Tuesday, 30 March 2021

Purbalingga Mempertahankan Kemerdekaan (5): Agresi Militer Belanda I di Wilayah Purbalingga

Perjanjian Linggajati yang mengharuskan Belanda harus segera angkat kaki dari wilayah de facto Republik Indonesia paling lambat 1 Januari1949 mendapat reaksi protes dan tentangan di negeri Belanda.Tanggapan serupa juga juga terjadi pada pihak Republik Indonesia saat menanggapi point tentang gendarmerie bersama. Gendarmerie adalah pemeliharaan perdamaian dan ketertiban bersama dengan pasukan Belanda dan Republik Indonesia sebagai inti, namun dengan jumlah yang diperkecil bahkan jika memungkinkan pasukan Republik Indonesia diperkecil jumlahnya atau dihilangkan.

Perbedaan-perbedaan tersebut dengan ketidakpuasan dikedua belah pihak menjadikan Belanda yang masih merasa "memiliki" Hindia Belanda (sebutan Belanda bagi seluruh wilayah di nusantara) semakin berusaha menghapus Republik Indonesia dari peta dunia. Belanda mempunyai keyakinan bahwa tokoh-tokoh yang menghendaki Indonesia lepas dari Belanda, berada di Republik Indonesia. Sementara dipihak Republik Indonesia keyakinan merdeka 100% cukup besar dan semua perundingan harus didasari dengan hal itu.

Serbuan Belanda ke Purbalingga melewati jalur Gunung Slamet
Sumber: https://www.nationaalarchief.nl/onderzoeken/fotocollectie/sfa%3Acol1%3Adat111540 



Perbedaan ini kemudian memicu terjadinya Agresi Militer Belanda I yang terjadi pada 21 Juli 1947. Agresi yang bersandikan "Operatie Product" ini ditujukan pada daerah-daerah penghasil pangan dan perkebunan terlebih dahulu dan bertahap menguasai Yogyakarta yang merupakan ibukota Republik Indonesia. 

Agresi Belanda I diawali dari penerobosan Bandung Timur dan Selatan yang saat itu dipertahankan oleh berbaagai Batalyon baik dari Divisi I/Siliwangi dan Divisi II/Sunan Gunung Jati (wilayah Cirebon, Banyumas, dan Pekalongan). Penerobosan juga diikuti dengan serangan lambung dari pantura.

Wilayah Banyumas saat itu kekuatannya banyak dikirim ke fornt Bandung Timur dan Selatan bahkan hingga Cikampek. Purbalingga ketika itu hanya dipertahankan oleh satu kompi Batalyon III/Batalyon Singgih, satu Kompi ALRI, satu kompi CPM, dan satu kompi Tentara Pelajar serta pasukan pelajar IMAM.

Pasukan banyak dikirim juga untuk menghadang Belanda di Bumiayu dan Ajibarang, namun perkiraan meleset karena Belanda menyerang lewat jalur Tegal-Guci-Pulosari-Belik- Bobotsari dan jalur Pemalang-Randudongkal-Belik-Bobotsari. Belanda menguasai Bobotsari pada 30 Juli 1947 sore hari dan menguasai Purbalingga pada 31 Juli 1947.

Iring-iringan kolone Belanda menyerbu wilayah Purbalingga dari jalur Gunung Slamet
Sumber: https://www.nationaalarchief.nl/onderzoeken/fotocollectie/sfa%3Acol1%3Adat86090



Monday, 22 March 2021

Purbalingga Mempertahankan Kemerdekaan (4): Batalyon Friesland-Belanda yang Menduduki Purbalingga

 Frisie merupakan sebutan bagi salah satu propinsi di Belanda. Kata ini juga masih terdapat pada salah satu merk susu pabrikan. Ya. Susu Bendera. Ketika Perang Dunia II berakhir dan status quo akan dikembalikan ketika sebelum perang dunia terjadi, maka Belanda berusaha merekrut pemuda-pemuda untuk dijadikan wajib militer dan dikirim ke Hindia Belanda (Indonesia). Salah satunya para pemuda dari Friesland.

Bendera Batalyon Friesland di Cimahi yang akan bergerak ke Jawa Tengah
Bendera Batalyon Friesland ketika masih di Cimahi dan akan bergerak ke Jawa Tengah
 Sumber: https://www.nationaalarchief.nl/onderzoeken/fotocollectie/035eef9b-f86f-6102-27d2-95d3dddde633


Status quo ini lah yang menjadikan perdebatan antara pihak Indonesia dengan Belanda. Hal ini dapat dimengerti karena jika merunut status tersebut, sebelum Perang Dunia II maka Hindia Belanda (Indonesia) merupakan bagian dari Belanda. Kondisi ini tentu sangat tidak menguntungkan Indonesia karena selepas Jepang menyerah, Indonesia sudah berhasil memproklamirkan kemerdekaan sebelum Tentara Aliansi/Sekutu datang dan menduduki Indonesia sebagai pengganti Jepang. 
Perbedaan akan pandangan tersebut kemudian berujung pada Perjanjian Linggajati dan terus diikuti dengan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 hingga perseteruan yang silih berganti dengan perundingan. 

Saturday, 9 January 2021

Purbalingga Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (3): Perlawanan Divisi Siliwangi dari Serangan Udara Belanda

Monumen Siliwangi di desa Pepedan, Karangmoncol, Purbalingga
Sumber: Koleksi Pribadi

 

Agresi Militer Belanda I yang diawali pada 21 Juli 1947 juga menjadikan Purbalingga sebagai target.  Serbuan ini kemudian diakhiri dengan perjanjian Renville yang banyak merugikan pihak RI karena adanya "garis Van Mook" yang digunakan sebagai batas demarkasi daerah "milik Belanda" dan daerah milik RI. Garis tersebut sebenarnya hanya menghubungkan posisi-posisi pasukan Belanda yang berhasil menduduki kota-kota, namun kawasan pedesaan masih dikuasai RI.  Berdasarkan perjanjian Renville itulah, Purbalingga hingga ke Jawa Barat dikuasai Belanda, sehingga semua Aparat RI baik sipil maupun militer harus keluar dari daerah pendudukan Belanda. Singkatnya terjadilah perpindahan massal. 

Divisi Siliwangi yang berada di Jawa Barat juga harus masuk ke wilayah RI. Salah satu jalur yang digunakan adalah Kertanegara-Rembang-Banjarnegara hingga terus ke Yogya dan Solo. Perlu diketahui Banjarnegara masih termasuk wilayah RI, meskipun sering mendapat serangan udara dari Belanda. 

Saturday, 2 January 2021

Purbalingga Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (2): Ketika Purbalingga memiliki Dua Bupati

Perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaan mengalami hambatan dan tantangan. Proklamasi 17 Agustus 1945 disusul dengan perjanjian Linggajati pada 1947 menunjukkan kemajuan diplomasi Indonesia, meskipun dalam kesepakatan hanya diakui secara "de facto" atas Jawa, Sumatra, dan Madura, serta tentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (terdiri dari RI dan beberapa negara bagian serta daerah otonom) untuk selanjutnya membentuk Uni Indonesia Belanda. 

Kesepakatan yang terakhir kemudian menimbulkan perbedaan penafsiran antara pihak Indonesia dan Belanda. Perbedaan tersebut kemudian meruncing sehingga Belanda secara sepihak menyatakan tidak terikat lagi dengan Linggajati. Hal ini selanjutnya diteruskan dengan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 atau yang dikenal dengan "Clash I". 

Tuesday, 15 December 2020

Purbalingga Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (1) : Markas Wherkreise I di Desa Makam, Kec Rembang

 

Tentara NICA (Dok. Tirto)


Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sejatinya tidak langsung diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia hingga pelosok desa. Keterbatasan sarana prasarana komunikasi dan informasi menjadi hambatan utama. Hal ini kemudian ditambah dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang juga terbatasnya. Keterbatasan dalam SDM diantaranya kemampuan baca tulis, penguasaan atas media, dan lainnya. Kondisi ini menjadikan informasi tentang kemerdekaan tidak sama dalam penerimaannya di setiap daerah. 

Saturday, 23 May 2020

Candi Sojiwan dan Reliefnya

Candi Sojiwan merupakan candi era Mataram Kuno/Hindu yang bernafaskan Buddha. Candi yang berlokasi di Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kab Klaten, Jawa Tengah, ini cukup unik. Salah satu keunikan berupa penyematan nama yaitu Sojiwan. Nama ini ditengarai berkaitan dengan isi dari Prasasti Rukam tentang sebuah sima di desa Rukam untuk Nini Haji Rakryan Sanjiwana. Nini haji diartikan sebagai nenek raja. Nenek tersebut bernama Rakryan Sanjiwana. Perkembangan waktu kata Sanjiwana berubah menjadi Sojiwan. 

Apabila dibandingkan dengan penamaan candilain, yang biasanya dihubungkan dengan lokasi berdiri, maka Candi Sojiwan langsung merujuk pada salah satu nama yang tertera pada prasasti. Apakah penamaan ini sengaja setelah penemuan dan diketahui isi prasasti atau kah nama tersebut sudah disematkan sebelum penemuan prasasti? Apabila penamaan dilakukan sebelum ditemukan dan diketahui isi prasasti, maka ingatan kolektif akan Rakaryan Sanjiwana sudah demikian hidup sejak lama, meskipun keterangan jelas tentang siapa beliau masih kabur sebelum ditemukannya prasasti.
Candi Sojiwan ini merupakan sebuah kompleks percandian dengan candi perwara dan stupa lepas yang kini sudah rusak. 

Wednesday, 20 November 2019

Geliat Bisnis Kopi di Purbalingga

Sejarah panjang Purbalingga sebagai penghasil kopi dalam jumlah besar diawali pada masa Kolonial. Kualitas kopi asli Purbalingga agaknya telah menarik bagi pemerintah Kolonial Belanda waktu itu untuk mengembangkan kopi di wilayah kaki Gunung Slamet. Potensi tersebut pada masa kini benar-benar dipahami oleh generasi milenial untuk lebih mengenalkan kopi Purbalingga ke publik secara lebih luas. 
Kemunculan berbagai kedai kopi yang lebih nyaman bagi anak muda menjadi konsep para pebisnis muda. Kebutuhan akan tempat yang nyaman untuk melepaskan lelah sambil tetap membicarakan potensi bisnis menjadi salah satu kriteria dalam pendirian kedai kopi milenial.
Festival tentang kopi juga tidak luput untuk dicermati. Tujuan festival selain sebagai promosi produk juga sebagai media bagi kaum milenial belajar bisnis. Bisnis kopi. Muda, berkarya, dan berdaya guna.

Monday, 18 November 2019

Strategi Investigasi Bangunan/Benda Cagar Budaya Indonesia sebagai Penanaman Pelestarian Cagar Budaya sejak dini

Strategi Investigasi Bangunan/Benda Cagar Budaya Indonesia sebagai Penanaman Pelestarian Cagar Budaya sejak dini

Judul ini mengacu pada usaha penanaman rasa melestarikan Cagar Budaya Indonesia melalui Pendidikan. Pendidikan memiliki fungsi manifest dan fungsi laten. Fungsi manifest merupakan fungsi yang diinginkan sedamg fungsi laten adalah fungsi yang tanpa sengaja muncul dan tidak diprediksi sebelumnya. Fungsi pendidikan selain berupaya mencerdaskan juga sebagai upaya pelestarian budaya. Upaya pelestarian budaya diantaranya adalah benda bersejarah dan benda atau bangunan cagar budaya.
Siswa sudah seharusnya dikenalkan dengan bangunan/benda bersejarah khususnya yang sudah menjadi Cagar Budaya.

Cagar budaya merupakan bangunan bersejarah yang memiliki makna dalam perjalanan sejarah bangsa. Keberadaan cagar budaya perlu untuk dilestarikan agar generasi penerus dapat mengetahui keberadaan sejarah bangsanya. Usaha pelestarian terhadap cagar budaya dapat ditanamkan melalui pendidikan. Salah satu fungsi pendidikan adalah mewariskan budaya bangsa, diantaranya cagar budaya.
Usaha menanamkan pelestarian Cagar Budaya Indonesia sejak dini dapat berupa tugas “Investigasi Benda/Bangunan Cagar Budaya Indonesia”. Kegiatan berupa sebuah proyek yang dikerjakan secara berkelompok dengan beberapa tahapan. 

Thursday, 31 October 2019

Menelusuri Sisa rel SDS di Purbalingga





Lokomotif milik SDS yang sedang berada di stasiun

SDS (Serajoedal Stoomtram Maschapiij) resmi beroperasi di Lembah Serayu yang wilayahnya setelah proposal ijinnya disetujui oleh pemerintah Kolonial. Pengoperasian SDS semakin meningkatkan mobilitas barang, jasa, dan manusia di daerah Banyumas Raya ditambah Wonosobo.

Sisa rel milik SDS Maschapiij dengan angka 95 yang menunjukkan pembuatan tahun 1895


Jembatan lori yang menghubungkan Klampok-Banjarnegara dengan Wirasaba-Purbalingga (dibangun SDS Maschapiij) dengan melintasi Sungai Serayu








Tanam Paksa dan Modernisasi di Purbalingga

Tanam Paksa atau Cultuur Stelsel (Sistem Tanam) merupakan suatu kebijakan yang berisi tentang kewajiban untuk menanam tanaman tertentu yang kemudian  hasilnya dijual kepada Pemerintah Kolonial dengan harga yang ditetapkan. Masa ini diterapkan mulai 1830, setelah Perang Jawa, sebutan Belanda bagi Perang Diponegoro, berakhir. Kebijakan yang memiliki dampak pada berbagai bidang ini yang juga diterapkan oleh Pemerintah Kolonial di Purbalingga. Purbalingga menjadi daerah kekuasaan Pemerintaj Kolonial akibat perjanjian yang dilakukan Kasunanan Surakarta yaitu ganti rugi kepada Pemerintah Kolonial yang telah membantu memadamkan perlawanan Diponegoro. Kebijakan yang dicetuskan oleh Van den Bosch ini telah memicu modernisasi di Purbalingga.

Van den Bosch

Purbalingga yang merupakan bagian dari Mancanegara Kilen, saat dikuasai Kasunanan Surakarta, kemudian dibentuk menjadi sebuah distrik atau kabupaten.Pelaksanaan Tanam Paksa di Purbalingga kemudian diikuti dengan penanaman tanaman wajib seperti kopi, nila, dan tebu. Pusat penanaman kopi berada di bagian utara Purbalingga, diantaranya daerah Karangreja, yang kemudian muncul istilah Kopi Santri yang cukup dikenal di daerah yang bersangkutan. Istilah tersebut merupakan sebutan bagi lidah lokal dari kata dalam bahasa Belanda yaitu Koffie Centrum. Adapun perkebunan Nila atau Indigo berada didaerah Kaligondang dan sekitarnya sehingga kemudian didirikan industri pengolahan nila. Pabrik pengolahan nila ini kemudian mengalami kebangkrutan sehingga bangunan dan tanah yang ada dibeli oleh Yayasan Zending, untuk kemudian hari bangunan bekas pabrik tersebut dijadikan Rumah Sakit Umum yang dikenal sebagai Rumah Sakit Trenggiling karena di daerah Trenggiling, Kalikajar-Kaligondang. Kini seiring dengan berpindahnya Rumah Sakit Umum maka bangunan yang ada digunakan oleh Dinas Perhubungan. Tanaman tebu juga memberi dampak yang salah satunya berupa industri gula, yaitu ada 2 pabrik gula di Purbalingga yaitu Pabrik Gula Bojong dan Pabrik Gula Kalimanah.

Wednesday, 30 October 2019

Menulis: Jembatan untuk Mengingat dan Mempengaruhi

Menulis merupakan salah satu upaya untuk memperkuat ingatan. Ya ingatan. Memori manusia penuh dengan rekaman kenangan yang tentu mudah sekali hilang atau terlupa. Menulis tidak mudah, namun juga sulit. Mudah karena tinggal tulis apa yang ingin ditulis. Sulit karena mengawali sesuatu bukanlah hal bisa dilakukan sekali jalan.
Menulis tentu akan sangat bagus apabila diiringi dengan kemampuan membaca yang mumpuni. Kemampuan baca dari berbagai sumber sehingga mampu memberikan sudut pandang yang berbeda dalam sebuah tulisan. Selain daripada itu gaya penulisan juga akan semakin berkembang.
Gaya tulis dapat berupa tulisan populer yang sederhana namun sarat informasi, namun ada juga yang ilmiah. Pemilihan kata juga berpengaruh dalam gaya menulis.
Tulisan yang dibuat juga berpengaruh pada konsumen pembaca. Pembaca yang akan dibidik. Kenyamanan pembaca sangat diutamakan, meskipun banyak juga penulis yang memaksakan pembaca dengan gayanya. Pembaca dengan keingintahuan tinggi pasti akan mengikuti gaya sang penulis apapun itu. Inilah yang kemudian disebut penulis telah mampu mempengaruhi pembaca bahkan memiliki komunitas atau segmen pembaca tersendiri.

Monday, 6 May 2019

Indonesia Virtual Coordinator Training Jateng-DIY Batch 4


SEAMEO-Seamolec kembali mengembangkan program untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru-guru di Indonesia, kali ini adalah guru-guru di wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Program bertajuk Virtual Coordinator Training Jateng-DIY Batch 4 sudah digelar. Bagi guru-guru diwilayah tersebut, mari bersemangat untuk mengikutinya.


Friday, 27 October 2017

Jurus Jitu menjadi Guru Cerdas Literasi Anti Hoax



A.   Pendahuluan
Peningkatan budaya literasi terasa dengan ditandai kemampuan mengakses informasi. Informasi yang berasal dari berbagai sumber dapat dikonsumsi secara luas. Keadaan ini merupakan hal yang menggembirakan, akan tetapi arus informasi yang begitu deras rawan bercampur dengan informasi palsu. Informasi palsu inilah yang sering disebut dengan hoax. Hoax berasal dari ungkapan bahasa Inggris yang berarti berita palsu dan cenderung menghasut. Peredaran hoax sangat berbahaya apabila konsumen informasi menerima dengan begitu saja yang didapatnya.
Menurut VOA, Indonesia saat ini rawan sekali dengan fake news atau hoax (https://www.voanews.com/a/fake-news-indonesia/4038139.html diakses 22 oktober 2017). Kerawanan ini diperkuat dengan kekuranghati-hatian masyarakat Indonesia terhadap kebenaran dan asal-usul suatu informasi. Budaya berbagi yang memang baik dan dimiliki bangsa Indonesia ternyata dijadikan celah oleh pembuat hoax. Sikap mudah untuk membagi informasi tanpa seleksi terlebih dahulu menjadikan pembuat hoax mudah mencapai tujuannya yaitu menciptakan keresahan dalam masyarakat.
Informasi palsu atau hoax sangat membahayakan. Pertama, berusaha membunuh karakter karena bukan kritik melainkan lebih dimunculkan manipulasi. Kedua, informasi yang disajikan lebih banyak unsur kebohongan sehingga konsumen tertipu. Ketiga, membuang waktu dan dana karena ternyata informasi yang dikonsumsi, bahkan dibagi, ternyata informasi palsu atau hoax. Keempat, informasi palsu atau hoax membuat resah masyarakat sehingga mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Antara menyebutkan bahwa melawan hoax dapat dilakukan dengan sebuah gerakan sosial (http://www.antaranews.com/berita/656670/lawan-hoax-dengan-gerakan-sosial, diakses 22 Oktober 2017) selain dari patroli cyber oleh POLRI. Gerakan sosial dapat berwujud cerdas berliterasi dan edukasi. Salah satu penggiat cerdas literasi dan edukasi adalah guru. Guru dituntut untuk menjadi pribadi cerdas literasi. Guru cerdas literasi akan dapat mencegah konsumsi hoax oleh masyarakat, disamping sosialisasi oleh pemerintah. Pertimbangan guru sebagai salah satu komponen pencegahan dan penanggulangan penyebaran hoax karena beberapa pertimbangan yaitu:
1.    Jumlah guru banyak dan tersebar
Jumlah guru saat ini cukup banyak. Menurut catatan BPS jumlah guru tahun 2015 mencapai 1,6 juta orang lebih untuk tingkat SD saja (https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1810 diakses 22 Oktober 2017). Jumlah tersebut akan semakin banyak jika ditambah dengan guru ditingkat lebih tinggi. Adapun persebaran guru sangat luas karena hampir disetiap desa terdapat sekolah apalagi ditambah dengan program pemerintah seperti program Guru Garis Depan (GGD) dan SM3T (Sarjana Mengajar pada daerah tertinggal terluar, dan terpencil) turut mewujudkan pemerataan pendidikan yang tentunya cerdas literasi.
Persebaran demikian memberikan keuntungan  untuk pembelajaran masyarakat daerah yang bersangkutan. Guru dapat dijadikan agen-agen perubahan. Perubahan diawali dengan memberikan keteladanan dalam cerdas literasi kepada masyarakat disekitarnya. Dengan demikian masyarakat sekitar mendapatkan pengetahuan sekaligus ketrampilan dalam kegiatan cerdas literasi.
2.    Tingkat kepercayaan publik pada guru cukup tinggi
Guru hingga kini masih dijadikan sebagai sosok rujukan oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya posisi strategis dalam masyarakat yang dipegang oleh guru. Posisi tersebut antara lain sebagai tokoh masyarakat, pemimpin warga dalam suatu rukun tetangga atau rukun warga, hingga dalam urusan keagamaan.
Pendapat, sikap, dan pandangan guru dalam menilai suatu informasi sering dijadikan acuan oleh masyrakat. Lebih dari itu, persoalan-persoalan yang dihadapi warga masyarakat juga dimintakan penyelesaiannya berdasarkan pendapat guru yang ada. Guru dianggap sebagai pihak yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas dalam masyarakat. Oleh karena itu guru dituntut mampu menilai suatu persoalan atau informasi yang beredar, sehingga kebenaran informasi dapat diberikan kepada masyarakat dan menghindarkan dari pengaruh informasi palsu atau hoax.
3.    Guru adalah sosok yang dipercaya oleh murid
Pemutusan mata rantai penyebaran hoax adalah melalui murid. Murid merupakan generasi penerus bangsa, sehingga perlu ditanamkan sejak dini sikap kritis informasi. Penelusuran asal-usul sumber informasi, manfaat informasi bagi dirinya dan lingkungan sekitar, serta upaya membagi informasi bermanfaat dan terpercaya kepada sesama, harus dibiasakan dalam diri murid. Seorang guru cerdas literasi akan menularkan kemampuannya kepada murid berupa kemampuan menyaring informasi. Kepercayaan tinggi murid terhadap gurunya dapat  dijaga oleh guru dengan memberikan bimbingan agar murid cerdas dalam berliterasi.
4.    Guru merupakan pribadi yang kuat
Guru memiliki kepribadian yang kuat. Ungkapan guru yang digugu dan ditiru secara tidak langsung membentuk kepribadian guru. Kepribadian kuat berupa sikap mental yang tidak mudah terpengaruh adalah sesuatu. Guru adalah seorang yang kritis. Sikap kritis guru tidak lain agar informasi yang disampaikan kepada murid adalah informasi yang benar dan dipercaya. Tingkat kebenaran dan kepercayaan informasi dari guru akan selalu ditanamkan kuat oleh murid dalam sanubarinya.
Guru hanya akan memberikan informasi yang sudah valid dan memiliki tingkat kepercayaan tinggi kepada muridnya. Hal ini penting karena ketidakakuratan informasi akan merusak pemikiran murid atau minimal mengurangi tingkat kepercayaan murid kepada gurunya. Begitu penting kepercayaan murid kepada gurunya sehingga harus senantiasa dijaga dan dipupuk sedemikian rupa.

Kemampuan cerdas literasi dari guru sudah menjadi suatu tuntutan tersendiri. Guru cerdas literasi akan mendapat tempat tersendiri didalam hati muridnya. Selain itu, guru cerdas literasi akan membawa lingkungan sekitarnya juga turut maju.  Apabila dilihat dari jangka panjang maka guru cerdas literasi akan menghasilkan generasi cerdas literasi yang secara tidak langsung meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.

B.   Pembahasan
Peran yang begitu strategis dari guru dalam gerakan sosial melawan informasi palsu atau hoax harus diikuti dengan peningkatan kemampuan guru dalam berliterasi. Kebutuhan akan guru cerdas literasi sudah sangat mendesak. Guru harus melatih diri agar cerdas berliterasi. Upaya menjadi guru cerdas literasi setidaknya dilakukan dengan beberapa tahapan untuk kemudian harus dibiasakan dalam kesehariannya. Tahapan tersebut yaitu:
1.    Pemahaman informasi
Pembiasaan membaca dilakukan seksama dengan berusaha mendapatkan pemahaman yang utuh. Informasi yang begitu banyak dan beragam harus dibaca secara teliti dan dicari makna sesungguhnya. Makna yang dimaksud adalah makna secara tersurat dan tersirat. Tahapan awal ini mencegah dari pengaruh judul informasi ataupun kata kunci yang mencolok sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi pembacanya untuk disebarluaskan.
Pengetahuan akan makna sesungguhnya dari suatu informasi akan menghasilkan pemahaman yang menyeluruh terhadap informasi yang bersangkutan.
2.    Penelusuran sumber informasi
Penelusuran sumber informasi sangat diperlukan untuk mendapatkan keterangan tentang kesahihan informasi yang bersangkutan. Penyebarluasan informasi seringkali menggunakan media sosial dengan tanpa disertai sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Keadaan ini sangat berbahaya karena konsumen hanya membaca tanpa mengecek sumber aslinya. Oleh karena itu kebiasaan hanya membaca tanpa penelusuran sumber informasi harus dihilangkan.
Penelusuran informasi hingga sampai kepada sumber asli informasi akan memperkuat keyakinan terhadap pertanggungjawaban sumber informasi. Sumber informasi yang baik akan berani mempertanggungjawabkan informasi yang ditulis dan disebarkan olehnya. 
3.    Pembandingan antar sumber informasi
Tahap selanjutnya adalah melakukan pembandingan antar sumber informasi dengan sumber informasi lain. Tahap ini berfungsi untuk melakukan pengecekan tingkat kepercayaan sumber informasi. Sumber informasi akan bandingkan dengan sumber informasi lain. Dengan demikian akan didapatkan suatu pandangan terhadap sumber informasi yang dimaksud. Pandangan berupa sumber informasi dipercaya, kurang terpercaya, atau bahkan penyebar informasi palsu akan didapatkan melalui tahapan ini.
Sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai pembanding akan lebih baik berasal dari sumber kuat dalam hal pertanggungjawaban. Sumber-sumber tersebut setidaknya berasal dari sumber asli milik pemerintah atau negara. Pemilihan sumber yang berasal dari negara karena institusi milik negara mempunyai tanggungjawab besar terhadap kelangsungan negara beserta rakyatnya. Keadaan berbeda tentunya apabila suatu sumber informasi berasal dari pihak swasta, meskipun tidak menutup tentang rasa kebangsaan dan profesionalitas dari sumber informasi yang bersangkutan.
4.    Penyusunan analisa
Pemahaman isi, penelusuran sumber, dan pembandingan antar sumber informasi dengan sumber informasi lain, akan menuntun pada tahapan penyusunan analisa. Penyusunan analisa akan menghasilkan kesimpulan terhadap informasi sekaligus sumber informasi tersebut. Analisa informasi setidaknya akan diperoleh pengetahuan sebagai berikut:
a.    Informasi yang diperoleh memiliki kesesuaian antara judul, kata kunci, isi tersurat, dan isi tersirat.
b.    Informasi yang didapatkan sesuai dari sumber aslinya, informasi sudah diubah dari sumber asli, atau bahkan informasi tidak berasal dari sumber asli informasi.
c.    Informasi memiliki kesesuaian dalam hal isi dan sumber informasi namun sumber informasi jika dibandingkan dengan sumber informasi lain yang lebih kuat tingkat kepercayaannya seperti sumber dari pemerintah/negara akan bertolak belakang, saling menguatkan, atau saling melengkapi.
d.    Sumber informasi berikut informasi yang disajikan setelah dilakukan pembandingan dengan sumber informasi lain yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi dapat diketahui tentang kategori sumber informasi. Kategori yang dimaksud adalah sumber informasi yang dapat dipercaya, sumber informasi yang kurang terpercaya, dan sumber informasi yang hanya menyebarkan informasi palsu atau hoax.
5.    Penyebaran informasi
Tahap terakhir adalah penyebaran informasi. Tahap ini dilakukan setelah semua tahap telah dilewati dengan baik. Penyebaran informasi kepada masyarakat luas setidaknya melalui beberapa pertimbangan yaitu:
a.    Kandungan isi informasi penting.
b.    Informasi yang didapatkan benar-benar berasal dari sumber informasi yang ada.
c.    Sumber penyedia informasi dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan setelah dibandingkan dengan sumber informasi lain.
d.     Informasi yang ada tidak akan menimbulkan keresahan apabila disebarluaskan.
e.    Informasi memiliki asas keberimbangan dalam arti dari sisi positif dan negatif.
f.     Penyebaran informasi dilakukan dengan bahasa yang santun dan himbauan untuk meneliti kembali kebenran dan tingkat kepercayaan informasi.

Tahapan menjadi cerdas literasi setelah dikuasai oleh guru, maka seharusnya menyebarluaskan ke pihak lain, terutama sesama guru, masyarakat, dan murid. Berdasarkan pengalaman maka setidaknya kepada sesama guru dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu:
1.    Disampaikan secara informal dalam setiap berkomunikasi dengan guru lain.
2.    Disampaikan secara formal melalui acara-acara tertentu, misalnya pertemuan antar guru, rapat  disekolah, dan lainnya.
3.    Melalui komunitas dalam media sosial yang beranggotakan guru.
Adapun kepada masyarakat luas dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.    Dilakukan saat ada kegiatan kerja bakti, berbincang-bincang dengan tetangga atau warga sekitar, atau kegiatan sehari-hari lainnya.
2.    Melalui rapat antar warga secara formal.
3.    Membuat karya tulis yang disebarluaskan melalui media massa, media sosial, media internet, dan sejenisnya.
Sosialisasi cerdas literasi kepada murid dapat dilakukan oleh guru melalui cara berikut:
1.    Melakukan pendampingan penggunaan internet saat pembelajaran, khususnya ketika pencarian informasi.
2.    Selalu memberikan himbuan, anjuran, dan petunjuk dalam pencarian informasi baik yang terkait pembelajaran maupun yang tidak terkait pembelajaran agar mengutamakan sumber terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
3.    Menyediakan kegiatan khusus tentang sosialisasi cerdas literasi untuk membekali murid dalam mengakses informasi.
4.    Memberikan penugasan tentang bahaya informasi palsu atau hoax, cerdas berliterasi, atau tema-tema sejenisnya.

Guru cerdas literasi dapat memberikan penyebarluasan kemampuan cerdas literasi kepada lingkungan sekitar. Komponen lingkungan sekitar guru meliputi sesama guru, masyarakat, dan murid. Cerdas literasi apabila telah dipahami dan dilakukan oleh semua pihak maka akan terjadi peningkatan kemampuan dalam menyaring informasi terlebih informasi palsu atau hoax. Guru cerdas literasi memiliki peran dalam hal ini.

C.   Penutup
Perkembangan informasi yang sangat cepat dan luas memberikan nilai positif bagi kehidupan. Keberadaan sisi positif ternyata juga diikuti sisi negatif. Keduanya seperti keping uang logam. Sisi positif berupa meningkatnya kemampuan prediksi, berbagai kegiatan, dan berkembangnya wawasan serta pengetahuan. Sisi negatif diantaranya penyebaran informasi palsu atau hoax yang cepat pula.
Kenyataan tentang adanya informasi palsu atau hoax sangat meresahkan masyarakat, bahkan dapat merusak sendi-sendi bangsa dan negara.  Salah satu upaya untuk mengatasi penyebaran informasi palsu atau hoax adalah melalui guru cerdas literasi. Keterlibatan guru dalam gerakan sosial anti hoax adalah selain tuntutan moral guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa juga karena peran strategis yang dimiliki guru baik dimasyarakat atau pun dunia pendidikan. Kemampuan guru dalam cerdas berliterasi dilakukan dengan empat tahapan:
1.    Pemahaman informasi
2.    Penelusuran sumber informasi
3.    Pembandingan antar sumber informasi
4.    Penyusunan analisa terhadap informasi beserta sumbernya
5.    Penyebaran informasi dengan bijak dan santun
Guru cerdas literasi harus dapat menyebarluaskan kemampuan cerdas literasi yang dimiliki kepada lingkungan sekitarnya. Tindakan tersebut tentu akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi sehingga dapat meminimalkan konsumsi informasi palsu atau hoax. Peningkatan kemampuan cerdas literasi dari masyarakat tentu berdampak positif bagi kehidupan masyarakat yang bersangkutan dan lebih jauh bagi bangsa dan negara.

D.   Daftar Pustaka
a.    ‘Fake News’ Remains a Problem in Indonesia, https://www.voanews.com/a/fake-news-indonesia/4038139.html diakses 22 Oktober 2017.
b.    Jumlah Sekolah, Guru, dan Murid Sekolah Dasar (SD) di Bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Menurut Provinsi tahun ajaran 2011/2012-2014/2015, https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1810 diakses 22 Oktober 2017.
c.    Bahaya Hoax Bisa Berujung Pada Pembunuhan Karakter, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170108125705-20-184805/bahaya-hoax-bisa-berujung-pada-pembunuhan-karakter/ , diakses 24 Oktober 2017.
d.    Menkopolhukam Ingatkan Bahaya Hoax Ditunggangi Kepentingan Politik, http://rri.co.id/post/berita/437125/nasional/menkopolhukam_ingatkan_bahaya_hoax_ditunggangi_kepentingan_politik.html , diakses 24 Oktober 2017.
e.    4 Bahaya mengintai dari kabar hoax di dunia maya,  https://www.merdeka.com/teknologi/4-bahaya-mengintai-dari-kabar-hoax-di-dunia-maya/hoax-penipuan-publik.html, diakses 24 Oktober 2017.
f.     Ini Upaya Kominfo dan Polri Cegah Berita Hoax, https://kominfo.go.id/content/detail/11082/ini-upaya-kominfo-dan-polri-cegah-berita-hoax/0/sorotan_media, diakses 24 Oktober 2017.  

Disqus Shortname

Comments system