Thursday, 29 July 2010

Studi Lapangan di Karangsambung-Kebumen

Laboratorium alam Karangsambung memang menarik untuk dikunjungi. Laboratorium alam yang dikelola oleh LIPI ini merupakan tempat studi tentang geologi. Koleksi yang komplit dari berbagai lapisan batuan terdapat disini, baik yang masih dialam maupun yang sudah dibawa untuk dipamerkan di museum geologinya.


Berlokasi di desa Karangsambung, kecamatan Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, dengan kondisi alam yang masih asri membuat pengunjung betah untuk menikmati wisata keilmuan, khususnya geologi. Keadaan itu pula yang penulis temui saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu. Namun jalan untuk mencapai laboratorium tersebut tidaklah mudah, apalagi jika berkunjung secara rombongan menggunakan bis ukuran besar. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan yang sempit, dengan disisi kanan dan kiri adalah sungai, areal persawahan, maupun tebing.


Penulis yang juga mengikuti kegiatan Studi Lapangan yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (MGMP IPS) Kabupaten Purbalingga, merasakan betapa sulitnya jalan yang dilalui, karena memang badan jalan yang sempit.Perjalanan yang tidak begitu jauh dari kota Kebumen, harus ditempuh lebih dari 45 menit.  Ibarat kata, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.


Laboratorium alam tersebut, selain sebagai tempat penelitian para ilmuwan geologi dan mahasiswa, juga sebagai tempat wisata menarik yang mengandung banyak hal yang bisa dipelajari. Selain itu, bagi para pendidik juga baik untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam mengajar, bahkan bisa pula membawa peserta didiknya langsung melihat dan mempelajari pembentukan bumi dilihat dari geologi. Berangkat dari banyak manfaat yang diambil itulah para guru yang tergabung dalam MGMP IPS Kabupaten Purbalingga mengadakan Studi Lapangan ke Laboratorium Alam Karangsambung.


[slideshow]


 


 


 

Wednesday, 19 May 2010

Pertanian Tradisional, Modern, dan Pemuda

Dewasa ini pertanian di Indonesia demikian majunya dalam hal penggunaan teknologi pertanian. Keadaan ini terlihat dari banyaknya pemakaian mesin-mesin pertanian, pupuk buatan, dan juga penanganan pasca panen. Di daerah Purbalingga saja sekarang ini sangat sulit dijumpai petani yang menggunakan bajak tradisional yang ditarik dengan hewan ternak, yang biasanya kerbau atau sapi. Nampaknya modernisasi pertanian begitu terasa di Purbalingga, meskipun belum seluruhnya karena dalam menangani panen (meskipun sudah menggunakan mesin) masih banyak menggunakan tenaga manusia, begitu pula dalam hal lainnya.


Mekanisasi pertanian tidak bisa dihindari karena memang semakin maju perkembangan teknologi, dan juga semakin sedikitnya tenaga kerja dibidang ini. Pemuda yang merupakan usia produktif tenaga kerja lebih banyak memilih pekerjaan selain bidang pertanian karena dipandang lebih "bergengsi" untuk bekerja disektor selain pertanian. Asumsi ini sebenarnya dapat diubah bila pemerintah dan masyarakat lebih mengembangkan industri pengolahan hasil bumi dan teknologi hasil pertanian lainnya. Penyerapan akan hasil panen akan lebih maksimal dan mendorong tenaga produktif (para pemuda) untuk lebih giat lagi memajukan pertanian yang ada. Selain itu kebijakan yang lebih pro-rakyat, dalam hal ini baik pemberdayaan SDM (petani dan penyuluh) maupun sarana dan prasarana pertanian, diharapkan dapat mengangkat kehidupan petani, sehingga kalangan muda tidak lagi melihat sektor pertanian dengan sebelah mata, akan tetapi berubah menjadi pandangan bahwa sektor tersebut menjajikan dikemudian hari.


Disamping itu, perlu adanya terobosan baru berupa wisata pertanian, yang dibuat paket wisata yang menarik dan menantang bagi pengunjung. Hal ini diharapkan, petani tidak hanya menggantungkan nasib dari hasil panen saja tetapi juga hal lainnya, berupa "fee" dari wisata tersebut.


Semoga tulisan ini memberikan ide yang lebih maju lagi dari semua pihak yang bersimpati pada pertanian kita, karena sejak dulu hingga sekarang, pelajaran disekolah-sekolah selalu memberikan informasi bahwa kita adalah bangsa Agaris-Maritim. Sudahkah kita memajukannya ?


 


 


 


 

Wednesday, 21 April 2010

Pasar “Badog” pusat makanan tradisional

Pasar “Badog” itulah nama sebuah pasar yang ada di sudut kota Purbalingga. Penyebutan nama “Badog” sebenarnya hanya istilah yang diberikan oleh para pembeli yang sebagian besar merupakan pembeli yang sekedar mampir, meskipun juga banyak juga pembeli tetap. Pasar ini bernama asli Pasar Bancar, karena berada diwilayah kelurahan Bancar, merupakan pasar tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga.


Adapun pemberian nama “Badog” oleh para pembeli, bahkan sekarang lebih terkenal nama “Badog” daripada nama aslinya, berasal dari banyaknya makanan kecil yang dijajakan. Sebagian besar makanan yang dijajakan merupakan makanan tradisional yang enak, bergizi, murah, dan beraneka ragam. Kata “Badog” tersebut berasal dari bahasa Jawa Banyumasan, meskipun sebenarnya agak kasar, bila menganut hierarki bahasa Jawa.


Jika ditilik dari arti , “Badog” memiliki arti makanan atau makan (“mbadog” = makan). Pasar yang merupakan jenis pasar harian ini, artinya setiap hari ada kegiatan jual beli, akan semakin ramai pada hari minggu. Pada hari minggu sebagian besar warga yang melakukan kegiatan olah raga pagi sering menyempatkan diri untuk mampir di pasar “Badog” untuk membeli makanan selepas melakukan aktifitas olah raga. Meskipun demikian tidak sedikit juga para pembeli yang memang sengaja datang dari rumah untuk sekedar jalan-jalan melihat keramaian pasar sambil mencari makanan kecil yang diinginkan.


Keramaian pasar “Badog” tidaklah lama, karena menjelang siang, sekitar pukul 10.00 WIB, pembeli banyak berkurang, bahkan penjual pun sudah mulai menata barang dagangan yang tersisa untuk dibawa pulang kembali. Sehingga jika akan mencari makanan tradisional lebih baik datang ke sana sebelum jam 10.00 WIB, namun juga jangan terlalu pagi, karena pasar akan mulai ramai dan komplit makanan yang dijajakan sekitar pukul 06.00 WIB.


Pasar yang memiliki potensi wisata ini semoga lebih mendapat perhatian dari pemerintah setempat untuk lebih menata keadaan pasar agar lebih baik lagi. Keberadaan pasar tersebut sangat penting sebagai penggerak roda ekonomi rakyat, juga sebagai tempat pelestarian makanan tradisional, khususnya makanan tradisional Purbalingga


[slideshow]

Disqus Shortname

Comments system