana-tanya sini.Hehehe. Maklum papan petunjuk minimalis.

Tuesday, 10 November 2015

Candi (Patirtan) Belahan dan Filosofinya

Lokasi Candi Belahan

Candi Belahan sebenarnya merupakan patirtan, tempat pemandian, yang berada di lereng gunung Penanggungan. Secara administratif Candi Belahan berada di dusun Belahan, desa Wonosonyo, kecamatan Gempol, kabupaten Pasuruan. Candi yang berada di lereng sebelah timur Gunung Penanggungan menawarkan kesejukan udara yang mengobati kepenatan selama perjalanan menuju candi tersebut. Lokasi patirtan cukup terjal. Jalan yang ada sudah beraspal dengan kanan kiri berupa jurang mengharuskan pengunjung untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam mengendarai kendaraan yang digunakannya. Disamping kesejukan udara, Patirtan Belahan juga menyediakan pemandangan cukup indah khas pegunungan, ditambah dengan kesegaran air dari patirtan.


Jalan dengan jurang di kanan kiriJalan dengan jurang dikanan-kiri


Wednesday, 22 January 2014

Sungai Brantas dari Masa ke Masa (Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)

Sungai Brantas dari Masa ke Masa


(Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)


Disusun oleh Dwi Hatmoko


Gambaran Umum

Sungai Brantas adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu dan bermuara di propinsi yang sama ini melewati beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Pekerjaan Umum didapatkan bahwa Sungai Brantas secara total memiliki panjang 12.000 km2 dengan anak sungai sebanyak 485 buah (www.pu.go.id/satminkal). Aliran Sungai Brantas melintasi 9 yaitu kabupaten Malang, Blitas, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Sidoarjo, sedangkan kota ada 6 yaitu Surabaya, Batu, Mojokerto, Kediri, Blitar, dan Malang. Begitu panjang dan besarnya Sungai Brantas ternyata memberi dampak bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di DAS Brantas. Sungai Brantas begitu berperan bagi masyarakat dari masa ke masa.




  • Masa Pra Kolonial Barat


Catatan paling tua mengenai sungai Brantas adalah Prasasti Harinjing (921 M). Prasasti dimasa Mpu Sindok ini menerangkan bahwa ada perbaikan “dawuhan” yang telah dibuat dari masa sebelumnya (804 M). Prasasti Harinjing ditemukan di hulu Sungai Konto (anak Sungai Brantas).

Tuesday, 2 November 2010

Kalikajar Pusat Duku di Purbalingga

Desa Kalikajar yang berada di bagian tenggara Purbalingga merupakan profil sebuah desa kecil yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Desa yang berada di kecamatan Kaligondang ini berbatasan dengan desa Penaruban, desa Kembaran Wetan, Desa Slinga, dan Desa Sempor, bagi masyarakat Purbalingga dikenal dengan produksi buah Duku nya yang manis. Kualitas duku yang cukup bagus menjadikan pohon duku merupakan aset berharga bagi warga desa tersebut, dengan kualitas yang bagus tersebut itulah membuat harga duku asli Kalikajar lebih tinggi dari duku yang lainnya. Ibarat kata, jalan atau bangunan di desa tersebut mengikuti pohon duku yang ada, karena ada perasaan "sayang atau eman-eman" bila harus menebang pohon duku, meskipun untuk "menunggu" pohon duku berbuah dibutuhkan waktu yang cukup lama (walau berasal dari cangkok).


Penulis membuktikan memang benar duku asli dari Kalikajar berbeda dengan duku dari daerah lain. Istilahnya serupa tapi tak sama. Berikut ciri-ciri dari duku asli Kalikajar :




  1. Kulit lunak, bila dipijit mudah, karena kulitnya tipis

  2. Isi buah bening, tidak keruh seperti susu

  3. Rasa manis


Pasar "dadakan" atau "tiban" disepanjang jalan Purbalingga-Pengadegan via Kalikajar selalu ada bila musim buah duku. Hal ini terjadi jika produksi buah Duku sedang melimpah. Namun apabila produksi tidak begitu banyak, misalnya karena curah hujan yang tinggi sehingga merontokkan bakal buah, maka pasar "tiban" tidak ada, jikalaupun ada hanya sedikit pedagang yang berjualan dan juga tidak lama usia pasar "tiban" tersebut (paling-paling tidak lebih dari 3 bulan). Disamping susahnya suplai buah duku, juga dikarenakan banyak buah duku Kalikajar yang dikirim ke luar kota.


Selamat mencoba kemanisan duku asli Kalikajar.

Tuesday, 7 September 2010

Kisah Walisongo dalam Ilmu Modern

Dalam budaya Jawa, bahkan didalam Studi Sejarah di Indonesia, khususnya tentang Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, dalam hal ini Jawa, maka tidak terpisahkan tentang kisah Walisongo. Walisongo merupakan salah satu penyebar dan pengembang agama Islam di Jawa. Bila dalam film dan  "folklore" (cerita rakyat), seringkali digambarkan dengan berbagai macam kesaktian dan unsur mistis yang kuat. Unsur mistis yang kuat nampaknya tidak bisa dipisahkan dari alam pemikiran masyarakat masa lalu yang memang kental dengan suasana rohani yang kuat, disamping masih terbawa budaya masa sebelumnya.


Seiring dengan perkembangan zaman, maka hendaknya dalam memunculkan kisah Walisongo ke bentuk film atau pun lainnya sebaiknya diikuti dengan logika-logika penalaran dan hasil penelitian ilmiah. Hal ini penting karena, generasi muda sekarang berpikir lebih kritis, sehingga diharapkan film atau pun kisah lainnya tentang Walisongo bukan dianggap sebagai alat penghibur saja, melainkan mendapatkan nilai-nilai ilmiah yang dapat dimengerti secara logis empiris. Selama ini yang dimunculkan dalam kisah Walisongo, yang di film kan atau karya yang lain,  (sepertinya) hanya didasarkan pada folklore (cerita rakyat)  semata.


Kesimpulan ini saya ambil setelah melihat berbagai versi film atau karya lain tentang Walisongo. Berikut adegan yang terasa "agak" janggal :




  1. Terjadi pertemuan antar anggota Walisongo dalam satu waktu dan tempat. Padahal dari anggota Walisongo ke-1 hingga ke-9, tidak hidup dalam satu masa, hanya beberapa yang hidup dalam satu masa.

  2. Penggunaan semacam alat (tasbih, dsb)  yang kemudian menjadi "semacam pusaka". Hal ini sangat bertentangan dengan Islam, sehingga tidak mungkin mereka mengingkari ajaran yang mereka sebarkan sendiri.

  3. Penggunaan semacam "magic" dalam menampilkan sesuatu. Misalnya dalam pembangunan sesuatu.Alangkah baiknya bila ditelaah dengan keilmuan modern, karena Islam tidak pernah bertentangan dengan ilmu ilmiah modern.

  4. Cerita yang sepertinya melebih-lebihkan, dapat membahayakan karena dianggap sakti sehingga dikhawatirkan muncul semacam kultus.


Berdasarkan kesimpulan tersebut, saya jadi sedikit membandingkan dengan kisah dalam Pararaton (Katutunira Ken Arok). Kisah tersebut memang mengandung kebenaran, namun unsur mistis dan hal diluar logika sangat kental. Hanya saja bila diteliti lebih lanjut maka akan tersusun suatu kisah sejarah yang bila di hadapkan dengan bukti sejarah lainnya (di "cross chek") maka ada kebenarannya.


Berangkat dari hal tersebut, agaknya sangat bagus untuk menampilkan kisah Walisongo yang sudah disesuaikan dengan penelitian ilmiah. Saya kira banyak peneliti, baik dari Indonesia maupun luar negeri, yang meneliti perkembangan Islam, termasuk tentang aspek Kesejarahan Walisongo. Saya salut dengan penelitian (alm) Slamet Muljana tentang Walisongo. Beliau berani mengangkat tentang peran etnis Tionghoa dan campuran Tionghoa-Jawa dalam Walisongo, yang mungkin bila diangkat kedalam film atau pun karya yang lain, akan membuat kehebohan (tentang hal ini perlu penelitian lebih lanjut). Meskipun ada juga pendapat lain dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa Babad atau Epos yang banyak sekali uraian di luar akal sehat seharusnya dilihat sebagai "lambang atau perlambang", sehingga dapat dilihat dengan jelas ada apa dibalik pengisahan yang demikian itu. Hal ini mengingat orang Jawa sangat kental dengan "lambang atau simbol" tertentu. Didalam kehidupan orang Jawa, tidak pernah lepas dari "simbol" yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adalah hal-hal tertentu yang dianggap tabu (Jawa = ora ilok, tidak boleh ; Sunda = pamali) tetapi tetap harus disampaikan meskipun dengan "simbol atau lambang" tertentu. Kiranya sumber sejarah (baik Babad, Epos, atau Hikayat) yang dipakai dalam karya sejarah atau film berlatar sejarah lebih baik bila sudah diteliti secara kritis terlebih dahulu, mengingat pemakaian "simbol atau lambang" oleh orang Jawa masa lalu, bahkan sampai sekarang, kadang menyesatkan jika hanya diterima secara mentah-mentah.


Selanjutnya, penggunaan unsur "magic" dalam adegan film atau karya lain, lebih baik dikurangi atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan sesuatu yang masuk akal. Misalnya, pembuatan Masjid Agung Demak, dengan "soko tatal", harusnya disesuaikan dengan budaya maritim Indonesia, bahwa tiang kapal dengan menggunakan kayu kecil yang disatukan lebih kuat dari kayu utuh. Apabila dilihat dari "simbol atau lambang" yang dimaksud diatas, kiranya  bisa diinterpretasikan sebagai simbol persatuan dimasa awal-awal Islam atau juga sebagai upaya gotong royong dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian diharapkan kisah Walisongo akan diterima bukan hanya sebagai cerita rakyat semata, tetapi terbukti dalam segi ilmiah.


Semoga dapat menambah informasi bagi semua. Amien


 


 

Wednesday, 21 April 2010

Pasar “Badog” pusat makanan tradisional

Pasar “Badog” itulah nama sebuah pasar yang ada di sudut kota Purbalingga. Penyebutan nama “Badog” sebenarnya hanya istilah yang diberikan oleh para pembeli yang sebagian besar merupakan pembeli yang sekedar mampir, meskipun juga banyak juga pembeli tetap. Pasar ini bernama asli Pasar Bancar, karena berada diwilayah kelurahan Bancar, merupakan pasar tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga.


Adapun pemberian nama “Badog” oleh para pembeli, bahkan sekarang lebih terkenal nama “Badog” daripada nama aslinya, berasal dari banyaknya makanan kecil yang dijajakan. Sebagian besar makanan yang dijajakan merupakan makanan tradisional yang enak, bergizi, murah, dan beraneka ragam. Kata “Badog” tersebut berasal dari bahasa Jawa Banyumasan, meskipun sebenarnya agak kasar, bila menganut hierarki bahasa Jawa.


Jika ditilik dari arti , “Badog” memiliki arti makanan atau makan (“mbadog” = makan). Pasar yang merupakan jenis pasar harian ini, artinya setiap hari ada kegiatan jual beli, akan semakin ramai pada hari minggu. Pada hari minggu sebagian besar warga yang melakukan kegiatan olah raga pagi sering menyempatkan diri untuk mampir di pasar “Badog” untuk membeli makanan selepas melakukan aktifitas olah raga. Meskipun demikian tidak sedikit juga para pembeli yang memang sengaja datang dari rumah untuk sekedar jalan-jalan melihat keramaian pasar sambil mencari makanan kecil yang diinginkan.


Keramaian pasar “Badog” tidaklah lama, karena menjelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB, pembeli banyak berkurang, bahkan penjual pun sudah mulai menata barang dagangan yang tersisa untuk dibawa pulang kembali. Sehingga jika akan mencari makanan tradisional lebih baik datang ke sana sebelum jam 10.00 WIB, namun juga jangan terlalu pagi, karena pasar akan mulai ramai dan komplit makanan yang dijajakan sekitar pukul 06.00 WIB.


Pasar yang memiliki potensi wisata ini semoga lebih mendapat perhatian dari pemerintah setempat untuk lebih menata keadaan pasar agar lebih baik lagi. Keberadaan pasar tersebut sangat penting sebagai penggerak roda ekonomi rakyat, juga sebagai tempat pelestarian makanan tradisional, khususnya makanan tradisional Purbalingga


[slideshow]

Kya-Kya Mayong tempat santap yang mantap

Purbalingga juga memiliki pusat kuliner rakyat yang ada di Kya-Kya Mayong. Berbeda dengan pasar “Badog” yang letaknya disudut kota dan ramai di pagi hari, maka Kya-Kya Mayong terletak dipusat kota dan aktifitas dimulai sore hari sampai dengan malam/dini hari. Bila dilihat dari jenis makanan yang dijajakan juga lebih kompleks Kya-Kya Mayong. Kuliner yang ditawarkan cenderung makanan berat, sesuai dengan waktu aktifitas. Biasanya aktifitas sore hingga malam lebih banyak ditawarkan hidangan untuk makan malam.


Kya-Kya Mayong yang terletak dipusat kota, menempati suatu jalan yang kurang lebih panjangnya sekitar 500 meter di Jalan Wirasaba. Letak yang berada di tengah kota dan tepat berada didepan Gelora Mahesa Jenar, yang sering digunakan untuk suatu pameran atau pertunjukkan, menjadikan Kya-Kya Mayong terlihat lebih ramai dibanding pasar “Badog”, disamping waktu aktifitas yang lebih lama.


Meskipun diramaikan dengan pedagang makanan dimalam hari, namun dipagi hari keadaan sudah kembali rapi, sedangkan kebersihan memang sudah terjaga dengan sendirinya oleh pengunjung dan penjual makanan yang ada. Kerapian dan kebersihan di kawasan ini memang jadi kunci tersendiri dalam menarik pembeli.


[gallery columns="2"]

Sunday, 18 April 2010

Alun-Alun Purbalingga

Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, khususnya di Jawa, yang memegang konsep "Kiblat Papat Lima Pancer" dalam tata kota. Maksud Kiblat Papat, atau Kiblat empat adalah bahwa pusat kota biasanya terdiri dari pusat ibadah (sebelah Barat), pemerintahan (sebelah selatan), pasar/perekonomian (sebelah timur), dan pertahanan/keprajuritan (sebelah utara), sedangkan Lima Pancer adalah alun-alun/lapangan yang berada ditengah sebagai pusat tempat berkumpul. Konsep ini banyak dianut oleh sebagian besar kota di Indonessia, khususnya di Jawa, meskipun tidak kaku, artinya kadang posisi saling bertukar, kecuali alun-alun dan pusat ibadah, sedang bagian pertahanan/keprajuritan untuk sekarang ini terganti oleh Lembaga Pemasyarakatan.


Di Purbalingga, yang juga menganut konsep Kiblat Papat Lima Pancer ini, menempatkan pusat pemerintahan di sebelah Utara, perekonomian/pertokoan di sebelah selatan, dan Lembaga Pemasyarakatan di sebelah timur. Alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan public area, benar berfungsi sebagai mana adanya. Hal ini terlihat dari ramainya warga yang berwisata murah meriah disana.


Keramaian alun-alun Purbalingga sangat terasa menjelang sore hingga malam hari, khususnya di akhir pekan. Pengunjung pun dimanjakan dengan berbagai kuliner khas Purbalingga, berbagai permainan anak-anak (karena sebagian besar pengunjung adalah keluarga yang membawa anak kecil). Demi kenyamanan-kebersihan pengunjung, pemerintah kabupaten Purbalingga, menerapkan aturan untuk setiap pedagang hanya bisa menjajakan dagangan di sore hingga malam, selain itu pembangunan toliet di sudut-sudut alun-alun. Kebersihan yang mengundang kenyamanan sangat dijaga oleh pemerintah juga warganya. Tempat sampah yang disediakan benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya.


Alun-alun sebagai public area tidaklah cukup mampu untuk menampung minat warga untuk berekreasi murah, mengingat luasnya yang terbatas. menghadapi keadaan yang demikian, pemerintah sudah menanggapi dengan membangun dan mengkondisikan dua tempat (untuk sementara ini, semoga dikemudian hari bertambah), yaitu halaman Stadion Goentoer Darjono, dan Taman Kota yang didirikan dibekas pasar kota. Public area merupakan sarana warga masyarakat berinteraksi satu dengan yang lain disamping memiliki keuntungan lain dari segi ekonomi, baik melalui perdagangan maupun wisata.


[gallery columns="2"]

 


 

Saturday, 10 April 2010

Purbalingga dalam Kesejarahan Indonesia

Purbalingga merupakan sebuah kabupaten di propinsi Jawa Tengah. Secara geografis berbatasan dengan kabupaten Banyumas, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan. Dari segi sejarah, Purbalingga belum lah sehebat daerah lain, misalnya Magelang dengan Borobudurnya, Yogyakarta dengan keraton dan candi Hindu-Buddha nya. Meskipun demikian, bila ditelusur lebih jauh, Purbalingga sebenarnya mempunyai potensi besar karena terdapat peninggalan sejarah yang relatif komplit dari masa prasejarah sampai dengan masa kolonialisme Barat di Indonesia.


 


Purbalingga dimasa Prasejarah


Purbalingga memiliki beberapa situs prasejarah. Diantara yang pernah ditemukan adalah menhir dan "bengkel"  pembuatan benda-benda (semacam perhiasan batu dsb) dimasa Neolitikhum, Punden berundak, dan lainnya. Beberapa benda yang pernah ditemukan ada yang terdapat di "Museum Terbuka", artinya masih dilokasi aslinya, dan ada yang sudah dibawa ke Museum yang sebenarnya. Menhir yang terdapat di Purbalingga agak berbeda dengan umumnya menhir yang ada, yaitu adanya istilah menhir "lanang-wadon" atau "pria-wanita" dan menhir yang berada diposisi miring ke arah gunung yang terdekat.  Adanya menhir "lanang-wadon" karena menhir biasanya sepasang dengan letak berimpitan yang pendek seperti berada di bawah yang lebih besar, seperti menahan beban yang lebih besar.


 


Purbalingga di masa Kerajaan Hindu-Buddha


Diakui memang  belum pernah ditemukan jejak kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di Purbalingga. Meski pun demikian banyak ditemukan sisa-sisa pemujaan yang bernafaskan Hindu. Penemuan Lingga-Yoni merupakan hal yang paling sering ditemukan di Purbalingga, baik didaerah yang bertopografi pegunungan maupun yang lebih rendah. Ada satu model Lingga-Yoni yangbisa dianggap lain dengan yang lain, karena berbentuk telur (masyarakat sekitar menyebutnya "watu ndog" atau batu telur).  Lingga dianggap dari batu yang berbentuk telur, sedang yoni adalah batu yang menjadi alas atau "wadah" nya (wadah = tempat).


Disamping Lingga-Yoni juga terdapat sebuah prasasti yang tertulis di sebuah batu besar, diperkirakan berasal dari abad VII-VIII M. Berdasarkan terjemahan seorang ahli dari UGM, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemungkinan besar daerah Purbalingga menjadi basis pertahanan (atau bahkan penyerangan) saat Sriwijaya akan menghukum Bhumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan Sriwijaya. Jadi menurut penulis, dengan banyaknya penemuan Lingga-Yoni di seputar Purbalingga adalah upaya secara kerohanian dari pihak Jawa untuk memohon kepada-Nya agar dilindungi dari serangan Sriwijaya, selain melakukan upaya nyata berupa perlawanan secara militer.


 


Purbalingga dimasa Kerajaan Islam


Dimasa Kerajaan Islam, menurut "folklore" , menyebutkan adanya kadipaten Onje (sekarang berada Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga) yang merupakan cikal bakal Kabupaten Purbalingga sekarang ini, ada juga kadipaten Cipaku (juga berada di kecamatan Mrebet, Purbalingga) sebagai asal Kabupaten Purbalingga, dan kadipaten Wirasaba (berada di kecamatan Bukateja) juga dianggap sebagai asal Kabupaten Purbalingga. Memang banyak sekali peninggalan bersejarah dimasa Hindu dan Islam ditemukan disekitar kecamatan tersebut. Manuskrip yang sampai sekarang disimpan oleh masyarakat Onje, menyebut tentang penganugerahan kadipaten Onje dari penguasa Kerajaan Pajang.


Terlepas dari hal itu semua, ada sebuah peninggalan penting yang sampai sekarang digunakan oleh masyarakat, yaitu Masjid Sayid Kuning, yang merupakan masjid kuno yang ada di Purbalingga. Disamping itu juga adanya Masyarakat Islam Aboge, yang diyakini merupakan suatu aliran Islam yang berasal dari suatu pencampuran Islam dengan budaya asli/lokal.


 


Purbalingga dimasa Kolonial Belanda


Kolonialisme Belanda sampai sekarang dapat dilihat peninggalannya berupa gedung-gedung kuno di seputar Purbalingga, pekuburan Belanda atau momento mori  (sekarang dijadikan taman kota), dan museum tempat lahir panglima Besar Jenderal Besar Soedirman (berada di kecamatan Rembang, Purbalingga).  Stasiun kereta api (hanya sekarang sudah tidak digunakan lagi) juga salah satu peninggalan Belanda yang ada di Purbalingga. Adanya komplek pekuburan Belanda, membuktikan bahwa warga Belanda banyak yang tinggal dan menetap di Purbalingga dimasa penjajahan dulu.

Disqus Shortname

Comments system