Showing posts with label Dunia Pendidikan Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Dunia Pendidikan Indonesia. Show all posts

Tuesday, 6 December 2016

Ujian Nasional dihapus?

Beberapa waktu lalu Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan statemen tentang wacana penghapusan Ujian Nasional di sekolah-sekolah. Tanggapan yang cukup beragam pun bermunculan. Sejak format Ujian Nasional diluncurkan memang menimbulkan berbagai pro dan kontra. Standar nilai yang diangap terlalu tinggi sampai dengan anggapan ketidakadilan jika dilakukan penyamaan soal ujian karena perbedaan kualitas peserta didik, pendidik, hingga sarana prasarana. Lambat laun kontra ditanggapi dengan diturunkannya urgensitas UN, dari yang semula merupakan kunci kelulusan hingga menjadi sekedar cara pemerintah untuk pemetaan pendidikan sekaligus pijakan dalam menentukan kebijakan bidang pendidikan.
Harus diakui, Indonesia masih terjadi ketimpangan dalam pendidikan. Ketimpangan tersebut diantaranya meliputi:
  1. Persebaran pendidik dan tenaga kependidikan
  2. Persebaran sekolah
  3. Sarana dan prasarana
  4. Akses 
  5. Dana , dst
 Tanggapan euforia tentu terjadi dengan dihapuskannya Ujian Nasional, namun tidak dapat dipungkiri, pemerintah memerlukan data untuk dijadikan pedoman dalam menetukan kebijakan pendidikan. Dapodik yang berisi data-data pendidikan (mungkin) dirasa belum lengkap tanpa data tentang hasil belajar (baca: Ujian Nasional). Kemungkinan besar penghapusan Ujian Nasional belum benar-benar dilakukan, hanya berubah format yang dilakukan, meliputi:
  1. Kewenangan pembuatan soal
  2. Pendistribusian soal
  3. Pendanaan
  4. Tingkat Urgensitas
Apapun kebijakan pemerintah, sebagai guru/pendidik yang merupakan garda depan keberhasilan pendidikan, sudah selayaknya ikut mensukseskan kebijakan tersebut, tentu dengan tetap sikap tanggung jawab tanpa meninggalkan idealisme pendidik. Semangat Guru Indonesia.
Serius Mengerjakan Soal

Thursday, 17 November 2016

Teori Fenomenologi dalam Mendidik

Teori fenomenologi sejatinya hampir mirip dengan Teori Strukturasi milik Anthony Giddens, yaitu memandang individu sebagai pribadi unik yang memiliki latar belakang, tujuan, dan pandangan sendiri. Namun, terdapat perbedaan diantara keduanya. Jika Teori Strukturasi menganggap individu yang ada adalah agen sosial, artinya meskipun ada individu tersebut "dianggap beda" dengan masyarakat pada umumnya tetapi setiap individu memiliki potensi merubah struktur masyarakat. Agen sosial. Sedangkan Teori Fenomenologi melihat jika individu yang "berbeda" dengan masyarakat pada umumnya adalah suatu fenomena.
Fenomenologi mendasarkan bahwa perbedaan individu karena perbedaan dalam latar belakang, tujuan, dan pandangan pada individu. Perbedaan yang ada berpengaruh dalam pemikiran, tindakan, dan sikap individu terhadap aturan, struktur, atau pun bahkan norma sosial yang ada.
Didalam pendidikan, seorang pendidik perlu menerapkan fenomenologi dalam pembelajaran. Perbedaan diantara peserta didik merupakan fenomena yang disikapi secara seksama. Pembelajaran dengan peserta didik beragam harus menjadi perhatian pendidik (baca: Guru). Latar belakang peserta didik, baik keluarga-lingkungan tempat tinggal-teman sebaya, berpengaruh pada tingkah laku bahkan cara berpikir dan tujuan peserta didik yang bersangkutan.
Bekal fenomenologi setidaknya menjadikan pendidik akan lebih "humanis" dalam melaksanakan pembelajaran. Peserta didik akan merasa bahwa pendidik (baca: guru) sebagai orang tua plus dalam hidupnya. Orang tua plus yang dimaksud adalah plus sebagai kakak dan sahabat yang disegani. Tentu hal ini akan semakin membuat guru dapat semakin dekat dengan harapan Guru yang di Rindu. Dirindu oleh peserta didik, dirindu oleh pendidikan, dan dirindu surga tentunya. Amin


Saturday, 12 November 2016

Melihat Pendidikan dari kacamata Teori Strukturasi Anthony Giddens

Teori Strukturasi Anthony Gidens menyatakan bahwa individu adalah agen-agen sosial dengan kemampuan dapat merombak struktur sosial yang ada. Individu yang berperan sebagai agen sosial setidaknya memiliki kepribadian kuat sehingga tidak hanya memberi warna terhadap struktur sosial yang ada tetapi juga dapat merubah struktur yang ada. Pendidikan memiliki tujuan untuk membekali individu dengan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sehingga mampu meningkatkan kualitas dirinya.
Pendidikan yang berkaitan erat dengan anak didik, tentu saja dapat dikategorikan sebagai pencetak agen-agen sosial dimasa depan. Anak didik yang berperan sebagai agen sosial  perlu untuk dipersiapkan. Tugas keluarga, guru, sekolah, pemerintah, dan masyarakat berkewajiban untuk melancarkan proses pencapaian tujuan pendidikan. Keunikan setiap anak didik sudah sepantasnya dipandang sebagai sesuatu kelebihan yang dimiliki dalam upayanya menjadi seorang agen sosial.
mencari bekal untuk menjadi agen sosial pembawa perubahan 

Thursday, 20 October 2016

Kiprah PGRI dalam Memajukan Pendidikan di Indonesia


Indikator kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh beberapa hal yaitu pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur dalam kemajuan karena melalui pendidikan maka kualitas penduduk akan meningkat yang kemudian akan berdampak secara domino pada kesadaran kesehatan dan peningkatan kehidupan ekonomi berupa pendapatan. Kemajuan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari guru/pendidik sebagai ujung tombak pendidikan.
PGRI, Persatuan Guru Republik Indonesia, merupakan organsisasi Guru yang cukup tua di Indonesia. PGRI lahir pada tanggal 25 November 1945, atau sekitar seratus hari dari kemerdekaan Indonesia.   PGRI selalu melakukan komunikasi dengan pemerintah perihal kebijakan pendidikan guna memberikan masukan tentang kondisi pendidikan yang ada, dengan harapan dapat dijadikan pedoman dalam menentukan kebijakan. PGRI selaku organisasi profesi guru di Indonesia banyak memberikan bantuan, fasilitator, dan berbagai pendampingan bagi guru.
 
Salah satu dari dari upaya PGRI dalam turut meningkatkan kualitas guru adalah dengan mengadakan lomba blog bagi guru. Lomba yang bertujuan untuk peningkatan penguasaan guru terhadap teknologi informasi ini  diselenggarakan dalam rangka Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 di lingkungan Kabupaten Purbalingga. Petunjuk dan pedoman lomba tersebut dapat diunduh disini



Saturday, 2 June 2012

(Jangan heran) Tingkat Kelulusan Sekolah hampir 100%

Akhir Mei dan Awal Juni 2012 disibukkan dengan dag-dig-dug nya perasaan siswa dan orang tua yang anaknya masih sekolah. Perasaan tersebut karena saat-saat tersebut merupakan pengumuman kelulusan sekolah. Namun sekarang agaknya perasaan itu jauh lebih plong karena mereka dapat menyaksikan bahwa hasil yang diharapkan sesuai dengan impian, yaitu LULUS.


Sebenarnya dengan formula yang sekarang ini (dengan nilai sekolah sangat diperhitungkan untuk mencapai lulus) kekhawatiran tidak begitu perlu. Seharusnya yang menjadi perhatian adalah angka disparitas (PERBEDAAN) antara NILAI SEKOLAH dengan NILAI UJIAN NASIONAL. Hal inilah yang sebaiknya dilihat. Jangan hanya yang dilihat LULUS saja. Dengan demikian berimbang.

Wednesday, 29 February 2012

Sertifikasi Bagi Guru

Sertifikasi bagi guru merupakan bukan hal yang baru lagi, namun dalam hal prosesnya mengalami pembaharuan. Adanya tes kemampuan awal yang dilaksanakan beberapa waktu lalu menjadikan program sertifikasi serasa "dipersulit". Perasaan merasa "dipersulit" memang tidak dapat dipungkiri karena tes tersebut dianggap memeliki tingakt kesulitan yang cukup tinggi, meskipun pada dasarnya merupakan tes terhadap profesi guru sendiri, baik dalam hal perencanaa, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan belajar mengajar.


Sunday, 18 December 2011

Membandingkan antar siswa

Beberapa waktu lalu ada rekan yang mengatakan bahwa membandingkan siswa dengan siswa lain merupakan hal yang tidak disukai oleh siswa. Apalagi bila dibandingkan antar kelas unggulan dengan bukan unggulan. Sebenarnya hal ini bukanlah hal baru. Banding membandingkan adalah hal yang biasa dikehidupan kita. Sebagai contoh, adanya Studi Banding, survey harga (membandingkan harga) bagi konsumen, dan lainnya.


Pada prinsipnya saya setuju adanya perbandingan antar siswa, sejauh tidak menyangkut hal yang prinsip, pembandingan yang masuk akal, dan penempatan disaat yang tepat dan dengan kata-kata yang tepat pula. Memang setiap manusia bila dibandingkan dengan yang lain akan merasa tidak suka, karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda. Namun dalam hal ini, tentu kita tahu, setiap sekolah memiliki peringkat sendiri-sendiri, dan ternyata hal tersebut juga dijadikan bahan perbandingan. Nah....banding-membandingkan merupakan hal yang biasa dan tidak mengganggu selama dilakukan dengan bijak dan bertujuan positif, sehingga perasaan tersakiti tidak akan terjadi, bahkan menjadi motivator dan inspirator bagi anak didik dikemudian hari.

Wednesday, 16 November 2011

Hari Pahlawan......bagi guru

Semua pasti akan jawab yang sama bila ditanya siapa pahlawan tanpa tanda jasa....yaitu guru. Menilik judul diatas bukan berarti guru memerlukan suatu hari khusus baginya, tetapi perhatian kepada para pendidik generasi penerus bangsa ini. Bila kita cermati, akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang menimpa pengajar di bumi Indonesia. Terlepas dari kesalahan pengajar sendiri maupun yang sudah dipolitisasi (baca: dibesar-besarkan). Ibarat kata nila setitik rusak susu sebelanga.

Monday, 14 November 2011

Pendidikan Karakter di Indonesia

Dewasa ini dunia pendidikan di Indonesia sedang "demam" pendidikan berkarakter. Hampir disetiap kegiatan resmi atau tidak resmi selalu disinggung tentang hal tersebut. Implementasinya, disetiap perangkat Kegiatan Belajar Mengajar yang disusun oleh seorang pengajar harus mencantumkan karakter yang akan/diharapkan muncul dikalangan anak didiknya.


Monday, 3 October 2011

(Kapan ada)UU Perlindungan bagi guru

Melihat kejadian beberapa tahun terakhir, pendidikan di Indonesia banyak sekali disoroti. Sebagai bagian dari pendidikan di Indonesia (sekolah, pemerintah, masyarakat), saya merasa senang sekaligus prihatin. Senang karena perhatian meningkat, prihatin karena banyak kasus menimpa dunia pendidikan kita. Adapun beberapa persoalan/kasus yang ada diantaranya:




  • Mahalnya pendidikan


Mahal atau tidaknya pendidikan sebenarnya tergantung beban hidup yang harus ditanggung oleh suatu keluarga. Dimasa sekarang ini, saat semua barang kebutuhan "berganti" harga, beban hidup semakin besar, maka biaya pendidikan yang seyogyanya mampu ditanggung menjadi terasa berat. Hal ini ditambah dengan berubahnya pendidikan tinggi, dalam hal ini Universitas, menjadi badan hukum yang sebagian besar subsidi-nya dicabut. Di tingkat sekolah, dengan munculnya RSBI/SBI, dikeluhkan oleh masyarakat dengan tingginya biaya. Memang segala sesuatu itu ada pengorbanannya, seperti orang bilang "Jer Basuki Mawa Bea". Pencabutan subsidi disisi lain akan menambah kemandirian rakyat, tetapi disisi lain juga butuh penyesuaian dengan beban hidup yang ada. Dibidang biaya, perlu suatu kebijakan yang lebih baik lagi.

Saturday, 30 July 2011

Keceriaan anak-anak

Kemarin, saya merasakan ada hal lain saat saya berada di tempat kerja, tempat saya berbagi pengetahuan.  Hal tersebut adalah saat saya melihat keceriaan yang ditunjukkan anak-anak didik, seolah mereka begitu menikmati kegiatan yang mereka jalani saat itu. Begitu lepas, bebas, dan tanpa beban. Persoalan yang mereka hadapi (bila ada) Sungguh bahagia melihat hal tersebut. Hati saya bergetar menyaksikan keadaan itu. Pada dasarnya anak-anak adalah lembaran putih, kitalah (para orang dewasa) yang memberi warna pada mereka. Warna pelangi, warna kusam, atau pun warna cerah dan gelap, kesemuanya para orang dewasa yang membentuknya.


Anak-anak yang nakal, bolos sekolah, dan lain sebagainya, hakikatnya bukan karena mereka saja, namun lingkungan disekitar mereka (masyarakat, keluarga, sekolah, media, dan lainnya) yang membentuk mereka menjadi seperti itu. Bila dirunut, anak-anak "bermasalah" seringkali memiliki latar belakang keluarga, teman sepermainan, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan bermain, yang tidak memberi perhatian yang cukup tepat baginya. Namun demikian seiring dengan perkembangan sekolah, kiranya anak-anak (menurut anggapan penulis) sudah cukup mampu membedakan benar dan salah. Akan tetapi mereka belum mampu menolak secara tegas suatu ajakan yang negatif. Disinilah peran setiap orang dewasa, siapapun mereka, untuk tetap menjaga anak-anak agar tetap berada dalam jalur yang semestinya. Di tangan anak-anak itulah masa depan bangsa ini akan dibawa.


Dari keceriaan mereka inilah menyebar energi positif, yang menyebabkan siapapun yang berhubungan dengan mereka akan terbawa energi positif tersebut. Suatu contoh nyata adalah para guru, pengasuh anak, dan lainnya, mereka bila dilihat selalu menyiratkan wajah yang segar, ceria, cerah, dan terkesan awet muda. Hal ini tentunya bila semua dilakukan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridho-Nya dan fokus pada kemajuan anak itu sendiri.


Thursday, 30 June 2011

Tidak naik kelas dan tidak lulus sekolah

Beberapa waktu lalu saat di resepsi pernikahan teman, kebetulan disana banyak temen juga yang "kondangan". Obrolan pun menjadi ramai saat membahas Ujian Nasional, Kelulusan, dan perihal naik atau tidak naik kelas. Banyak diantara teman yang pro dan kontra tentang Ujian Nasional, kelulusan dan juga naik/tidak naik kelas. Di tulisan saya terdahulu, ternyata formula Ujian Nasional sudah diubah, menjadi 40%  Nilai Sekolah dan 60% UN. Sepintas cara ini lebih menunjukkan "diterimanya" proses yang dilakukan sekolah selama 3 tahun pendidikan. Namun bila dilihat lebih jauh, keadaan ini juga cukup ampuh dalam melihat kejujuran sekolah dalam penilaian. Terbukti bila dilihat disparitas nilai yang ada antara nilai sekolah dan nilai UN terdapat perbedaan yang cukup jauh. Padahal disparitas yang baik antara 0-1, artinya nilai yang dihasilkan cukup meyakinkan dan dapat dipercaya.


Pelaksanaan Ujian Nasional kali ini juga diwarnai "kegiatan" mencontek massal. Aneh nya, "pelapor" malah dimusuhi. Peristiwa ini sebenarnya lebih menunjukkan sikap yang kurang baik bagi anak didik, karena mereka sedari kecil sudah diajarkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jadi jangan heran bila mereka nanti dewasa akan "melestarikan" sifat korup yang ada dibangsa ini, karena memang masyrakat dan pendidik yang ada disekitarnya memberi contoh demikian. Perlu adanya sikap tidak alergi dengan tidak lulus dan jujur dengan diri sendiri serta tidak lulus bukan berarti kiamat? Jika susah untuk diterapkan, alangkah lebih baiknya bila semua tamat sekolah namun nilai apa adanya, sesuai aturan WAJAR DIKDAS bahwa semua harus wajib belajar sembilan tahun, sehingga kualitas nilai yang dihasilkan (lebih) dapat dipercaya, karena apa adanya.


Keadaan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan kenaikan kelas di sekolah-sekolah (atau malah ketidakmampuan siswa dalam UN adalah akumulasi dari sistem disekolah yang bersangkutan dalam "seleksi alam" yang dilakukan berupa tugas, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester. Dari hasil proses yang dilakukan akan didapatkan gambaran tentang peserta didik yang dimiliki, apakah mereka benar-benar mampu, mampu dengan catatan, ataukah diragukan kemampuannya?, agaknya hal ini lah yang harus dilihat. Nilai yang ada sudahkah mencerminkan kemampuan peserta didik atau belum? meskipun ada kata-kata "guru juga manusia" pasti ada nilai belas kasihan, dan lain sebagainya (meskipun setiap guru akan melakuan belas kasihan dsb, termasuk saya, namun seharusnya tidak ,menghilangkan obyektifitas). Intinya bukan karena manusiawi atau tidak manusiawi, namun nilai kejujuran yang diterapkan serta pengertian yang diberikan kepada peserta didik (termasuk kepada orang tua/wali yang bersangkutan)  perihal nilai yang didapatkan. Bukankah sekarang ini Indonesia krisis akan karakter, sehingga pendidikan berkarakter benar-benar ditekankan oleh pemerintah? . Jadi masih alergikah untuk mengatakan bahwa pengajar memang kurang mampu dalam mengajar sehingga ada peserta didik yang belum bisa menangkap pelajaran yang ada? (hal ini perlu prosentase keterserapan siswa yang diajar, dan perlu kejujuran untuk koreksi diri). Kemudian sudahkah siswa tersebut dilakukan pengayaan? jika semua proses sudah terlewati dan ternyata peserta didik memang belum mampu, silahkan ditulis belum tercapai karena memang belum mampu. Meskipun saya pernah dikritik oleh istri saya, remidial yang paling mudah adalah merangkum, jadi dengan merangkum saja peserta didik sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), tetapi saat saya bertanya, adakah soal ulangan atau yang sejenisnya yang berisi soal merangkum?sampai sekarang belum ada jawaban dan bukti nyata., karena memang di test, ulangan, sampai dengan Ujian Nasional, tidak ada soal merangkum.


Jadi, masihkah kita alergi untuk tidak lulus atau tidak naik ?jika memang jujur dengan diri sendiri (minimal) jikalau belum mampu seharusnya sadar diri, namun bila memang mampu ya seharusnya mendapatkan yang sesuai dengan kemampuan. Hasil dari pendidikan sekarang ini adalah 10-15 tahun kedepan, karena hakekatnya peserta didik yang ada adalah generasi muda penerus bangsa yang seharusnya berkualitas, jujur, dan penuh semangat kemajuan. Peserta didik adalah "human investmen" yang sangat berharga, bila mereka sukses sebagai pribadi duniawi dan akhirat, saya yakin pahala guru-guru yang pernah mendidiknya akan selalu mengalir.Amien


Thursday, 12 May 2011

Lagu Dangdut dan Lagu Anak

Beberapa hari lalu saya sempat mendengarkan musik yang merakyat di TV, yaitu dangdut.  Anehnya, dari sekian banyak lagu yang diperdengarkan, sebagian besar hanyalah lagu dari jenis musik lain yang "didangdutkan", artinya "nothing new" alias tidak ada yang baru. Jikalaupun ada yang baru, bukan lagunya, tetapi penyanyi, goyangan, dan tampilannya saja. Padahal musik yang menjadi cirikhas Indonesia itu (karena tidak ada negara lain yang punya penyanyi atau lagu dangdut) pernah mengalami kejayaan dimasa lalu. Ada beberapa sebab mengapa dangdut terkesan "nothing new" (kecuali penyanyi, cara goyang, dan lainnya) yaitu :




  • tidak adanya pencipta lagu dangdut yang benar-benar produktif masa sekarang ini

  • kualitas suara penyanyi

  • ajang kompetisi yang ada tidak diikuti dengan penciptaan lagunya dan album

  • promosi lagu lewat acara-acara TV belum maksimal


Kejadian yang hampir sama juga terjadi didunia musik anak-anak.  Seingat penulis, penyanyi anak-anak  yang benar-benar penyanyi cilik, dalam arti usia, jenis lagu, dan penampilan, terakhir ada dimasa Joshua Suherman, Maissy, Chikita Meidy, dan Tina Toon. Meskipun sekarang ini banyak ajang kompetisi penyanyi anak-anak, tapi bila dicermati dari penampilan dan lagu yang ada, tidak mencerminkan usia mereka. Sebenarnya hal tersebut  kurang baik bila ditinjau dari pendidikan dan psikologis. Keadaan ini merupakan kesalahan para orang dewasa yang "memaksakan" mereka (anak-anak) menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun herannya, mereka bangga bila anak-anak menyanyikan lagu dewasa, terus apakah menyanyikan lagu dewasa dilarang? bukan itu solusinya, tetapi alangkah baiknya bila disesuaikan dengan usia mereka. Acara yang menyangkut anak-anak pun sangat jarang yang benar-benar bermuatan anak-anak, dari segi isi, pengisi, dan medianya. Jadi bila disimpulkan mengapa sekarang ini penyanyi anak-anak kurang dalam jumlah dan kualitas akan tampak sebagai berikut :




  • tidak adanya pencipta lagu anak-anak

  • promosi lagu anak-anak yang kurang

  • pencitraan bahwa anak-anak dengan lagu dewasa lebih keren

  • media massa yang menayangkan acara anak-anak hendaknya mengutamakan kondisi psikologis anak (disesuaikan umurnya)

Tuesday, 3 May 2011

Hari Pendidikan dan wajah pendidikan di Indonesia

Hari Pendidikan di Indonesia selalu diperingati pada tanggal 2 Mei. Tanggal tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran RM Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Beliau merupakan menteri pengajaran (pendidikan) dimasa awal kemerdekaan Indonesia. Selain sebagai menteri pengajaran, beliau juga merupakan pendiri Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta, yang merupakan sekolah pribumi dan diajar oleh pribumi sendiri. Tiga semboyan Taman Siswa yang kini salah satunya dipakai sebagai lambang pendidikan di Indonesia. Tiga semboyan tersebut adalah ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Adapun maksud dari semboyan itu adalah ing ngarso sung tuladha, artinya didepan memberi tauladan/contoh. Guru hendaknya memberi contoh yang baik bagi muridnya dan lingkungan disekitarnya. Ing madya mangun karsa, ditengah-tengah membangun keinginan atau cita-cita siswa, minimal memberikan gambaran apa yang sebenarnya dikehendaki siswa sebagai impiannya kelak. Tut wuri handayani, dibelakang memberi dorongan membangun semangat para siswa untuk maju dan menggapai impian mereka, minimal agar mereka sukses dalam kehidupan dikemudian hari.


Begitu tingginya filosofi pendidikan di Indonesia, tapi apakah sesuai dengan pelaksanaannya ? ing ngarso sung tuladha, didepan memberi contoh. Contoh nyata dari sebagian besar guru adalah kehidupan yang bersahaja, "nrimo", sederhana, dan ulet. Kehidupan bersahaja nan sederhana memang bentuk sehari-hari guru, seperti yang disuarakan Iwan Fals dengan Oemar Bakrie, meskipun sudah ditepis oleh pemerintah dengan adanya program sertifikasi guru, dengan melipatgandakan gaji guru. Akan tetapi sudah pastikah program tersebut ? ataukah hanya coba-coba ? atau sebenarnya merupakan hak guru, karena sesuai janji pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, hanya saja anggaran pemerintah belum mencukupi sehingga diperlukan program tentang sertifikasi guru ? Susah menjawabnya karena semua hanya sebatas dugaan saya saja. Kemudian ing madya mangun karsa, membangun keinginan siswa. Bentuk -bentuk kegiatan yang ada sudah banyak sekali seperti adanya ekstrakurikuler, sekolah ketrampilan khusus, dan lainnya. Namun muncul pertanyaan lanjutan, sudahkah fasilitas sekolah, kemampuan guru, dan sarana penunjang yang lain dicukupi ? Gedung sekolah banyak yang ambruk, fasilitas sekolah yang minim, biaya pendidikan yang relatif mahal, beasiswa bagi siswa pintar namun kurang mampu, beasiswa bagi guru, sistem kurikulum yang sering bergantii dan dianggap terlalu padat, peraturan pendidikan yang cenderung politis dan tidak independen, dan masih banyak lagi, merupakan pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Dan yang terakhir adalah tut wuri handayani, dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan, maka yang menjadi andalan adalah berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan dan yang ada.


Pendidikan adalah kunci keberhasilan suatu bangsa menuju kemajuan. Saya yakin semua setuju untuk itu, namun sudahkah kita berbuat sesuatu untuk pendidikan itu sendiri?


Saturday, 23 April 2011

Tugas IPS kelas 8 (periode 25 April - 2 Mei 2011)

Tugas IPS silahkan download disini dan print dengan GRAYSCALE atau COLOUR (warna)

  1. Tugas jangan lupa dikasih nama

  2. Dikumpulkan di meja raden mas

Monday, 11 April 2011

Materi IPS Terpadu SMP Kelas 8 Pendudukan Jepang dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Dalam IPS Kelas 8 terdapat pokok bahasan berupa Persiapan Kemerdekaan Indonesia, akan tetapi alangkah baiknya bila sebelum membahas pokok bahasan tersebut juga dipelajari tentang Pendudukan Jepang di Indonesia. Hal ini akan merangkai kronologis peristiwa sehingga akan mudah mengingat. Untuk lebih jelasnya silahkan materi didownload disini

Thursday, 17 March 2011

Mewujudkan Pendidikan Indonesia (yang lebih) Independen

Tulisan ini sebenarnya merupakan pemikiran, unek-unek, dan segala harapan serta kritik terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia disetiap pemberitaan di media massa menunjukkan banyaknya ketimpangan, seperti masalah sarana prasarana, kurikulum, kebijakan pemerintah, input-output, dana, Ujian Nasional dan lain sebagainya. Berbagai permasalahan yang dialami dunia pendidikan Indonesia sebagian besar dibebankan kepada pemerintah.


Menilik penimpaan beban permasalahan kepada pemerintah saja sebenarnya kurang bijaksana, bukan berarti saya termasuk pendukung mutlak pemerintah, tetapi alangkah baiknya mendudukkan permasalahan sesuai porsinya. Sebagaimana diketahui, pendidikan merupakan tanggung jawab dari keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.




  • Keluarga


Tidak dapat dipungkiri, keluarga merupakan komponen pertama (dan utama, menurut penulis), karena didalam keluarga seorang individu akan belajar berbagai hal, seperti bahasa, perilaku, nilai-nilai, dan semangat/motivasi. Bila ditinjau dari segi waktu, maka waktu dikeluarga lebih banyak dibanding di sekolah. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa pihak keluarga seharusnyalah memberikan banyak waktu untuk membimbing putra/putrinya, baik pendidikan akademis maupun yang lain.




  • Sekolah


Sekolah merupakan lembaga formal yang ditunjuk pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan formal, yang berupa sekolah, merupakan institusi yang di Indonesia cukup mendapat sorotan utama sebagai penanggung jawab suksesnya pendidikan. Bila dilihat secara porsi waktu maka, dalam sehari semalam (24 jam) akan didapat waktu untuk sekolah sekitar 7 jam. Nah, sisa waktu yang ada (dan merupakan terbesar) , tentu saja tidak dapat terjangkau oleh sekolah. Disinilah peran keluarga dan masyarakat. Sekolah sudah melaksanakan "kewajibannya" dalam pendidikan. Sudahkah masyarakat dan keluarga melaksanakan perannya didunia pendidikan ? Peran disini bukan hanya soal dana (atau sumbangan orang tua siswa) tetapi lebih mendalam lagi.




  • Pemerintah


Pemerintah merupakan pihak yang menyelenggarakan pendidikan di Indonesia, meskipun peran masyarakat juga besar (misalnya sekolah swasta). Regulasi/peraturan tentang pendidikan, sarana prasarana, dan penyediaan lapangan pekerjaan sebagai kelanjutan dari output yang dihasilkan. Tidak dapat dipungkiri regulasi/aturan yang ada, terkadang sulit diterapkan dilapangan atau terkesan dipaksaan, misalnya kebijakan tentang RSBI/SBI, sudah benar-benar siapkah untuk menuju ke taraf Internasional ? karena memang benar potensi siswa-siswi Indonesia tinggi, tetapi yang menjadi kendala (bila mengikuti event internasional) adalah bahasa. Sepintas kebijakan RSBI/SBI merupakan salah satu alternatif pemecahan yang baik? Penulis menyetujui bahwa RSBI/SBI merupakan salah satu solusi yang baik, namun sudah memenuhi syaratkah pengajar yang ada atau siapkah siswa? (maksudnya semua proses Kegiatan Belajar Mengajar menggunakan bahasa internasional, dalam hal ini bahasa Inggris). Mengapa pengajar menjadi sorotan penulis? karena bila hanya sarana dan prasarana saja, hal itu mudah untuk disediakan (cukup beli, hibah, dan lain sebagainya), namun sumber daya manusia (baik itu dari segi siswa maupun pengajar). Alangkah baiknya perlu ditinjau ulang atau bahkan dihentikan bila memang belum benar-benar mampu.


Kemudian, alangkah baiknya bila pendidikan tidak tercampuri masalah politik. Penulis berpendapat demikian karena kebijakan dibidang pendidikan memiliki kesan ada unsur politis. Pendidikan seharusnyalah independen, artinya harus lebih apa adanya, menjangkau seluruh rakyat Indonesia, dan benar-benar mengabdi pada kemajuan pendidikan. Memang, suatu aturan (semua aturan, kecuali aturan Tuhan) pasti ada pihak pro dan kontra, tetapi bila hati nurani bersih dari kepentingan, dan benar-benar "membumi" (sesuai budaya yang ada), insya Allah, pendidikan yang lebih independen dan bermutu akan tercipta.




  • Masyarakat


Kepedulian masyarakat merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kesuksesan pendidikan. Peran serta masyarakat tidak hanya dengan mendirikan sekolah swasta, lembaga pendidikan, atau pun LSM dibidang pendidikan saja, tetapi menyeluruh. Penulis bangga dengan adanya blokir dari penyedia server internet untuk situs pornografi. Kenyataan ini menunjukkan suatu kepedulian terhadap masa depan bangsa yang berada ditangan para siswa. Peran serta masyarakat yang lain dapat diwujudkan dengan tayangan di televisi, yang sebaiknya lebih mengutamakan unsur pendidikan. Pengutamaan unsur pendidikan bukan berarti acara yang ada hanya tentang pelajaran sekolah saja, tetapi tayangan yang mendidik, karena (menurut penulis) tayangan televisi sekarang ini agak jauh dari unsur pendidikan. Jadi akan lebih baik bila televisi mengkritik pemerintah-sekolah dalam hal pendidikan, namun mereka juga menunjukkan kepedulian dengan menayangkan solusi yang baik, serta acara yang lebih mendidik (apalagi saat jam-jam belajar dari pukul 18.00-21.00 WIB).


 


Pendidikan di Indonesia juga (menurut penulis) mempunyai beban kurikulum yang cukup berat. Penerapan Ujian Nasional, Kriteria Ketuntasan Minimal dan  Materi yang cukup berat, adalah sebagian kecil dari beratnya kurikulum pendidikan di Indonesia. Ujian Nasional merupakan salah satu "ketakutan" tersendiri bagi siswa dan guru. Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal yang cukup tinggi semakin menambah   "beban" tersendiri (baik bagi siswa maupun guru). Keharusan lulus dengan nilai standar memang penting, karena pemerintah, masyarakat, dan pemerhati pendidikan membutuhkan suatu angka nominal. Menurut penulis, angka nominal itu penting, akan tetapi kualitas adalah segalanya. Pendapat saya, alangkah baiknya semua anak sekolah lulus tetapi dengan nilai apa adanya (artinya tanpa ada usaha ilegal didalamnya) karena akan lebih menggambarkan kejujuran. Fenomena belakangan yang terjadi, seperti kebocoran Ujian Nasional, menyajikan fakta bahwa siswa-pengajar demi mengejar nilai akan melakukan apa saja (baik itu ilegal maupun legal). Mereka tidak lagi mengejar kualitas tetapi kuantitas. Jika siswa demi kelulusan, maka bagi pengajar ada semacam gengsi tersendiri, baik untuk diri sendiri maupun sekolah yang bersangkutan.


Mengapa penulis menitik beratkan pada lulus semua dengan nilai apa adanya? karena baik siswa maupun pengajar/sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dan tanpa beban untuk mendapatkan kualitas output yang baik. Output yang ada bisa berkualitas baik bila mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi yang bermutu atau pun terserap didunia kerja. Banyak keluhan, baik dari institusi pendidikan tinggi maupun dunia kerja, tentang tidak seimbangnya antara nominal nilai yang diperoleh dengan kemampuan yang sebenarnya (kualitas). Peristiwa SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan fakta yang ada dilapangan. Para siswa yang mendapat nilai tinggi dalam Ujian Nasional atau Raport, belum tentu diterima, karena tidak mampu mengerjakan test masuk/ujian masuk. Jikalaupun tidak menggunakan test masuk/ujian masuk, ada perguruan tinggi/sekolah yang merasa "tertipu" karena setelah mereka melakukan pre test setelah diterima, maka nilai ujian terdahulu (saat dibangku pendidikan sebelumnya) tidak menggambarkan kemampuan yang ada.


Penulis percaya bahwa semua pihak mempunyai tujuan yang baik dan mulia demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan merupakan kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa/negara. Pendidikan yang berkebudayaan dengan tetap menatap kemajuan jaman akan semakin memperkokoh kepribadian bangsa.


 

Thursday, 25 November 2010

Babad Tanah Jawi (Jawa) dan Kontroversi tentangnya

Babad Tanah Jawi merupakan suatu karya sejarah yang ditulis diabad 18. Terdapat dua versi Babad Tanah Jawa, yaitu versi yang ditulis Carik Braja atas perintah "tuannya", yaitu Sunan Pakubuwono III, dan versi yang lain yaitu dari Pangeran Adilangu II. Terlepas dari perbedaan diantara keduanya, saya hanya ingin menyoroti berbagai kontroversi yang melingkupi penafsiran tentang babad tersebut. Adapun kontroversi yang saya ulas antara lain :




  • Saratnya unsur mistis Babad Tanah Jawi (hal diluar akal)


Generasi pada masa kini bila membaca Babad Tanah Jawi (Jawa) tentunya akan bertanya tentang keaslian isinya, bahkan yang lebih ekstrim lagi menganggapnya hanya sebuah karangan fiksi di masa itu. Keadaan ini dapat terus terjadi jika tidak ada hasil penelitian tentang latar belakang sosial kemasyarakatan masa itu termasuk pula dalam bidang religi dan kepercayaan.  Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dengan unsur mistis/gaib, bahkan agama yang ada dimasa sekarang ini pun mengakui tentang hal gaib.


Begitu pula masyarakat Jawa, dari masa dulu hingga sekarang masih percaya tentang hal gaib, karena memang begitu pula yang diajarkan baik dalam filosofi budayanya maupun agama yang dianutnya. Sehingga jika dalam Babad Tanah Jawi (Jawa) dimuat berbagai hal yang sifatnya gaib/mistis maka haruslah dilihat sebagai deskripsi/gambaran masyarakat masa itu yang begitu kuat dalam hal kepercayaan. Disamping sebagai penggambaran tentang kuatnya kepercayaan yang dianut, sebaiknya juga dilihat sebagai upaya "simbolisasi" tentang kejadian nyata yang (mungkin) tabu untuk diceritakan secara utuh, mengingat filosofi Jawa "mikul duwur mendhem jero". Artinya, kebenaran memang haruslah ditegakkan tetapi jangan sampai merendahkan orang salah yang dimaksud, walaupun dalam kenyataan bisa dibalik pemaknaannya. Dibalik pemaknaannya berarti benar-benar menjatuhkan, bila tidak pintar memaknainya. Sama seperti didalam bahasa Indonesia, dikenal adanya majas, baik yang berupa hiperbola, ironi, sinisme, ameliorasi, maupun peyorasi, begitu pula didalam Babad Tanah Jawi. Jadi untuk memahaminya perlu mencari  makna sesungguhnya dari "simbol" yang berupa kejadian diluar akal manusia tersebut dengan kejadian yang mungkin terjadi atau bahkan kejadian sebaliknya dari kejadian tersebut.




  • Geneokologi Raja Mataram yang begitu lengkap (diawali dari nabi Adam A.s )


Daftar silsilah raja Mataram yang dimuat dalam amatlah lengkap, diawali dari Nabi Adam A.s, kemudian mencapai garis keturunan Pandawa, sampai dengan kepada raja Mataram sendiri. Geneokologi yang begitu "menakjubkan" (bagi saya mendekati mustahil) hanya akan menampilkan sesuatu yang hendak disembunyikan (atau hendak ditutup-tutupi?). Pemunculan daftar silsilah, sering dimaksudkan sebagai legitimasi akan sesuatu. Legitimasi ini dimaksudkan agar rakyat yang diperintah merasa percaya bahwa raja yang ada adalah sah, dimata hukum manusia dan hukum Yang Maha Kuasa.


Beberapa raja yang sengaja menampilkan daftar silsilah biasanya bukan penguasa sah yang sengaja mencari pengesahan atas dirinya sendiri. Raja-raja tersebut diantaranya Sri Maharaja Dyah Balitung (raja Mataram Kuno yang ternyata menjadi raja dari hasil perkawinan), Balaputradewa (raja Sriwijaya yang menghubungkan dengan Dinasti Syailendra yang waktu itu merupakan penguasa nusantara), dan masih banyak lagi. Hal ini sengaja dilakukan agar tidak ada pemberontakan dikemudian hari yang disebabkan adanya "perasaan tidak sah menjadi raja" diantara pengikut dan rakyatnya. Hal ini terjadi saat adanya "pemberontakan" Trunojoyo kepada Mataram, yang menyebutkan bahwa pendiri Mataram hanyalah keturunan petani (jika ini benar maka makna "panembahan kuwi dudu ratu nanging kuasane koyo ratu" agaknya mendekati kebenaran).




  • Pencitraan buruk terhadap proses Islamisasi (khususnya era Demak)


Dalam Babad Tanah Jawi (Jawa) era Demak dicitrakan begitu jelek. Dalam diri saya bertanya, ada apa dibalik semua itu. Ternyata bila ditelusur lebih jauh, dimasa Mataram muncul ketakutan akan kembalinya hegemoni kekuatan maritim nusantara dibawah Demak, yang memang merupakan garis sah kekuasaan jika dilihat dari hierarki Majapahit. Untuk meredam "new emerging force" maka perlu pencitraan jelek (bahasa sekarang ini adalah kampanye hitam alias "black campaign") disamping penyiapan secara militer. Pencitraan jelek yang ada antara lain durhakanya pendiri Demak karena menyerang ayahnya sendiri, padahal kenyataannya Demak berusaha mengamankan haknya karena sesuai dengan hasil musyawarah Dewan Sapta Prabu karena kekosongan kekuasaan dan usaha kudeta oleh Girindrawardhana. Sisi pengamanan hak ini sengaja tidak diungkapkan oleh Babad Tanah Jawi (Jawa) karena akan mengurangi (atau bahkan menghilangkan) legitimasinya. Dimasa Demak juga masih menganut sistem pemerintahan Majapahit meskipun dengan citarasa Islam. Penggunaan sistem Majapahit ini selain untuk memperkuat legitimasinya juga untuk menjaga keutuhan wilayah yang diwarisi dari Majapahit, berupa sistem federal dan lain sebagainya. Dibuktikan bila Majapahit menggunakan Dewan Sapta Prabu sebagai Dewan Penasihat Raja, maka dimasa Demak, Dewan Penasihat Raja diwakili oleh Dewan Wali. Kontras sekali dengan keadaan Mataram yang menunjukkan "estat is moi" karena tanpa adanya Dewan Pertimbangan/dewan penasihat, karena begitu besarnya kekuasaan panembahan.

Tuesday, 2 November 2010

Bersikap Lokal Berwawasan Global

Bersikap lokal berwawasan global agaknya harus benar-benar diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Dalam artian bukan hanya diatas kertas dalam bentuk KTSP, namun berusaha mengangkat potensi yang ada di dalam diri siswa. Penulis teringat akan semboyan Ki Hajar Dewantara, "ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani". Bila diterapkan benar, Insya Allah, siswa dapat berhasil dalam hidup, karena ukuran kepuasan dalam diri seorang pendidik adalah bila melihat siswa didiknya berhasil dalam hidupnya kelak. Praktisnya setiap pendidik haruslah mampu menggali kemauan, kemampuan, dan ketekunan dari peserta didiknya.


Apabila dihubungkan dengan sikap lokal wawasan global maka akan diperoleh peserta didik yang tidak hanya memegang teguh nilai-nilai tradisi tetapi tidak akan ketinggalan dalam modernisasi. Modernisasi yang merupakan transformasi ke arah kemajuan diharapkan dapat diterapkan dengan nuansa lokal. Keadaan tersebut merupakan senjata dalam menyaring budaya asing yang masuk secara terbuka akibat globalisasi. Misalnya, ada seorang anak yang memiliki hobi memelihara burung, maka diarahkan untuk tidak hanya memelihara tetapi untuk menangkarkannya sehingga memiliki nilai lebih dan mendorongnya untuk belajar lebih banyak lagi tentang hobinya tersebut, baik dari media cetak maupun dari internet atau bahkan lebih jauh lagi mendorong munculnya komunitas pecinta burung di internet. Contoh lain adalah anak yang begitu hobi dengan situs jejaring sosial, dapat diarahkan untuk menampilkan hasil karyanya di jejaring sosial tersebut, sehingga diharapkan dia mendapatkan sisi positif dari kegiatannya itu. Hasil karya yang berupa benda maupun seni (misalnya musik, suara, maupun nyanyi).


Menampilkan hasil karya di media internet merupakan usaha mempromosikan ke dunia luar seiring dengan globalisasi yang tidak mungkin untuk dihindari. Globalisasi merupakan sesuatu hal yang pasti, tinggal kita dalam menyikapi dan memanfaatkannya. Sikap lokal yang arif tetapi berwawasan global diharapkan membawa kemajuan dan memberi bekal kepada anak didik dikemudian hari. Majulah anak-anak bangsa, raih sukses di berbagai bidang. Amien


 

Disqus Shortname

Comments system