Showing posts with label Budaya Jawa. Show all posts
Showing posts with label Budaya Jawa. Show all posts

Thursday, 3 November 2016

Pranata Mangsa: Local Genius yang kian tergerus



Anomali cuaca. Kira-kira begitu para ahli dibidang iklim berkata tentang kondisi cuaca yang sekarang susah untuk diprediksi. Kontras dengan kondisi sekitar tahun 1980-1990 saat penulis berada dibangku sekolah dasar. Saat itu "pranata mangsa" yang dipelajari disekolah dapat diamati secara mudah dilingkungan sekitar, namun dewasa ini akan sangat susah. Pranata mangsa merupakan "local genius" masyarakat Jawa dalam menentukan musim dalam setahun kalender. 

Masyarakat Jawa dengan ilmu "titen", suatu ilmu tentang pengamatan-meneliti tentang segala hal, telah mencermati tentang perubahan yang ada di alam untuk kemudian dituangkan dalam tulisan atau bahkan dimasukkan kedalam suatu ajaran tak tertulis yang dikenal dengan "pranata mangsa". Pranata berarti suatu urutan-rangkaian, sedangkan mangsa memiliki arti musim. Pranata mangsa adalah pemilahan-pembagian musim menurut masyarakat Jawa. Pengamatan masyarakat Jawa begitu luar biasa terhadap alam. Keselarasan antara kehidupan manusia dengan kehidupan alam semesta begitu dijunjung tinggi. 

Friday, 24 September 2010

Kekerabatan Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang kuat dalam sistem kekerabatan meskipun hal tersebut tidak diwujudkan ke dalam penyematan nama keluarga dibelakang nama pribadi para anggota masyarakatnya. Sistem kekerabatan Jawa dapat dilihat dari urutan generasi, dimulai dari tingkat anak, keatas yaitu cucu-buyut-canggah-wareng-udek udek-gantung siwur-galih asem-debog bosok. Hierarki generasi bagi masyarakat Jawa benar-benar diperhatikan. 
Selain hierarki , kuatnya sistem kekerabatan masyarakat Jawa diantaranya terlihat dalam :
  • Upacara Kehamilan
Sejak masih dalam kandungan, kekerabatan sudah mulai dijalin. Selamatan 4 bulan kehamilan, kemudian ada juga mitoni (7 bulan) sampai dengan kelahiran, dan lainnya, semua diadakan upacara/selamatan. Hal ini membuktikan bahwa, minimal dalam keluarga, ikatan batin diantara anggota keluarga demikian kuat. Keadaan ini terus berlanjut sampai dengan dewasa.

Wednesday, 20 January 2010

Satu atau Dua Dinasti di Mataram Kuno



Perdebatan tentang dinasti yang memerintah kerajaan Mataram Kuno yang pernah hidup di Jawa Tengah masih menjadi hal yang menarik sampai sekarang ini. Dinasti tersebut adalah Sanjaya dan Syailendra  Setiap pihak mempunyai argumen yang kuat dengan bukti yang sama, hanya beda dalam penafsiran saja, karena memang uniknya mempelajari sejarah adalah bukti yang sama dapat membuat interpretasi yang berlainan. Sebagian besar data prasasti yang digunakan adalah Prasasti Ligor, Prasasti Sangkara, Prasasti Karangtengah, Prasasti Sri Kahulunan, dan beberapa prasasti lain. Perbedaan pendapat tersebut bagi penulis adalah rahmat tersendiri. Di dalam tulisan ini merupakan pemikiran penulis dan semua penilaian dikembalikan kepada pembaca, karena bagi penulis kebenaran yang hakiki hanya milik-Nya.

Di dalam kesejarahan Indonesia, belum pernah penulis jumpai tentang dua dinasti yang memerintah satu kerajaan, kecuali di Mataram Kuno Jawa Tengah yang bagi mereka yang berpendapat dua dinasti. Dalam kebiasaan politik kerajaan dimasa lalu, sepengetahuan penulis, hanya ada satu dinasti yang memegang pemerintahan, jika ada yang lain pasti terjadi saling mengalahkan, sehingga nantinya hanya satu yang akan muncul ke permukaan, karena yang berhak mengeluarkan prasasti adalah dinasti penguasa. Sebagai contoh adalah dinasti Airlangga yang berarkhir di pemerintahan Kediri (raja Kertajaya), meskipun sebelumnya sudah terjadi perpecahan dimasa Panjalu (Kediri) dan Jenggala, yang masih satu keturunan Airlangga, meskipun kemudian dapat disatukan oleh Jayabaya (Kediri). Dinasti Airlangga dikalahkan oleh Dinasti Rajasa , dengan Ken Arok sebagai "vamca tilaka", peletak dasar dinasti, meskipun yang menyematkan gelar terebut adalah para keturunannya yang memerintah Singosari-Majapahit.

Saturday, 9 January 2010

Candi Karangnongko


Candi yang satu ini merupakan candi yang belum direkonstruksi ulang disaat penulis berkunjung ke sana tahun 2002/2003. Berada ditepi sungai yang jernih di kecamatan Karang nongko, Klaten, Jawa Tengah. Menilik dari sisa yang ada merupakan candi Hindu (lihat Lingga yang cukup besar dipegang penulis). Tidak jauh dari reruntuhan candi terdapat Candi Merak yang terdaapat ditengah pemukiman warga.
 
 

Candi Gunung Wukir



Candi Gunung Wukir merupakan candi tempat ditemukan prasasti tertua yang ditemukan di Jawa dan menyebutkan tentang pulau Jawa (Yawadwipa). Prasati tersebut dikeluarkan oleh raja Sanjaya yang memerintah di Mataram Kuno. Prasasti yang dimaksud adalah Prasasti Canggal.
Candi tersebut merupakan tempat pemujaan Siwa, terlihat adanya Yoni yang berukuran besar yang berada ditengah ruang utama (perkiraan karena candi sudah rusak) yang didepannya masih terdapat arca Nandi yang merupakan kendaraan Siwa.
Lokasi candi berada di puncak sebuah bukit, didaerah Salam, Magelang-Jateng. Pada saat penulis berkunjung kesana, jalan menuju candi masih berupa jalan setapak, dan dikelilingi perkebunan yang cukup lebat dan masih banyak terdapat hewan liar (kera).


Candi Ijo



Candi Ijo berlokasi di Bokoharjo, Sleman-DIY. Candi Hindu ini merupakan candi masa Mataram Kuno yang mempunyai susunan rebah kebelakang dengan candi utama/induk berada di belakang kompleks, sedangkan pada umumnya candi masa Mataram Kuno memiliki susunan terpusat dengan candi induk ditengah dikelilingi candi perwara atau candi yang berdiri sendiri-sendiri (artinya bukan suatu kompleks percandian).Pada saat penulis berkunjung kesana ditahun 2002/2003 kompleks candi yang berada di lereng perbukitan ini sedang berada dalam tahap perbaikan.


Candi Gedong Songo


Berada di ketinggian lereng gunung Ungaran, membuat sejuk pengunjung Candi Gedongsongo. Candi Hindu yang dibangun sejaman dengan kerajaan Mataram Kuno (meskipun belum ditemukan prasasti tentang pembangunannya) ini memiliki sembilan (songo) candi dalam kompleks yang tersebar diberbagai tempat. Pemujaan terhadap Siwa sangat terlihat dari bentuk dan relief yang terdapat dicandi tersebut. Hanya sayang sampai sekarang candi yang masih utuh hanya ada tujuh candi saja.

Candi Dieng




Kompleks Dieng merupakan kompleks candi Hindu yang cukup besar dan tersebar diberbagai tempat. Jika menilik dari kata, Dieng berasal dari Dang-Hyang yang artinya tempat para dewa. Kiranya benar adanya karena memang tempat tersebut merupakan tempat berdirinya candi yang mana disekitar tempat tersebut masih banyak terdapat sisa-sisa “umpak” bangunan dari kayu, sehingga dimungkinkan dahulu merupakan asrama untuk mendalami agama Hindu.


Bukti lain adanya pemandian kuno/patirtan yang memang biasanya identik dengan pemukiman dan kompleks tempat ibadah, dalam hal ini candi. Dieng yang tidak jauh dari daerah Warak , mengingatkan kita pada nama raja yang berada di daftar prasasti Kedu dan prasasti Wanua Tengah III yang menyebutkan Sri Maharaja Rakai Warak. Dengan demikian tidak salah jika menarik kesimpulan bila kompleks candi di Dieng dibangun pada masa kerajaan Mataram Kuno.


Candi di kompleks Dieng dan patirtan banyak dinamai oleh penduduk sekitar dengan nama tokoh di pewayangan. Alasan pengambilan nama tokoh pewayangan sampai sekarang belum penulis ketahui. Mungkin para pembaca ada yang mengetahui, silahkan untuk dikomentari.

Friday, 8 January 2010

Candi Borobudur


Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia yang dibangun dimasa kerajaan Mataram Kuno. Menurut prasasti Sri Kahulunan menyebutkan adanya pendirian Kamulan ing Bhumi sambhara.....(yang oleh paral ahli diprediksi menjadi Kamulan ing Bhumi Sambhara Budhara). Terlepas dari perdebatan tahun pendirian, yang jelas candi tersebut didirikan diatas sebuah bukit yang memang dalam filosofi Jawa Kuno, tempat yang tinggi (dan biasanya sepi) mudah untuk bermeditasi atau mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Disamping Borobudur memiliki filosofis untuk pencapaian kesempurnaan dalam hal ini mencapai nirwana.

Thursday, 7 January 2010

Candi Barong


Candi Barong berada di ketinggian bukit, di Bokoharjo, Sleman, DIY. Marupakan candi Hindu yang tidak memiliki ruang candi. Pernah ditemukan arca Dewi Sri, kemungkinan untuk memuja kesejahteraan karena memang disekitar candi daerah tersebut gersang, karena merupakan bukit kapur. Di pelataran candi masih terlihat "umpak" yang biasanya merupakan pondasi suatu bangunan yang berasal dari kayu.

Candi Banyunibo


Candi Banyunibo berada di kelurahan Bokoharjo, Sleman, DIY. Merupakan candi Budha, terlihat dari stupa yang berada dipuncak candi. Sayang arca yang berada di relung seputar candi hampir sebagian besar sudah hilang.

Sunday, 12 July 2009

Tokoh Sejarah



Tokoh dalam sejarah, entah itu sebagai tokoh utama atau hanya sekilas sangatlah penting untuk kelanjutan sejarah dikemudian hari. Hal ini dapat dilihat dalam tokoh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Sebagian besar khalayak ramai mengatakan bahwa beliau adalah tokoh sentral dalam peristiwa tersebut, meski secara bukti empiris belum dapat ditampilkan. Menurut pendapat saya, baik Sri Sultan Hamengkubuwono IX maupun Jendral Soeharto (waktu itu masih Letkol) sama-sama memiliki peran penting. Disatu pihak berperan dalam ide sedang yang lain berperan dalam komando lapangan.
Kemudian lebih jauh lagi, tentang penokohan Ken Arok, yang dianggap kontroversial, jika kita hanya berpedoman pada kitab Pararaton saja, karena dalam kitab tersebut menyatakan bahwa Ken Arok adalah anak dewa Brahma. Kita sebagai manusia modern, menurut versi kita (karena dimasa depan kita hanyalah manusia masa lalu), akan mengatakan itu hanya dongeng belaka, padahal dimasa itu, yang ada hanyalah manusia yang berpikir secara keagamaan dan memiliki sifat tertutup yang tinggi terhadap hal-hal yang dianggap tabu, apalagi menyangkut tentang tokoh besar. Jika kita arif dan bijaksana serta memiliki rasa nasionalisme, maka kita akan berpikir bahwa Ken Arok memang nyata ada yang menjadi raja, hanya saja berasal dari golongan rakyat biasa, dimana masa itu yang dipandang hanyalah kaum bangsawan atau yang berhubungan langsung dengan istana (raja), sehingga perlu dicari "pembenaran" tentang sahnya Ken Arok menjadi raja, maka diambillah keturunan "Dewa Brahma". Pertanyaan pun muncul, kenapa yang dipakai untuk mensahkan dari "dewa" bukannya "dewi"?jangan lupa, kultur Jawa adalah patrimonial atau garis ayah/laki-laki.Sifat patrimonial ini sampai sekarang masih terasa jelas.Orang Jawa akan sangat merasa bangga jika mendapatkan keturunan laki-laki, begitu pula dalam hal waris, "wong lanang sepikulan, wong wadon segendhongan", yang berarti anak lelaki akan mendapat bagian dua kali lebih banyak daripada wanita.

Demikian semoga berguna bagi siapa saja...........

Dwi Hatmoko, S.Pd

Disqus Shortname

Comments system