Tuesday, 2 November 2010

Kalikajar Pusat Duku di Purbalingga

Desa Kalikajar yang berada di bagian tenggara Purbalingga merupakan profil sebuah desa kecil yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Desa yang berada di kecamatan Kaligondang ini berbatasan dengan desa Penaruban, desa Kembaran Wetan, Desa Slinga, dan Desa Sempor, bagi masyarakat Purbalingga dikenal dengan produksi buah Duku nya yang manis. Kualitas duku yang cukup bagus menjadikan pohon duku merupakan aset berharga bagi warga desa tersebut, dengan kualitas yang bagus tersebut itulah membuat harga duku asli Kalikajar lebih tinggi dari duku yang lainnya. Ibarat kata, jalan atau bangunan di desa tersebut mengikuti pohon duku yang ada, karena ada perasaan "sayang atau eman-eman" bila harus menebang pohon duku, meskipun untuk "menunggu" pohon duku berbuah dibutuhkan waktu yang cukup lama (walau berasal dari cangkok).


Penulis membuktikan memang benar duku asli dari Kalikajar berbeda dengan duku dari daerah lain. Istilahnya serupa tapi tak sama. Berikut ciri-ciri dari duku asli Kalikajar :




  1. Kulit lunak, bila dipijit mudah, karena kulitnya tipis

  2. Isi buah bening, tidak keruh seperti susu

  3. Rasa manis


Pasar "dadakan" atau "tiban" disepanjang jalan Purbalingga-Pengadegan via Kalikajar selalu ada bila musim buah duku. Hal ini terjadi jika produksi buah Duku sedang melimpah. Namun apabila produksi tidak begitu banyak, misalnya karena curah hujan yang tinggi sehingga merontokkan bakal buah, maka pasar "tiban" tidak ada, jikalaupun ada hanya sedikit pedagang yang berjualan dan juga tidak lama usia pasar "tiban" tersebut (paling-paling tidak lebih dari 3 bulan). Disamping susahnya suplai buah duku, juga dikarenakan banyak buah duku Kalikajar yang dikirim ke luar kota.


Selamat mencoba kemanisan duku asli Kalikajar.

Friday, 24 September 2010

Kekerabatan Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang kuat dalam sistem kekerabatan meskipun hal tersebut tidak diwujudkan ke dalam penyematan nama keluarga dibelakang nama pribadi para anggota masyarakatnya. Sistem kekerabatan Jawa dapat dilihat dari urutan generasi, dimulai dari tingkat anak, keatas yaitu cucu-buyut-canggah-wareng-udek udek-gantung siwur-galih asem-debog bosok. Hierarki generasi bagi masyarakat Jawa benar-benar diperhatikan. 
Selain hierarki , kuatnya sistem kekerabatan masyarakat Jawa diantaranya terlihat dalam :
  • Upacara Kehamilan
Sejak masih dalam kandungan, kekerabatan sudah mulai dijalin. Selamatan 4 bulan kehamilan, kemudian ada juga mitoni (7 bulan) sampai dengan kelahiran, dan lainnya, semua diadakan upacara/selamatan. Hal ini membuktikan bahwa, minimal dalam keluarga, ikatan batin diantara anggota keluarga demikian kuat. Keadaan ini terus berlanjut sampai dengan dewasa.

Tuesday, 7 September 2010

Kisah Walisongo dalam Ilmu Modern

Dalam budaya Jawa, bahkan didalam Studi Sejarah di Indonesia, khususnya tentang Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, dalam hal ini Jawa, maka tidak terpisahkan tentang kisah Walisongo. Walisongo merupakan salah satu penyebar dan pengembang agama Islam di Jawa. Bila dalam film dan  "folklore" (cerita rakyat), seringkali digambarkan dengan berbagai macam kesaktian dan unsur mistis yang kuat. Unsur mistis yang kuat nampaknya tidak bisa dipisahkan dari alam pemikiran masyarakat masa lalu yang memang kental dengan suasana rohani yang kuat, disamping masih terbawa budaya masa sebelumnya.


Seiring dengan perkembangan zaman, maka hendaknya dalam memunculkan kisah Walisongo ke bentuk film atau pun lainnya sebaiknya diikuti dengan logika-logika penalaran dan hasil penelitian ilmiah. Hal ini penting karena, generasi muda sekarang berpikir lebih kritis, sehingga diharapkan film atau pun kisah lainnya tentang Walisongo bukan dianggap sebagai alat penghibur saja, melainkan mendapatkan nilai-nilai ilmiah yang dapat dimengerti secara logis empiris. Selama ini yang dimunculkan dalam kisah Walisongo, yang di film kan atau karya yang lain,  (sepertinya) hanya didasarkan pada folklore (cerita rakyat)  semata.


Kesimpulan ini saya ambil setelah melihat berbagai versi film atau karya lain tentang Walisongo. Berikut adegan yang terasa "agak" janggal :




  1. Terjadi pertemuan antar anggota Walisongo dalam satu waktu dan tempat. Padahal dari anggota Walisongo ke-1 hingga ke-9, tidak hidup dalam satu masa, hanya beberapa yang hidup dalam satu masa.

  2. Penggunaan semacam alat (tasbih, dsb)  yang kemudian menjadi "semacam pusaka". Hal ini sangat bertentangan dengan Islam, sehingga tidak mungkin mereka mengingkari ajaran yang mereka sebarkan sendiri.

  3. Penggunaan semacam "magic" dalam menampilkan sesuatu. Misalnya dalam pembangunan sesuatu.Alangkah baiknya bila ditelaah dengan keilmuan modern, karena Islam tidak pernah bertentangan dengan ilmu ilmiah modern.

  4. Cerita yang sepertinya melebih-lebihkan, dapat membahayakan karena dianggap sakti sehingga dikhawatirkan muncul semacam kultus.


Berdasarkan kesimpulan tersebut, saya jadi sedikit membandingkan dengan kisah dalam Pararaton (Katutunira Ken Arok). Kisah tersebut memang mengandung kebenaran, namun unsur mistis dan hal diluar logika sangat kental. Hanya saja bila diteliti lebih lanjut maka akan tersusun suatu kisah sejarah yang bila di hadapkan dengan bukti sejarah lainnya (di "cross chek") maka ada kebenarannya.


Berangkat dari hal tersebut, agaknya sangat bagus untuk menampilkan kisah Walisongo yang sudah disesuaikan dengan penelitian ilmiah. Saya kira banyak peneliti, baik dari Indonesia maupun luar negeri, yang meneliti perkembangan Islam, termasuk tentang aspek Kesejarahan Walisongo. Saya salut dengan penelitian (alm) Slamet Muljana tentang Walisongo. Beliau berani mengangkat tentang peran etnis Tionghoa dan campuran Tionghoa-Jawa dalam Walisongo, yang mungkin bila diangkat kedalam film atau pun karya yang lain, akan membuat kehebohan (tentang hal ini perlu penelitian lebih lanjut). Meskipun ada juga pendapat lain dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa Babad atau Epos yang banyak sekali uraian di luar akal sehat seharusnya dilihat sebagai "lambang atau perlambang", sehingga dapat dilihat dengan jelas ada apa dibalik pengisahan yang demikian itu. Hal ini mengingat orang Jawa sangat kental dengan "lambang atau simbol" tertentu. Didalam kehidupan orang Jawa, tidak pernah lepas dari "simbol" yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adalah hal-hal tertentu yang dianggap tabu (Jawa = ora ilok, tidak boleh ; Sunda = pamali) tetapi tetap harus disampaikan meskipun dengan "simbol atau lambang" tertentu. Kiranya sumber sejarah (baik Babad, Epos, atau Hikayat) yang dipakai dalam karya sejarah atau film berlatar sejarah lebih baik bila sudah diteliti secara kritis terlebih dahulu, mengingat pemakaian "simbol atau lambang" oleh orang Jawa masa lalu, bahkan sampai sekarang, kadang menyesatkan jika hanya diterima secara mentah-mentah.


Selanjutnya, penggunaan unsur "magic" dalam adegan film atau karya lain, lebih baik dikurangi atau bahkan dihilangkan dan diganti dengan sesuatu yang masuk akal. Misalnya, pembuatan Masjid Agung Demak, dengan "soko tatal", harusnya disesuaikan dengan budaya maritim Indonesia, bahwa tiang kapal dengan menggunakan kayu kecil yang disatukan lebih kuat dari kayu utuh. Apabila dilihat dari "simbol atau lambang" yang dimaksud diatas, kiranya  bisa diinterpretasikan sebagai simbol persatuan dimasa awal-awal Islam atau juga sebagai upaya gotong royong dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian diharapkan kisah Walisongo akan diterima bukan hanya sebagai cerita rakyat semata, tetapi terbukti dalam segi ilmiah.


Semoga dapat menambah informasi bagi semua. Amien


 


 

Disqus Shortname

Comments system