Showing posts with label Indonesia madani. Show all posts
Showing posts with label Indonesia madani. Show all posts

Thursday, 30 June 2011

Tidak naik kelas dan tidak lulus sekolah

Beberapa waktu lalu saat di resepsi pernikahan teman, kebetulan disana banyak temen juga yang "kondangan". Obrolan pun menjadi ramai saat membahas Ujian Nasional, Kelulusan, dan perihal naik atau tidak naik kelas. Banyak diantara teman yang pro dan kontra tentang Ujian Nasional, kelulusan dan juga naik/tidak naik kelas. Di tulisan saya terdahulu, ternyata formula Ujian Nasional sudah diubah, menjadi 40%  Nilai Sekolah dan 60% UN. Sepintas cara ini lebih menunjukkan "diterimanya" proses yang dilakukan sekolah selama 3 tahun pendidikan. Namun bila dilihat lebih jauh, keadaan ini juga cukup ampuh dalam melihat kejujuran sekolah dalam penilaian. Terbukti bila dilihat disparitas nilai yang ada antara nilai sekolah dan nilai UN terdapat perbedaan yang cukup jauh. Padahal disparitas yang baik antara 0-1, artinya nilai yang dihasilkan cukup meyakinkan dan dapat dipercaya.


Pelaksanaan Ujian Nasional kali ini juga diwarnai "kegiatan" mencontek massal. Aneh nya, "pelapor" malah dimusuhi. Peristiwa ini sebenarnya lebih menunjukkan sikap yang kurang baik bagi anak didik, karena mereka sedari kecil sudah diajarkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jadi jangan heran bila mereka nanti dewasa akan "melestarikan" sifat korup yang ada dibangsa ini, karena memang masyrakat dan pendidik yang ada disekitarnya memberi contoh demikian. Perlu adanya sikap tidak alergi dengan tidak lulus dan jujur dengan diri sendiri serta tidak lulus bukan berarti kiamat? Jika susah untuk diterapkan, alangkah lebih baiknya bila semua tamat sekolah namun nilai apa adanya, sesuai aturan WAJAR DIKDAS bahwa semua harus wajib belajar sembilan tahun, sehingga kualitas nilai yang dihasilkan (lebih) dapat dipercaya, karena apa adanya.


Keadaan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan kenaikan kelas di sekolah-sekolah (atau malah ketidakmampuan siswa dalam UN adalah akumulasi dari sistem disekolah yang bersangkutan dalam "seleksi alam" yang dilakukan berupa tugas, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester. Dari hasil proses yang dilakukan akan didapatkan gambaran tentang peserta didik yang dimiliki, apakah mereka benar-benar mampu, mampu dengan catatan, ataukah diragukan kemampuannya?, agaknya hal ini lah yang harus dilihat. Nilai yang ada sudahkah mencerminkan kemampuan peserta didik atau belum? meskipun ada kata-kata "guru juga manusia" pasti ada nilai belas kasihan, dan lain sebagainya (meskipun setiap guru akan melakuan belas kasihan dsb, termasuk saya, namun seharusnya tidak ,menghilangkan obyektifitas). Intinya bukan karena manusiawi atau tidak manusiawi, namun nilai kejujuran yang diterapkan serta pengertian yang diberikan kepada peserta didik (termasuk kepada orang tua/wali yang bersangkutan)  perihal nilai yang didapatkan. Bukankah sekarang ini Indonesia krisis akan karakter, sehingga pendidikan berkarakter benar-benar ditekankan oleh pemerintah? . Jadi masih alergikah untuk mengatakan bahwa pengajar memang kurang mampu dalam mengajar sehingga ada peserta didik yang belum bisa menangkap pelajaran yang ada? (hal ini perlu prosentase keterserapan siswa yang diajar, dan perlu kejujuran untuk koreksi diri). Kemudian sudahkah siswa tersebut dilakukan pengayaan? jika semua proses sudah terlewati dan ternyata peserta didik memang belum mampu, silahkan ditulis belum tercapai karena memang belum mampu. Meskipun saya pernah dikritik oleh istri saya, remidial yang paling mudah adalah merangkum, jadi dengan merangkum saja peserta didik sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), tetapi saat saya bertanya, adakah soal ulangan atau yang sejenisnya yang berisi soal merangkum?sampai sekarang belum ada jawaban dan bukti nyata., karena memang di test, ulangan, sampai dengan Ujian Nasional, tidak ada soal merangkum.


Jadi, masihkah kita alergi untuk tidak lulus atau tidak naik ?jika memang jujur dengan diri sendiri (minimal) jikalau belum mampu seharusnya sadar diri, namun bila memang mampu ya seharusnya mendapatkan yang sesuai dengan kemampuan. Hasil dari pendidikan sekarang ini adalah 10-15 tahun kedepan, karena hakekatnya peserta didik yang ada adalah generasi muda penerus bangsa yang seharusnya berkualitas, jujur, dan penuh semangat kemajuan. Peserta didik adalah "human investmen" yang sangat berharga, bila mereka sukses sebagai pribadi duniawi dan akhirat, saya yakin pahala guru-guru yang pernah mendidiknya akan selalu mengalir.Amien


Thursday, 12 May 2011

Lagu Dangdut dan Lagu Anak

Beberapa hari lalu saya sempat mendengarkan musik yang merakyat di TV, yaitu dangdut.  Anehnya, dari sekian banyak lagu yang diperdengarkan, sebagian besar hanyalah lagu dari jenis musik lain yang "didangdutkan", artinya "nothing new" alias tidak ada yang baru. Jikalaupun ada yang baru, bukan lagunya, tetapi penyanyi, goyangan, dan tampilannya saja. Padahal musik yang menjadi cirikhas Indonesia itu (karena tidak ada negara lain yang punya penyanyi atau lagu dangdut) pernah mengalami kejayaan dimasa lalu. Ada beberapa sebab mengapa dangdut terkesan "nothing new" (kecuali penyanyi, cara goyang, dan lainnya) yaitu :




  • tidak adanya pencipta lagu dangdut yang benar-benar produktif masa sekarang ini

  • kualitas suara penyanyi

  • ajang kompetisi yang ada tidak diikuti dengan penciptaan lagunya dan album

  • promosi lagu lewat acara-acara TV belum maksimal


Kejadian yang hampir sama juga terjadi didunia musik anak-anak.  Seingat penulis, penyanyi anak-anak  yang benar-benar penyanyi cilik, dalam arti usia, jenis lagu, dan penampilan, terakhir ada dimasa Joshua Suherman, Maissy, Chikita Meidy, dan Tina Toon. Meskipun sekarang ini banyak ajang kompetisi penyanyi anak-anak, tapi bila dicermati dari penampilan dan lagu yang ada, tidak mencerminkan usia mereka. Sebenarnya hal tersebut  kurang baik bila ditinjau dari pendidikan dan psikologis. Keadaan ini merupakan kesalahan para orang dewasa yang "memaksakan" mereka (anak-anak) menjadi dewasa sebelum waktunya. Namun herannya, mereka bangga bila anak-anak menyanyikan lagu dewasa, terus apakah menyanyikan lagu dewasa dilarang? bukan itu solusinya, tetapi alangkah baiknya bila disesuaikan dengan usia mereka. Acara yang menyangkut anak-anak pun sangat jarang yang benar-benar bermuatan anak-anak, dari segi isi, pengisi, dan medianya. Jadi bila disimpulkan mengapa sekarang ini penyanyi anak-anak kurang dalam jumlah dan kualitas akan tampak sebagai berikut :




  • tidak adanya pencipta lagu anak-anak

  • promosi lagu anak-anak yang kurang

  • pencitraan bahwa anak-anak dengan lagu dewasa lebih keren

  • media massa yang menayangkan acara anak-anak hendaknya mengutamakan kondisi psikologis anak (disesuaikan umurnya)

Wednesday, 13 April 2011

Transparansi di Indonesia

Kata TRANSPARAN setelah era Orde Baru menjadi hal yang sering dibicarakan dan sering diungkit-ungkit (apa lagi jika menyangkut dana). Dewasa ini segala aspek kehidupan dituntut akan adanya transparansi. Namun agaknya transparansi di Indonesia agak berbeda dibandingkan dengan di luar negeri. Transparansi di Indonesia yang membuat berbeda dengan dan Luar negeri antara lain :




  • Transparansi Korupsi


Indonesia benar-benar hebat dalam hal korupsi. Bagaimana tidak, korupsi dilakukan secara transparan (atau malah terang-terangan?) dan bersama pula (gila!!).




  • Tranparansi Kegiatan


Kegiatan apapun dilakukan secara transparan, baik penyimpangan atau pun tidak.....hahahahha.  Kujungan kerja, studi banding, perlombaan , atau apapun bentuknya juga transparan. Hal ini mengingatkan saya akan keluhan beberapa teman, mereka mengeluh tentang tranparansi dalam lomba (maksudnya tranparan sekali akan kecurangannya).




  • Transparansi Mode Pakaian


Nah....ini yang juga banyak dilakukan di Indonesia. Pakaian transparan juga, bahkan diminati dan ditampilkan di televisi. Para "public figure" mengenakannya, dengan dalih mode dan hak asasi manusia. Waduh. Membingungkan ternyata. Seharusnya yang jadi "figure" mereka yang baik, istilahnya yang terkenal dan yang tercemar semakin tipis batasnya, karena sama-sama populer. Artis yang tersangkut kriminal akan semakin terkenal, karena kontroversinya. Istilahnya semakin kontroversial maka semakin populer.


Indonesia......Indonesia......tanah airku....berjayalah selamanya meskipun dengan berbagi kekurangan. Mereka yang menjadi "leader" jadilah panutan (padahal setiap manusia adalah "leader" karena pasti ada pihak lain yang mencontohnya) yang benar-benar patut dianut.

Sunday, 29 August 2010

Semangat Pemuda Generasi Penerus Bangsa

Melihat perkembangan pemuda akhir-akhir ini membuat miris dan prihatin. Mentalitas yang banyak memikirkan hal yang instant semakin membuat mereka terlena, padahal dalam mewujudkan impian dan cita-cita mereka dibutuhkan cucuran keringat usaha dan doa. Suatu hari saya menanyakan kepada beberapa anak didik tentang impian mereka, karena bagi saya cita-cita diawali dari mimpi yang ingin diwujudkan. Jawaban yang saya dapatkan adalah "wah ndak ada itu Pak", atau "hehehhehe.....apa ya....? sambil balik bertanya".  Berbeda sekali dengan masa dahulu, sekitar 10 tahun lalu, pasti sebagian besar ada jawaban, misalnya "jadi pengusaha krupuk", "jadi dokter", dan lainnya. Jawaban yang tegas dan lugas segera tersaji, meskipun jika ditelusur lebih lanjut tentang usaha dan doa yang sudah dilakukan masih perlu dikaji lagi. Walau demikian patut dihargai akan cita-cita mereka.


Ketegasan dalam memiliki cita-cita mengundang kekaguman tersendiri, karena cita-cita merupakan impian yang nantinya diwujudkan, merupakan arah dan tujuan sehingga dalam perjalanan hidupnya tidak terasa hampa. Adapun yang tidak (bagi saya belum) memiliki cita-cita atau impian untuk diwujudkan haruslah terus mendapat bimbingan. Keadaan tersebut  mungkin dikarenakan cita-cita setinggi langit yang dipunya terasa susah untuk dicapai secara logika mereka. Kesusahan yang dipikirkan mereka itu diantaranya perasaan minder dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya yang melingkupi dirinya dan keluarganya.


Bagi mereka yang belum memiliki impian untuk diwujudkan (baca : cita-cita) karena keadaan demikian haruslah dibimbing oleh orang-orang disekitarnya untuk diarahkan kepada pengembangan hoby dan bakatnya. Pemberian motivasi berupa segala sesuatu tidaklah instan, seperti apa yang disajikan dalam sebagian besar sinetron Indonesia. Misalnya saja, anak didik dengan kemampuan melukis, bisa diarahkan dan dimotivasi menjadi seorang pelukis, bengkel modifikasi motor (reparasi cat mobil), sablon, dan lainnya. Intinya adalah sesuatu yang simpel namun dapat menjadi modal hidupnya dikemudian hari.


Bimbingan juga akan berbeda kepada mereka yang sudah mendapat "fasilitas" dalam kehidupannya namun belum memiliki apa yang di cita-citakan nya kelak. Pendekatan secara intensif agaknya cukup membantu "membangunkan" dirinya. Hal ini dibutuhkan karena bagi mereka yang telah mendapatkan "fasilitas" dalam hidupnya cenderung kepada pemikiran instant. Keadaan tersebut tentu akan berbahaya jika diteruskan, karena kehidupan nyata sangat berat dan jauh dari bayangan mereka selama ini. Selain "fasilitas" yang membius, juga karena beberapa media yang cenderung mengedepankan kehidupan glamour, dan gaya hedonis serta kapitalisme yang begitu kuat masuk kedalam masyarakat kita.



 

Friday, 19 March 2010

Pendidikan yang Berwawasan

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan dari NKRI yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, dan sering dibacakan setiap ada upacara bendera. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Menyoroti pemerintah, maka diadakanlah sekolah baik formal maupun non formal, berikut berbagai sarana, prasarana, regulasi/aturan, dan lain sebagainya.

Di kesempatan ini saya mencoba menuangkan pemikiran saya tentang sekolah yang berwawasan, baik wawasan kebangsaan, lingkungan, kerja, teknologi,  etika-kesopanan, kebudayaan.

  • Wawasan Kebangsaan


Sudah sewajarnya sekolah terus memupuk rasa kebangsaan kepada segenap warga sekolah, baik dalam hal yang bersifat insidental maupun keseharian. Sikap-sikap yang mengarah pada pemupukan rasa nasionalisme-patriotisme seringnya akan muncul bila ada isu "co-enemy", misalnya saat krisis Ambalat, atau saat upacara bendera yang sifatnya insidental-seremonial saja, namun dalam keseharian sering terlupakan. Sebenarnya wawasan kebangsaan dapat dimasukkan dalam semua pelajaran, dengan tujuan untuk meningkatkan rasa bangga terhadap bangsa dan negara. Hal ini bukan berarti harus diwujudkan dalam "chauvinisme", tetapi lebih berorientasi pada kemajuan bangsa dan negara. Misalnya dalam mapel Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) siswa dikenalkan blog atau pun face book, maka alangkah baiknya digunakan sebagai media untuk mempererat persatuan bangsa dan lebih mengenalkan Indonesia yang berkebudayaan tinggi kepada bangsa sendiri apalagi dunia internasional, serta membentuk generasi muda yang lebih peduli terhadap lingkungan (sosial-hayati) dan bangsa-negara.


 




  • Wawasan Lingkungan


Global warming merupakan isu yang sedang mengemuka sekarang ini. Sering sekali murid-murid sekolah diajak untuk beramai-ramai melakukan penanaman sejuta pohon yang digerakkan oleh pemerintah, namun kita lupa terhadap lingkungan sekolah sendiri. Kadang dijumpai suatu sekolahan yang "hampir" tidak terdapat pohon satu pun, hanya terdapat "pohon beton" saja. Padahal saya yakin, setiap sekolah mengajarkan pelajaran IPA. Berbagai alasan pun dilontarkan, seperti minimalnya lahan dan lain sebagainya. memang tak dapat dipungkiri bahwa lahan diperkotaan semakin sempit, meski hal tersebut sebenarnya bukan menjadi alasan untuk tidak menanam pohon, karena sekarang banyak jenis pohon yang mudah ditumbuh (atau konsultasi ke dinas/departemen kehutanan, bisa juga browsing internet tentang hal tersebut).  Saya yakin, dengan sekolah yang asri, pasti akan menyejukkan suasana yang nantinya berpengaruh dalam Kegiatan Belajar Mengajar (sejuk pasti akan membawa kesegaran tubuh dan berpikir).

  • Wawasan Kerja


sekolah yang berwawasan kerja bukan berarti hanya sekolah kejuruan saja, tetapi semua sekolah dapat menerapkan hal tersebut. Semua mapel dapat dikembangkan kedalam dunia kerja dan aplikasinya. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya lebih menekankan siswa untuk berkarya yang berguna dikehidupan nyata, lebih baik lagi yang bernilai ekonomis. Penekanan ekonomis perlu dilihat karena sering kita mendapat pertanyaan, "belajar itu bisa buat cari duit nggak sih ? ", dan jawaban yang diinginkan adalah instant, artinya bisa langsung diaplikasikan.

  • Wawasan Teknologi


Sudah menjadi tuntutan jaman, bahwa kemajuan teknologi merupakan langkah pasti yang tak terhentikan (sementara ini). Anak didik merupakan investasi masa depan yang sangat berharga. Bekal untuk mereka tidaklah sedikit, apalagi masa mereka nantinya adalah masa teknologi maju (pastinya lebih maju dari sekarang), maka dari itu sudah sewajarnya kita menumbuhkan semangat mereka untuk tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga menciptakan teknologi yang baru dan lebih baik.

  • Wawasan Etika-Kesopanan


Etika-kesopanan merupakan suatu masalah yang sangat penting dunia pendidikan. Perlu diciptakan keteladanan dari guru tentang etika-kesopanan, disamping penerapan aturan yang tegas dan disiplin. Kadang pendidik lebih menekankan aspek kognitif dan psikomotornya saja, tetapi aspek afektif  (dalam hal ini etika-kesopanan) sering terlupa. Asalkan pinter dan mampu membawa prestasi sekolah naik, maka hal itu tidak menjadi soal. Padahal kita tahu, dalam dunia kerja, sepintar apa pun orang jika etika-kesopanan ditinggalkan, bisa saja mendapat masalah dalam pekerjaan. Selain itu aturan yang sudah disetujui bersama kadang dilanggar sendiri. Contoh mudahnya adalah masalah pakaian/seragam sekolah; banyak dijumpai siswa memakai seragam yang tidak sesuai aturan sekolahnya (baju tidak dimasukkan, rok pendek diatas lutut, dsb). Alasan yang dikemukakan siswa adalah mengikuti mode, meskipun tidak bisa sepenuhnya tanggung jawab dibebankan pada sekolah, tapi masyarakat pun harusnya ikut bertanggung jawab, dalam hal ini tayangan film atau lainnya yang memang demikian adanya (seragam yang tak sesuai aturan). Saya yakin setiap sekolah mempunyai aturan jelas, tinggal penerapan dilapangan dan penegakkan aturan itu sendiri. Penegakkan aturan tersebut meliputi semua komponen sekolah.

  • Wawasan Kebudayaan


Pendidikan yang berkebudayaan....agaknya hal ini yang kurang diterapkan kepada siswa. Sebagai contoh, untuk Jawa Tengah, saya perlu bangga karena menerapkan mapel Bahasa Jawa yang sarat akan budaya, tetapi sering dijumpai siswa kesulitan dengan bahasa mereka sendiri, bahkan guru juga demikian (hal ini tidak berlaku pada guru mapel bersangkutan). Bisa dibayangkan jika setiap mapel, kadang atau bahkan seria menggunakan bahasa Jawa tersebut dalam Kegiatan Belajar Mengajar, maka secara tidak langsung pembiasaan ini akan menjadi mata rantai pelestarian budaya yang lebih efektif .

Ujian Nasional dan Kontroversinya

Ujian Nasional dilaksanakan serentak diseluruh Indonesia. Pro dan kontra seputar UN setiap hari semakin banyak bermunculan. Bila ditelaah lebih lanjut, perlukah UN diadakan dalam Sistem Pendidikan di Indonesia ? Mari kita lihat pendapat pihak Pro-Kontra UN.


Pendapat Kontra :




  1. Sekolah memiliki sarana-prasarana yang berbeda sehingga kemampuan dalam mengantarkan anak didik untuk menguasai mata pelajaran juga berbeda.

  2. Dalam ijasah (yang diperlukan dalam mencari pekerjaan) tercantum semua mapel, tidak hanya mapel UN saja. Ini menimbulkan ketimpangan.

  3. Pemberlakuan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) seharusnya memberikan otonomi luas kepada sekolah dalam hal kelulusan, tidak tergantung pada UN.

  4. Ada sekolah-sekolah khusus, misalnya sekolah yang intensif pada seni, olahraga, ketrampilan, dan lain sebagainya. Sekolah-sekolah tersebut seharusnya menempuh UN yang berbeda dengan sekolah umum.

  5. UN lebih mengutamakan aspek kognitif saja, sedangkan pendidikan menekankan aspek kognitif, aspek psikomotor, dan aspek afektif.


Pendapat Pro  UN :




  1. Pemerintah memerlukan suatu data statistik untuk mendapat gambaran ketercapaian pendidikan.

  2. Diperlukan adanya standard tertentu dalam pendidikan, dalam hal ini dapat dicapai melalui UN.


Pendapat penulis :




  1. UN bisa dijalankan asalkan disesuaikan dengan kondisi sekolah yang ada di Indonesia, misalnya Sekolah Bertaraf Internasional, Sekolah Standar Nasional, Sekolah olah raga, sekolah seni, sekollah reguler (biasa). Artinya soal yang ada haruslah melihat perbedaan yang ada, atau malah dibedakan sama sekali.

  2. Pemerintah memberi sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan.

  3. Materi UN seharusnya imbang dalam hal aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

  4. Aturan yang jelas tentang KTSP dan UN beserta hal-hal yang berhubungan dengan itu.

  5. Penting untuk diperhatikan adalah tingkat kualitas lulusan bukan kuantitas.

  6. UN bukan komoditas politik, karena pemerintah daerah akan menyoroti hasil UN dari sisi politis, padahal pendidikan harusnya lebih independen dan tidak di intervensi.

  7. Atau UN tetap ada tetapi tidak berpengaruh pada kelulusan (artinya semua siswa lulus/tamat) tetapi nilai UN dicantumkan dalam ijasah/STTB, sehingga diharapkan kecurangan dalam UN bisa ditekan/diminimalkan karena semua akan lulus/tamat berapapun nilainya (dan yang benar-benar serius belajar akan mendapat bagus pula, sedang yang kurang serius pasti akan puas dengan hasil yang memang diusahakan sendiri).  Pemerintah akan dapat gambaran pendidikan seutuhnya (tanpa rekayasa), dunia kerja mendapat kualitas sesungguhnya, pendidikan selanjutnya juga bebas melakukan tes penerimaan sendiri.


Dari sekian banyak pendapat, saya yakin pemerhati pendidikan, pendidik, maupun anak didik juga memiliki pendapatnya sendiri. Iklim demokrasi sekarang ini sangat bagus untuk berpendapat, meskipun akan lebih baik lagi diikuti dengan solusi yang ditawarkan. Sekian

Disqus Shortname

Comments system