Friday, 24 September 2010

Kekerabatan Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang kuat dalam sistem kekerabatan meskipun hal tersebut tidak diwujudkan ke dalam penyematan nama keluarga dibelakang nama pribadi para anggota masyarakatnya. Sistem kekerabatan Jawa dapat dilihat dari urutan generasi, dimulai dari tingkat anak, keatas yaitu cucu-buyut-canggah-wareng-udek udek-gantung siwur-galih asem-debog bosok. Hierarki generasi bagi masyarakat Jawa benar-benar diperhatikan. 
Selain hierarki , kuatnya sistem kekerabatan masyarakat Jawa diantaranya terlihat dalam :
  • Upacara Kehamilan
Sejak masih dalam kandungan, kekerabatan sudah mulai dijalin. Selamatan 4 bulan kehamilan, kemudian ada juga mitoni (7 bulan) sampai dengan kelahiran, dan lainnya, semua diadakan upacara/selamatan. Hal ini membuktikan bahwa, minimal dalam keluarga, ikatan batin diantara anggota keluarga demikian kuat. Keadaan ini terus berlanjut sampai dengan dewasa.

Tuesday, 7 September 2010

Kisah Walisongo dalam Ilmu Modern

Dalam budaya Jawa, bahkan didalam Studi Sejarah di Indonesia, khususnya tentang Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, dalam hal ini Jawa, maka tidak terpisahkan tentang kisah Walisongo. Walisongo merupakan salah satu penyebar dan pengembang agama Islam di Jawa. Bila dalam film dan  "folklore" (cerita rakyat), seringkali digambarkan dengan berbagai macam kesaktian dan unsur mistis yang kuat. Unsur mistis yang kuat nampaknya tidak bisa dipisahkan dari alam pemikiran masyarakat masa lalu yang memang kental dengan suasana rohani yang kuat, disamping masih terbawa budaya masa sebelumnya.


Seiring dengan perkembangan zaman, maka hendaknya dalam memunculkan kisah Walisongo ke bentuk film atau pun lainnya sebaiknya diikuti dengan logika-logika penalaran dan hasil penelitian ilmiah. Hal ini penting karena, generasi muda sekarang berpikir lebih kritis, sehingga diharapkan film atau pun kisah lainnya tentang Walisongo bukan dianggap sebagai alat penghibur saja, melainkan mendapatkan nilai-nilai ilmiah yang dapat dimengerti secara logis empiris. Selama ini yang dimunculkan dalam kisah Walisongo, yang di film kan atau karya yang lain,  (sepertinya) hanya didasarkan pada folklore (cerita rakyat)  semata.


Kesimpulan ini saya ambil setelah melihat berbagai versi film atau karya lain tentang Walisongo. Berikut adegan yang terasa "agak" janggal :




  1. Terjadi pertemuan antar anggota Walisongo dalam satu waktu dan tempat. Padahal dari anggota Walisongo ke-1 hingga ke-9, tidak hidup dalam satu masa, hanya beberapa yang hidup dalam satu masa.

  2. Penggunaan semacam alat (tasbih, dsb)  yang kemudian menjadi "semacam pusaka". Hal ini sangat bertentangan dengan Islam, sehingga tidak mungkin mereka mengingkari ajaran yang mereka sebarkan sendiri.

  3. Penggunaan semacam "magic" dalam menampilkan sesuatu. Misalnya dalam pembangunan sesuatu.Alangkah baiknya bila ditelaah dengan keilmuan modern, karena Islam tidak pernah bertentangan dengan ilmu ilmiah modern.

  4. Cerita yang sepertinya melebih-lebihkan, dapat membahayakan karena dianggap sakti sehingga dikhawatirkan muncul semacam kultus.


Berdasarkan kesimpulan tersebut, saya jadi sedikit membandingkan dengan kisah dalam Pararaton (Katutunira Ken Arok). Kisah tersebut memang mengandung kebenaran, namun unsur mistis dan hal diluar logika sangat kental. Hanya saja bila diteliti lebih lanjut maka akan tersusun suatu kisah sejarah yang bila di hadapkan dengan bukti sejarah lainnya (di "cross chek") maka ada kebenarannya.


Berangkat dari hal tersebut, agaknya sangat bagus untuk menampilkan kisah Walisongo yang sudah disesuaikan dengan penelitian ilmiah. Saya kira banyak peneliti, baik dari Indonesia maupun luar negeri, yang meneliti perkembangan Islam, termasuk tentang aspek Kesejarahan Walisongo. Saya salut dengan penelitian (alm) Slamet Muljana tentang Walisongo. Beliau berani mengangkat tentang peran etnis Tionghoa dan campuran Tionghoa-Jawa dalam Walisongo, yang mungkin bila diangkat kedalam film atau pun karya yang lain, akan membuat kehebohan (tentang hal ini perlu penelitian lebih lanjut). Meskipun ada juga pendapat lain dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa Babad atau Epos yang banyak sekali uraian di luar akal sehat seharusnya dilihat sebagai "lambang atau perlambang", sehingga dapat dilihat dengan jelas ada apa dibalik pengisahan yang demikian itu. Hal ini mengingat orang Jawa sangat kental dengan "lambang atau simbol" tertentu. Didalam kehidupan orang Jawa, tidak pernah lepas dari "simbol" yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adalah hal-hal tertentu yang dianggap tabu (Jawa = ora ilok, tidak boleh ; Sunda = pamali) tetapi tetap harus disampaikan meskipun dengan "simbol atau lambang" tertentu. Kiranya sumber sejarah (baik Babad, Epos, atau Hikayat) yang dipakai dalam karya sejarah atau film berlatar sejarah lebih baik bila sudah diteliti secara kritis terlebih dahulu, mengingat pemakaian "simbol atau lambang" oleh orang Jawa masa lalu, bahkan sampai sekarang, kadang menyesatkan jika hanya diterima secara mentah-mentah.


Selanjutnya, penggunaan unsur "magic" dalam adegan film atau karya lain, lebih baik dikurangi atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan sesuatu yang masuk akal. Misalnya, pembuatan Masjid Agung Demak, dengan "soko tatal", harusnya disesuaikan dengan budaya maritim Indonesia, bahwa tiang kapal dengan menggunakan kayu kecil yang disatukan lebih kuat dari kayu utuh. Apabila dilihat dari "simbol atau lambang" yang dimaksud diatas, kiranya  bisa diinterpretasikan sebagai simbol persatuan dimasa awal-awal Islam atau juga sebagai upaya gotong royong dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian diharapkan kisah Walisongo akan diterima bukan hanya sebagai cerita rakyat semata, tetapi terbukti dalam segi ilmiah.


Semoga dapat menambah informasi bagi semua. Amien


 


 

Sunday, 29 August 2010

Semangat Pemuda Generasi Penerus Bangsa

Melihat perkembangan pemuda akhir-akhir ini membuat miris dan prihatin. Mentalitas yang banyak memikirkan hal yang instant semakin membuat mereka terlena, padahal dalam mewujudkan impian dan cita-cita mereka dibutuhkan cucuran keringat usaha dan doa. Suatu hari saya menanyakan kepada beberapa anak didik tentang impian mereka, karena bagi saya cita-cita diawali dari mimpi yang ingin diwujudkan. Jawaban yang saya dapatkan adalah "wah ndak ada itu Pak", atau "hehehhehe.....apa ya....? sambil balik bertanya".  Berbeda sekali dengan masa dahulu, sekitar 10 tahun lalu, pasti sebagian besar ada jawaban, misalnya "jadi pengusaha krupuk", "jadi dokter", dan lainnya. Jawaban yang tegas dan lugas segera tersaji, meskipun jika ditelusur lebih lanjut tentang usaha dan doa yang sudah dilakukan masih perlu dikaji lagi. Walau demikian patut dihargai akan cita-cita mereka.


Ketegasan dalam memiliki cita-cita mengundang kekaguman tersendiri, karena cita-cita merupakan impian yang nantinya diwujudkan, merupakan arah dan tujuan sehingga dalam perjalanan hidupnya tidak terasa hampa. Adapun yang tidak (bagi saya belum) memiliki cita-cita atau impian untuk diwujudkan haruslah terus mendapat bimbingan. Keadaan tersebut  mungkin dikarenakan cita-cita setinggi langit yang dipunya terasa susah untuk dicapai secara logika mereka. Kesusahan yang dipikirkan mereka itu diantaranya perasaan minder dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya yang melingkupi dirinya dan keluarganya.


Bagi mereka yang belum memiliki impian untuk diwujudkan (baca : cita-cita) karena keadaan demikian haruslah dibimbing oleh orang-orang disekitarnya untuk diarahkan kepada pengembangan hoby dan bakatnya. Pemberian motivasi berupa segala sesuatu tidaklah instan, seperti apa yang disajikan dalam sebagian besar sinetron Indonesia. Misalnya saja, anak didik dengan kemampuan melukis, bisa diarahkan dan dimotivasi menjadi seorang pelukis, bengkel modifikasi motor (reparasi cat mobil), sablon, dan lainnya. Intinya adalah sesuatu yang simpel namun dapat menjadi modal hidupnya dikemudian hari.


Bimbingan juga akan berbeda kepada mereka yang sudah mendapat "fasilitas" dalam kehidupannya namun belum memiliki apa yang di cita-citakan nya kelak. Pendekatan secara intensif agaknya cukup membantu "membangunkan" dirinya. Hal ini dibutuhkan karena bagi mereka yang telah mendapatkan "fasilitas" dalam hidupnya cenderung kepada pemikiran instant. Keadaan tersebut tentu akan berbahaya jika diteruskan, karena kehidupan nyata sangat berat dan jauh dari bayangan mereka selama ini. Selain "fasilitas" yang membius, juga karena beberapa media yang cenderung mengedepankan kehidupan glamour, dan gaya hedonis serta kapitalisme yang begitu kuat masuk kedalam masyarakat kita.



 

Disqus Shortname

Comments system