Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Saturday, 4 February 2017

Amazing of Japan (Keajaiban Jepang)

Jepang merupakan negara yang memiliki sejuta pesona keajaiban. Negara dengan kemajuan luar biasa namun mampu menjaga kebudayaan dan alam sehingga dapat berselaras dalam kehidupan. Berwisata ke Jepang akan membawa sensasi tersendiri. Wisata budaya, wisata alam, sampai dengan wisata sejarah dan kuliner. Wisata ke Jepang sekarang menjadi program tersendiri bagi pemerintah Jepang. Pemerintah Jepang berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke negaranya melalui program wisata HALAL. Mitra pemerintah Jepang banyak yang memiliki penduduk muslim, sehingga produk HALAL begitu diupayakan untuk meningkatkan wisatawan dari negara yang memiliki penduduk muslim.
Festival musim semi dengan berbagai kegiatannya semakin menambah destinasi menarik akan Jepang. Musim semi begitu menarik di Jepang. Bunga sakura. Ya Sakura. Bunga khas Jepang tersebut bermekaran di musim semi.
Transportasi menuju Jepang dan selama di Jepang menjadi perhatian serius. Penerbangan ke Jepang tidak hanya dilakukan oleh Japan Air Lines tetapi juga ANA dengan paket HAnavi yang memudahkan. Transportasi darat dengan bus, kereta cepat Shinkansen, hingga keret gantung atau cabble car, tersedia dengan kenyamanan yang memuaskan.
Perjalanan wisata akan menyenangkan dan memberi kenyamanan jika dipersiapkan terlebih dahulu. Persiapan tersebut tentu akan sangat baik dengan diskusi bersama ahlinya. Wisata ke Jepang yang ahli dalam hal ini adalah HIS Travel Indonesia. Mitra dalam berwisata.




Monday, 24 October 2016

Pembangunan Pariwisata yang Menyeluruh

Pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi negara Indonesia. Perolehan devisa yang begitu besar dari sektor tersebut harus diimbangi dengan pembangunan pariwisata itu sendiri. Pembangunan pariwisata perlu dilakukan secara menyeluruh. Cakupan menyeluruh yaitu pembangunan fisik dan non fisik. Pembangunan fisik meliputi pembangunan sarana dan prasarana pariwisata. Pembangunan non fisik meliputi pembangunan kesadaran wisata dalam diri masyarakat Indonesia.
 Ekowisata berbasis Agro
Sumber: Koleksi Pribadi

 Eduwisata berbasis Teknologi
Sumber: Koleksi Pribadi

Thursday, 6 October 2016

Sadar Informasi demi Kemajuan

 

Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda tetap satu jua, merupakan semboyan Indonesia yang memiliki beribu-ribu pulau dengan beragam budaya. Keanekaragaman yang ada merupakan kekayaan tak ternilai. Aset yang demikian berharga sudah seharusnya dijaga dan dikembangkan sebagai modal pembangunan. Salah satu sarana dan prasarana untuk membangun bangsa yang bermodalkan budaya adalah Teknologi Informasi.


Teknologi Informasi dapat mendekatkan berbagai suku bangsa sehingga diharapkan dapat terjadi saling pengertian yang berujung pada persatuan dan kesatuan yang kokoh. Persatuan dan kesatuan juga dapat terjalin antara pemerintah dan rakyat melalui Teknologi Informasi. Transparansi dan akuntabilitas kebijakan pemerintah dapat segera diketahui oleh segenap rakyat. Teknologi informasi pula dapat dijadikan sebagai media promosi perencanaan pembangunan, proses pembangunan, dan kemajuan pembangunan yang telah dicapai.


dsc04630


Teknologi Informasi yang semakin maju juga menuntut kemajuan bangsa dalam menyaring segala informasi. Era keterbukaan informasi yang ada perlu diimbangi dengan peran pemerintah dalam membimbing rakyat untuk memilah dan memilih informasi. Hal itu salah satu cara mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejuta domain yang diberikan pemerintah adalah salah satu cara pemerintah agar rakyat semakin mengenal teknologi informasi. Teknologi informasi yang ada benar-benar digunakan untuk tujuan pembangunan. Apresiasi pemerintah juga diberikan kepada daerah yang memiliki akses teknologi informasi terbaik, salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi.


Perhatian pemerintah pada teknologi informasi sudah seharusnya diimbangi oleh segenap elemen bangsa untuk semakin mengenalkan budaya Indonesia pada dunia. Berbagai hasil budaya seperti kerajinan, kesenian, dan pesona wisata budaya yang lain merupakan bahan promosi wisata. Promosi wisata dapat dilakukan secara sederhana melalui teknologi informasi. Media sosial, web, blog, dan berbagai akses melalui teknologi informasi dapat digunakan.


Tak dapat dipungkiri kemajuan teknologi informasi dapat digunakan sebagai sarana pembangunan Indonesia. Namun semua itu tergantung pada manusia yang menggunakannya. Man behind the gun. Kemajuan teknologi informasi dapat juga dijadikan sarana penghancuran suatu bangsa. Berbagai berita negatif, provokasi yang bersifat merusak, dan lainnya dapat tersebar dengan cepat melalui teknologi informasi. Maka dari itu, sudah seharusnya kita dan pemerintah bersinergi untuk menyebarluaskan sadar informasi. Sadar akan ada informasi, sada akan akan crosschek informasi, sadar akan kebenaran informasi, dan sadar untuk menyebarluaskan informasi.


Mari gunakan kemajuan teknologi informasi secara bijak demi pembangunan, persatuan dan kesatuan, serta memperkenalkan Indonesia pada dunia.


Thursday, 15 September 2016

Wisata Keren di Jawa Tengah

 

candi-borobudur-1


Kegiatan wisata merupakan bukan lagi menjadi gaya hidup, tetapi suatu kebutuhan hidup. Wisatawan, orang yang melakukan wisata, dapat memetik berbagai manfaat dari berwisata. Manfaat berwisata diantaranya adalah mendapatkan kesegaran dalam pemikiran akibat stress pekerjaan, menambah wawasan, menambah ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Ketercapaian manfaat yang maksimal juga didukung oleh tempat wisata yang akan dituju. Pemilihan tempat wisata yang mencakup 3 S (something to do, something to see, and something to buy) akan menghasilkan kemanfaatan yang besar.


Jawa tengah dengan berbagai potensi wisata menawarkan berbagai tempat wisata keren, menyenangkan, nyaman, dan tak terlupakan. Wisata sejarah, wisata alam, wisata pendidikan, wisata kuliner, sampai dengan wisata budaya dan wisata petualangan tersajikan secara komplit.


Wisata sejarah

Tempat wisata sejarah di Jawa tengah yang berkategori sejarah mencakup dari masa prasejarah sampai dengan masa kemerdekaan. Peninggalan punden berundak masa megalitikum hingga perbentengan masa kolonial. Punden berundak, menhir, dan dolmen bahkan perbagai sisa “industri” perhiasan batu masa purba ada Purbalingga.


Pamujan 1
Menhir di Dukuh Pamujan-Purbalingga

Sumber: https://cahyanitarahardjo.wordpress.com/2013/07/02/tempat-pemujaan-di-situs-pamujan/


Thursday, 14 April 2016

Ayo Jalan-jalan ke Flores


Flores merupakan pulau yang secara administratif masuk wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur.  Flores terbagi menjadi 8 (delapan) kabupaten yaitu Manggarai Barat dengan ibukota Labuan Bajo, Manggarai dengan ibukota Ruteng, Manggarai Timur dengan ibukota Borong, Ngada dengan ibukota Bajawa, Nagekeo dengan ibukota Mbay, Ende dengan ibukota Ende, Sikka dengan ibukota Maumere, Flores Timur dengan ibukota Larantuka. dan kabupaten Lembata dengan ibukota Lewoleba. Flores memiliki destinasi wisata yang luar biasa menarik dan merata baik secara jenis wisata maupun secara daerah. Wisata religi, wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan wisata kuliner terdapat dihampir semua daerah. Persyaratan pariwisata yang berupa something to see (sesuatu yang dilihat), something to do (sesuatu yang dapat dilakukan), dan something to buy(sesuatu yang dapat dibeli) terpenuhi pada semua destinasi.

Monday, 23 November 2015

Dwarapala Singosari

Arca dwarapala yang cukup besar berada tidak jauh dari candi Singosari. Penulis, dan banyak pihak, menginterpretasikan bahwa arca dwarapala tersebut merupakan pintu gerbang menuju kraton Singosari. Penafsiran tersebut wajar karena menuju suatu istana/pusat pemerintahan tentu dibuat semegah mungkin.


[gallery ids="703,704" type="rectangular"]

Candi Singosari

Candi yang terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, ini merupakan candi Hindu dengan badan candi berada di bagian kaki candi.


[gallery ids="691,692,693,694,695,696" type="rectangular"]

Thursday, 19 November 2015

Candi Sumur

Berlokasi di tempat yang tidak jauh dari Candi Pari (hanya sekitar 50 m, masih didesa yang sama). Bagian-bagian candi masih tampak meskipun banyak kerusakan dan bagian yang hilang. Nama Sumur berasal dari sumuran yang ada diruang utama candi. Pendirian candi sumur diperkirakan sejaman dengan Candi Pari.Ragam hias yang ada hampir tidak ada.


[gallery ids="682,683,684,685" type="rectangular"]

Wednesday, 18 November 2015

Candi Pari

Candi yang berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur ini bernafaskan agama Hindu. Candi Pari diperkirakan berasal dari masa Majapahit, melihat struktur batu bata sebagai bahan pembuat candi dan angka diatas pintu gerbang ruang utama 1293 saka (ditambah 78 tahun sehingga diperoleh 1371 M). Nama candi Pari diambil dari nama tempat candi tersebut berada.

Patirtan Watugede

Satekanira Ken Dedes ring Tumapel rinowang sapaturon denira Tunggul ametung, tan sipi sihira Tunggul ametung, wahu ngidam sira ken Dedes, dadi sira Tunggul ametung akasukan, acangkrama somahan maring taman Boboji, sira Ken Dedes anunggang gilingan. Satekanira ring taman sira Ken Dedes tumurun saking padati, katuwon pagawening widhi, kengis wetisira, kengkab tekeng rahasyanira, neher katon murub denira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal, pituwi dening hayunira anulus, tan hanamadani ring listu-hayunira, kasmaran sira Ken Angrok tan wruh ring tingkahanira (Pararaton).

Friday, 13 November 2015

Candi Kidal

Anusapati dhinarma ring Kidal


Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi yang dalam  Pararaton disebutkan sebagai tempat pendharmaan Raja Anusapati sebenarnya merupakan kompleks percandian, namun kini yang tertinggal hanya candi utama saja. Candi utama yang ada juga dengan ruang utama yang kosong tanpa arca perwujudan. Perlu diketahui, sejak masa Singosari, raja yang meninggal dibuatkan arca dengan disesuaikan agama saat raja yang hidup. Arca yang dibuat selain sesuai dengan atribut agama/dewa yang dianut, juga disesuaikan dengan wajah yang bersangkutan. Disamping itu, relief yang tergambar pada candi menggambarkan profil raja, namun disesuaikan dengan cerita yang ada dalam ajaran agama.

Candi Jawi (Jajawa)

Sang Bhatara Civa Budha dhinarma ring Jajawa



Candi Jawi terletak di kaki G. Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Candi yang berada ditepi jalan menuju Tretes dari Pasuruan, memiliki suasana sejuk, khas pegunungan. Akses transportasi cukup mudah. Candi yang berlatar Hindu Siwa dan Budha, terlihat jelas di puncak yang berbentuk stupa (lambang Budha) dan ruang utama yang bersisi yoni (seharusnya dilengkapi lingga sebagai lambang Siwa.

Candi Gunung Gangsir

Candi Gunung Gangsir berlokasi di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. candi ini  berada ditengah pemukiman warga, agak susah mencarinya jika tidak disertai dengan tanya sana-tanya sini.Hehehe. Maklum papan petunjuk minimalis.

Wednesday, 22 January 2014

Sungai Brantas dari Masa ke Masa (Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)

Sungai Brantas dari Masa ke Masa


(Suatu Tinjauan Geografi, Ekonomi, dan Sejarah)


Disusun oleh Dwi Hatmoko


Gambaran Umum

Sungai Brantas adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur. Sungai yang berhulu dan bermuara di propinsi yang sama ini melewati beberapa kabupaten dan kota di Jawa Timur. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Pekerjaan Umum didapatkan bahwa Sungai Brantas secara total memiliki panjang 12.000 km2 dengan anak sungai sebanyak 485 buah (www.pu.go.id/satminkal). Aliran Sungai Brantas melintasi 9 yaitu kabupaten Malang, Blitas, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan Sidoarjo, sedangkan kota ada 6 yaitu Surabaya, Batu, Mojokerto, Kediri, Blitar, dan Malang. Begitu panjang dan besarnya Sungai Brantas ternyata memberi dampak bagi masyarakat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di DAS Brantas. Sungai Brantas begitu berperan bagi masyarakat dari masa ke masa.




  • Masa Pra Kolonial Barat


Catatan paling tua mengenai sungai Brantas adalah Prasasti Harinjing (921 M). Prasasti dimasa Mpu Sindok ini menerangkan bahwa ada perbaikan “dawuhan” yang telah dibuat dari masa sebelumnya (804 M). Prasasti Harinjing ditemukan di hulu Sungai Konto (anak Sungai Brantas).

Tuesday, 2 November 2010

Kalikajar Pusat Duku di Purbalingga

Desa Kalikajar yang berada di bagian tenggara Purbalingga merupakan profil sebuah desa kecil yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Desa yang berada di kecamatan Kaligondang ini berbatasan dengan desa Penaruban, desa Kembaran Wetan, Desa Slinga, dan Desa Sempor, bagi masyarakat Purbalingga dikenal dengan produksi buah Duku nya yang manis. Kualitas duku yang cukup bagus menjadikan pohon duku merupakan aset berharga bagi warga desa tersebut, dengan kualitas yang bagus tersebut itulah membuat harga duku asli Kalikajar lebih tinggi dari duku yang lainnya. Ibarat kata, jalan atau bangunan di desa tersebut mengikuti pohon duku yang ada, karena ada perasaan "sayang atau eman-eman" bila harus menebang pohon duku, meskipun untuk "menunggu" pohon duku berbuah dibutuhkan waktu yang cukup lama (walau berasal dari cangkok).


Penulis membuktikan memang benar duku asli dari Kalikajar berbeda dengan duku dari daerah lain. Istilahnya serupa tapi tak sama. Berikut ciri-ciri dari duku asli Kalikajar :




  1. Kulit lunak, bila dipijit mudah, karena kulitnya tipis

  2. Isi buah bening, tidak keruh seperti susu

  3. Rasa manis


Pasar "dadakan" atau "tiban" disepanjang jalan Purbalingga-Pengadegan via Kalikajar selalu ada bila musim buah duku. Hal ini terjadi jika produksi buah Duku sedang melimpah. Namun apabila produksi tidak begitu banyak, misalnya karena curah hujan yang tinggi sehingga merontokkan bakal buah, maka pasar "tiban" tidak ada, jikalaupun ada hanya sedikit pedagang yang berjualan dan juga tidak lama usia pasar "tiban" tersebut (paling-paling tidak lebih dari 3 bulan). Disamping susahnya suplai buah duku, juga dikarenakan banyak buah duku Kalikajar yang dikirim ke luar kota.


Selamat mencoba kemanisan duku asli Kalikajar.

Thursday, 29 July 2010

Studi Lapangan di Karangsambung-Kebumen

Laboratorium alam Karangsambung memang menarik untuk dikunjungi. Laboratorium alam yang dikelola oleh LIPI ini merupakan tempat studi tentang geologi. Koleksi yang komplit dari berbagai lapisan batuan terdapat disini, baik yang masih dialam maupun yang sudah dibawa untuk dipamerkan di museum geologinya.


Berlokasi di desa Karangsambung, kecamatan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, dengan kondisi alam yang masih asri membuat pengunjung betah untuk menikmati wisata keilmuan, khususnya geologi. Keadaan itu pula yang penulis temui saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Namun jalan untuk mencapai laboratorium tersebut tidaklah mudah, apalagi jika berkunjung secara rombongan menggunakan bis ukuran besar. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sempit, dengan disisi kanan dan kiri adalah sungai, areal persawahan, maupun tebing.


Penulis yang juga mengikuti kegiatan Studi Lapangan yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (MGMP IPS) Kabupaten Purbalingga, merasakan betapa sulitnya jalan yang dilalui, karena memang badan jalan yang sempit.Perjalanan yang tidak begitu jauh dari kota Kebumen, harus ditempuh lebih dari 45 menit.  Ibarat kata, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.


Laboratorium alam tersebut, selain sebagai tempat penelitian para ilmuwan geologi dan mahasiswa, juga sebagai tempat wisata menarik yang mengandung banyak hal yang bisa dipelajari. Selain itu, bagi para pendidik juga baik untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam mengajar, bahkan bisa pula membawa peserta didiknya langsung melihat dan mempelajari pembentukan bumi dilihat dari geologi. Berangkat dari banyak manfaat yang diambil itulah para guru yang tergabung dalam MGMP IPS Kabupaten Purbalingga mengadakan Studi Lapangan ke Laboratorium Alam Karangsambung.


[slideshow]


 


 


 

Wednesday, 19 May 2010

Pertanian Tradisional, Modern, dan Pemuda

Dewasa ini pertanian di Indonesia demikian majunya dalam hal penggunaan teknologi pertanian. Keadaan ini terlihat dari banyaknya pemakaian mesin-mesin pertanian, pupuk buatan, dan juga penanganan pasca panen. Di daerah Purbalingga saja sekarang ini sangat sulit dijumpai petani yang menggunakan bajak tradisional yang ditarik dengan hewan ternak, yang biasanya kerbau atau sapi. Nampaknya modernisasi pertanian begitu terasa di Purbalingga, meskipun belum seluruhnya karena dalam menangani panen (meskipun sudah menggunakan mesin) masih banyak menggunakan tenaga manusia, begitu pula dalam hal lainnya.


Mekanisasi pertanian tidak bisa dihindari karena memang semakin maju perkembangan teknologi, dan juga semakin sedikitnya tenaga kerja dibidang ini. Pemuda yang merupakan usia produktif tenaga kerja lebih banyak memilih pekerjaan selain bidang pertanian karena dipandang lebih "bergengsi" untuk bekerja disektor selain pertanian. Asumsi ini sebenarnya dapat diubah bila pemerintah dan masyarakat lebih mengembangkan industri pengolahan hasil bumi dan teknologi hasil pertanian lainnya. Penyerapan akan hasil panen akan lebih maksimal dan mendorong tenaga produktif (para pemuda) untuk lebih giat lagi memajukan pertanian yang ada. Selain itu kebijakan yang lebih pro-rakyat, dalam hal ini baik pemberdayaan SDM (petani dan penyuluh) maupun sarana dan prasarana pertanian, diharapkan dapat mengangkat kehidupan petani, sehingga kalangan muda tidak lagi melihat sektor pertanian dengan sebelah mata, akan tetapi berubah menjadi pandangan bahwa sektor tersebut menjajikan dikemudian hari.


Disamping itu, perlu adanya terobosan baru berupa wisata pertanian, yang dibuat paket wisata yang menarik dan menantang bagi pengunjung. Hal ini diharapkan, petani tidak hanya menggantungkan nasib dari hasil panen saja tetapi juga hal lainnya, berupa "fee" dari wisata tersebut.


Semoga tulisan ini memberikan ide yang lebih maju lagi dari semua pihak yang bersimpati pada pertanian kita, karena sejak dulu hingga sekarang, pelajaran disekolah-sekolah selalu memberikan informasi bahwa kita adalah bangsa Agaris-Maritim. Sudahkah kita memajukannya ?


 


 


 


 

Wednesday, 21 April 2010

Pasar “Badog” pusat makanan tradisional

Pasar “Badog” itulah nama sebuah pasar yang ada di sudut kota Purbalingga. Penyebutan nama “Badog” sebenarnya hanya istilah yang diberikan oleh para pembeli yang sebagian besar merupakan pembeli yang sekedar mampir, meskipun juga banyak juga pembeli tetap. Pasar ini bernama asli Pasar Bancar, karena berada diwilayah kelurahan Bancar, merupakan pasar tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga.


Adapun pemberian nama “Badog” oleh para pembeli, bahkan sekarang lebih terkenal nama “Badog” daripada nama aslinya, berasal dari banyaknya makanan kecil yang dijajakan. Sebagian besar makanan yang dijajakan merupakan makanan tradisional yang enak, bergizi, murah, dan beraneka ragam. Kata “Badog” tersebut berasal dari bahasa Jawa Banyumasan, meskipun sebenarnya agak kasar, bila menganut hierarki bahasa Jawa.


Jika ditilik dari arti , “Badog” memiliki arti makanan atau makan (“mbadog” = makan). Pasar yang merupakan jenis pasar harian ini, artinya setiap hari ada kegiatan jual beli, akan semakin ramai pada hari minggu. Pada hari minggu sebagian besar warga yang melakukan kegiatan olah raga pagi sering menyempatkan diri untuk mampir di pasar “Badog” untuk membeli makanan selepas melakukan aktifitas olah raga. Meskipun demikian tidak sedikit juga para pembeli yang memang sengaja datang dari rumah untuk sekedar jalan-jalan melihat keramaian pasar sambil mencari makanan kecil yang diinginkan.


Keramaian pasar “Badog” tidaklah lama, karena menjelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB, pembeli banyak berkurang, bahkan penjual pun sudah mulai menata barang dagangan yang tersisa untuk dibawa pulang kembali. Sehingga jika akan mencari makanan tradisional lebih baik datang ke sana sebelum jam 10.00 WIB, namun juga jangan terlalu pagi, karena pasar akan mulai ramai dan komplit makanan yang dijajakan sekitar pukul 06.00 WIB.


Pasar yang memiliki potensi wisata ini semoga lebih mendapat perhatian dari pemerintah setempat untuk lebih menata keadaan pasar agar lebih baik lagi. Keberadaan pasar tersebut sangat penting sebagai penggerak roda ekonomi rakyat, juga sebagai tempat pelestarian makanan tradisional, khususnya makanan tradisional Purbalingga


[slideshow]

Kya-Kya Mayong tempat santap yang mantap

Purbalingga juga memiliki pusat kuliner rakyat yang ada di Kya-Kya Mayong. Berbeda dengan pasar “Badog” yang letaknya disudut kota dan ramai di pagi hari, maka Kya-Kya Mayong terletak dipusat kota dan aktifitas dimulai sore hari sampai dengan malam/dini hari. Bila dilihat dari jenis makanan yang dijajakan juga lebih kompleks Kya-Kya Mayong. Kuliner yang ditawarkan cenderung makanan berat, sesuai dengan waktu aktifitas. Biasanya aktifitas sore hingga malam lebih banyak ditawarkan hidangan untuk makan malam.


Kya-Kya Mayong yang terletak dipusat kota, menempati suatu jalan yang kurang lebih panjangnya sekitar 500 meter di Jalan Wirasaba. Letak yang berada di tengah kota dan tepat berada didepan Gelora Mahesa Jenar, yang sering digunakan untuk suatu pameran atau pertunjukkan, menjadikan Kya-Kya Mayong terlihat lebih ramai dibanding pasar “Badog”, disamping waktu aktifitas yang lebih lama.


Meskipun diramaikan dengan pedagang makanan dimalam hari, namun dipagi hari keadaan sudah kembali rapi, sedangkan kebersihan memang sudah terjaga dengan sendirinya oleh pengunjung dan penjual makanan yang ada. Kerapian dan kebersihan di kawasan ini memang jadi kunci tersendiri dalam menarik pembeli.


[gallery columns="2"]

Sunday, 18 April 2010

Alun-Alun Purbalingga

Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, khususnya di Jawa, yang memegang konsep "Kiblat Papat Lima Pancer" dalam tata kota. Maksud Kiblat Papat, atau Kiblat empat adalah bahwa pusat kota biasanya terdiri dari pusat ibadah (sebelah Barat), pemerintahan (sebelah selatan), pasar/perekonomian (sebelah timur), dan pertahanan/keprajuritan (sebelah utara), sedangkan Lima Pancer adalah alun-alun/lapangan yang berada ditengah sebagai pusat tempat berkumpul. Konsep ini banyak dianut oleh sebagian besar kota di Indonessia, khususnya di Jawa, meskipun tidak kaku, artinya kadang posisi saling bertukar, kecuali alun-alun dan pusat ibadah, sedang bagian pertahanan/keprajuritan untuk sekarang ini terganti oleh Lembaga Pemasyarakatan.


Di Purbalingga, yang juga menganut konsep Kiblat Papat Lima Pancer ini, menempatkan pusat pemerintahan di sebelah Utara, perekonomian/pertokoan di sebelah selatan, dan Lembaga Pemasyarakatan di sebelah timur. Alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan public area, benar berfungsi sebagai mana adanya. Hal ini terlihat dari ramainya warga yang berwisata murah meriah disana.


Keramaian alun-alun Purbalingga sangat terasa menjelang sore hingga malam hari, khususnya di akhir pekan. Pengunjung pun dimanjakan dengan berbagai kuliner khas Purbalingga, berbagai permainan anak-anak (karena sebagian besar pengunjung adalah keluarga yang membawa anak kecil). Demi kenyamanan-kebersihan pengunjung, pemerintah kabupaten Purbalingga, menerapkan aturan untuk setiap pedagang hanya bisa menjajakan dagangan di sore hingga malam, selain itu pembangunan toliet di sudut-sudut alun-alun. Kebersihan yang mengundang kenyamanan sangat dijaga oleh pemerintah juga warganya. Tempat sampah yang disediakan benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya.


Alun-alun sebagai public area tidaklah cukup mampu untuk menampung minat warga untuk berekreasi murah, mengingat luasnya yang terbatas. menghadapi keadaan yang demikian, pemerintah sudah menanggapi dengan membangun dan mengkondisikan dua tempat (untuk sementara ini, semoga dikemudian hari bertambah), yaitu halaman Stadion Goentoer Darjono, dan Taman Kota yang didirikan dibekas pasar kota. Public area merupakan sarana warga masyarakat berinteraksi satu dengan yang lain disamping memiliki keuntungan lain dari segi ekonomi, baik melalui perdagangan maupun wisata.


[gallery columns="2"]

 


 

Disqus Shortname

Comments system